Dokter spesialis penyakit dalam pernah bilang satu kalimat ke gue yg susah dilupain.
"Pasien cuci darah termuda gue bulan ini umur 24. Ga merokok, ga minum alkohol, rajin futsal."
Gue tanya: terus kenapa bisa gagal ginjal?
Dia jelasin panjang. Tapi intinya satu hal.
Bukan soal dia punya penyakit bawaan. Tapi soal satu kebiasaan yg dianggap biasa dan dilakuin tiap hari selama bertahun-tahun.
Jarang minum air putih. Gantinya es kopi susu, boba, atau minuman berenergi tiap kali ngerasa haus atau capek kerja. Tiap hari.
Ini yg terjadi di dalam tubuh waktu lo konsisten dehidrasi kronis dan numpuk gula/kafein.
Kadar asam urat naik. Saringan ginjal (nefron) dipaksa kerja keras menyaring cairan kental penuh glukosa. Perlahan, sel penyaringnya mati satu per satu.
Bertahun-tahun. Diam-diam. Sampe suatu pagi badannya bengkak semua dan sesak napas.
Dokternya bilang: "Membiarkan tubuh dehidrasi kronis sambil terus minum manis itu efeknya ke ginjal setara lo masukin pasir ke mesin penyaring air setiap hari."
Kalimat itu yg bikin pasiennya baru ngeh. Selama ini dia pikir risikonya cuma haus, lemes, atau paling banter anyang-anyangan.
Ternyata yg rusak duluan itu bukan cuma timbangan badan. Tapi organ vitalnya.
Yg bikin lebih berbahaya: gejalanya ga keliatan sampe fungsi ginjal sisa 15%.
Kreatinin darah naik itu ga bikin sakit perut. Penurunan fungsi ginjal stage 3 itu ga bikin lo pingsan. Kalo ga tes lab, ga bakal kerasa apa-apa.
Baru kerasa waktu racun di tubuh udah numpuk dan ginjal udah ga bisa ngasilin urin.
Tanda-tanda tubuh udah mulai kasih sinyal yg sering diabaikan:
Urin warnanya kuning pekat bahkan keruh. Kulit mendadak kering banget dan gatal tanpa sebab.
Pinggang belakang sering pegal bengkak. Gampang pegal padahal ga aktivitas berat.
Itu bukan "kurang renggangan biasa." Itu ginjal lo yang udah mulai kewalahan nyaring racun.
cc : pojokpakjiman
Teman-teman,
Mulai hari ini, saya masuk ke puncak perjalanan haji.
Insya Allah saya tidak akan posting sampai seluruh rangkaian haji selesai. Saya ingin menjaga hati, tenaga, dan fokus untuk ibadah, sekaligus mendampingi jamaah agar tetap sehat sampai kembali ke Tanah Air.
Untuk teman-teman yang kemarin menitipkan doa di postingan yang saya sematkan, insya Allah akan saya sempatkan baca satu per satu.
Semoga Allah mendengar semua doa yang baik, mengangkat semua beban, menyembuhkan yang sakit, menguatkan yang lelah, dan melapangkan jalan hidup kita semua.
Bismillah.
Jemaah sehat. Pulang sehat.
Take care yaa, teman-teman.
Saya akan merindukan teman-teman online semua.
Terkait kasus rame2 d grup wa.
Hikmah yang diambil, tolong Biasakan jangan bercandaan mesum, karena bercandaan tersebut akan menjadi kebiasaan yg dibawa terus menerus sampe dewasa.
Kalo ngacengan itu dikontrol.
Bukan ngacengan sak nggon2.
Otak kok isine kenta kentu
Teman-teman, ini profesi aku sama dr.Tirta jadi banyaak sekali.
Yang udah aku lihat, jadi Polisi, Jadi Guru, Jadi pegawai dishub, Ustadz, Tukang Cukur dan puluhan profesi lainnya.
Aku gak berhenti ketawa liat kolom Tagged di IGku.
Multiverse sesungguhnya.
Ada tanggung jawab yang datang untuk memperlihatkan seberapa luas pundakmu sebenarnya.
Tekanan sering terasa berat, dimana seolah hidup sedang meminta terlalu banyak.
Padahal justru karena langit tahu ada kapasitas besar yang dititipkan di dalam dirimu.
Mungkin hari ini kamu belum melihatnya. Mungkin kamu masih merasa goyah. Tapi belum sadar, bukan berarti tidak punya.
Pressure is privilege.
Sebab tidak semua orang dipercayai memikul hal yang besar. Tidak semua orang diberi ruang untuk bertumbuh lewat beban yang besar.
Dan Allah sudah lebih dulu menenangkan hati kita:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
QS. Al-Baqarah 2:286.
Tarik napas dalam. Tenangkan hati. Jalani pelan-pelan.
Kamu tidak dipilih untuk ini tanpa kemampuan.
Kamu Son Goku yang belum tau bisa jadi Super Saiya 1, 2, dan 3.
Apa pun yang kehidupan ini titipkan pekan ini, semoga hati teman-teman tetap lapang menjalaninya.
Kalau sedang bahagia, semoga bertahan lama. Kalau sedang lelah, semoga lekas menemukan kesegaran. Kalau sedang berjuang, semoga langkahnya.
Doa saya, semoga pekan ini ada kabar baik, ada urusan yang dimudahkan, ada hati yang dipulihkan, dan ada senyum yang kembali merekah.
-------------------------
NB : Kabar gembira untuk teman-teman di Bandung, saya akan kesana untuk menghadiri Stand Up shownya bang Radityadika. Akan berada di mall pasir kaliki. Semoga kita bisa bertemu yaa.
Bahagia bisa sampai ke IGD RSUD Aceh Tamiang.
Banyak cerita seru.
Ketegaran dan ketabahan warga aceh sungguh luar biasa. Senyum dan memberi semangat adalah hal terkecil yang bisa kami berikan.
Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya untuk teman2 nakes di RSUD. Mereka juga korban bencana tapi tidak ada sedikitpun niat meninggalkan pasien.
Rumah sakit sudah aktif namun jelas jauh dari pulih 100% mereka bekerja sepenuh hati tapi dengan segala keterbatasan fasilitas.
Saya mencoba merasakan kekurangan itu, misal kebutuhan akan komputer
Pasien sebanyak itu komputer hanya satu buah, sehingga pencatatan rekam medis untuk askep dan asmed bergantian, kembali menulis manual jika tidak sempat lalu menyalinnya kembali ke komputer.
Kebutuhan ambulans untuk rujuk ke medan atau banda aceh. Ini juga tidak ada.
Lalu jasa medis juga terkendala. Bagaimanapun mereka juga punya keluarga yang perlu dihidupi. Karena kira bicara jangka panjang.
Saya akan coba melakukan yang bisa saya lakukan untuk meringankan beban mereka. Koordinasi dengan beberapa pihak terkait.
Semangat terus dokter-dokter dan perawat-perawat di RSUD. Percayalah teman-teman semua sedang menabung pahala.
Bismillah.
Kami sampai di tanah yang baru saja diuji. Penuh dengan puing bekas rumah, gelondongan kayu, dan tenda-tenda pengungsi.
Penuh wajah lelah yang tetap memilih tersenyum. Banyak orang tua yang menahan nyeri, banyak anak yang mencari rasa aman saat bermain, dan banyak keluarga yang sedang berusaha berdiri lagi.
Kami datang untuk melayani. Periksa kesehatan, rawat luka, pemberian obat, dan duduk sebentar menemani hati yang sempat gentar karena tanah longsor dan banjir bandang.
Rasanya kami datang ingin memberi tapu ternyata kami yang pulang mendapat banyak hal dari mereka.
Tentang kesabaran, ketabahan, ketulusan dan keikhlasan.
Mohon doakan agar tim diberi keselamatan dan kekuatan, para penyintas diberi ketenangan, serta pemulihan berjalan lancar.
Semoga Allah membalas setiap kebaikanmu dengan berkah bagi keluarga.
“Iya, Pak.” Saya jelaskan risikonya satu per satu, termasuk kemungkinan ada bekas luka bakar di area sengatan. “Tapi dalam situasi seperti ini, risiko tidak melakukan apa pun jauh lebih besar daripada risiko tindakan.”
“Kalau gitu, baik, Dok. Saya setuju. Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuknya. Izinkan saya menemani di sebelahnya.”
Saya mengangguk.
Saya, Agus, Ella, dan suami berdiri mengelilingi pasien. Ibu juga setuju untuk kardioversi.
“Agus, suntik Miloz pelan-pelan ya.”
Saya pantau sebentar, lalu menekan tulang dadanya untuk memastikan pasien tertidur. Saya tekan tombol SYNC di mesin, atur kekuatan listrik 50 Joule.
Lalu saya mengambil dua pedal listrik dengan kedua tangan.
“Ella, minta gel.”
Ella menyerahkan gel ke dasar pedal. Saya meratakannya, mengoles-oles dengan menyatukan kedua pedal itu.
“CHARGING!”
Zziingg. Suara pedal mengisi daya, mirip Son Goku sebelum Kamehameha.
Saya tempel satu pedal di tulang dadanya, satu pedal di rusuk kirinya dekat ujung jantung.
Nit! Nit! Nit! Nit! Nit! Mesin siap menembak listrik.
Saya cek posisi badan dan jarak dengan bed pasien.
“I’m clear!”
Saya menoleh ke Agus yang memegang ambubag.
“You’re clear!”
Saya melihat ke Ella dan suaminya.
“Everybody clear?”
Ella dan Agus menjawab, “Clear!”
Monitor masih SVT. Saya tekan tombol tanpa ragu.
ZZAAAAPPPPP!!
Tubuh ibu menghentak liar. Suaminya menjerit kaget.
“Huaa..!!”
Saya meletakkan pedal ke tempatnya, lalu cek irama. Di monitor, masih SVT.
Suaminya menutup mulut dengan kepalan tangan, tapi kecemasannya tetap bocor dari matanya.
“Belum berhasil. Sekali lagi. Naikin jadi 100 J.”
Saya lihat Ella dan Agus. Mereka mengangguk.
Saya atur kekuatan listrik, lalu mengambil kembali dua pedal.
“Ella, gel.”
“CHARGING!”
Zzziiiiingg. Suara pedal mengisi daya lebih lama.
Saya tempel kedua pedal.
Nit! Nit! Nit!
Saya kembali cek jarak.
“I’m clear!”
Saya lihat Agus.
“You’re clear!”
Saya menoleh ke Ella dan suaminya yang panik.
“Everybody clear?”
Kali ini, lagi-lagi hanya Ella dan Agus yang menjawab, “Clear!”
Monitor masih SVT. Saya tekan lagi tombolnya.
ZZAAAAPPPPP!!
Tubuh ibu terlonjak kencang, kedua tangannya kejang. Suaminya menjerit.
Lalu terdengar perubahan suara dari monitor. Suara yang saya tunggu.
Nadi melambat.
Nit... Nit... Nit...
Saya menatap angka Heart Rate yang perlahan turun.
190... 175... 130... 105...
Lalu stabil di 95.
“Alhamdulillah, berhasil,” gumam saya, lega.
Wajah lega yang sama tampak pada Agus dan Ella. Agus tersenyum, ambubagnya tidak terpakai.
“Istrikuuu...” Suaminya menerobos saya dan Ella lalu memeluk pasien. “Maafiiin akuu... Aku nggak bakal bentak-bentakin kamu lagi.”
Air matanya membasahi pipi istrinya.
“Aku nggak kuat lihat kamu disengat listrik lagi.”
Saya melihat keduanya dengan hangat. Saya pegang bahu suaminya.
“Iya, Pak. Untung masih 200. Kalau 220, itu Ibu maunya nyamain PLN.”
Sambil menangis, sang suami tertawa. “Dokter bisa aja.”
Walau saya tahu, masih banyak kemungkinan penyebab SVT selain dibentak-bentak suami. Bisa karena kopi kebanyakan, bisa karena alkohol, bisa karena hipertiroid, bahkan bisa karena sindrom langka seperti Takotsubo atau WPW.
Tapi ya, saya ikut mendoakan. Semoga janji suaminya hari ini benar-benar ditepati seumur hidupnya.
“Agus, udah lepasin itu ambubagnya. Teleponin ICU, ada calon pasien yang mau masuk.”
Tidak ada rumah tangga yang terbebas dari masalah. Tapi percayalah, marah-marah dan bentak-bentak tidak akan pernah jadi solusi. Malah keduanya jadi penambah masalah.
Semoga seluruh suami istri bisa saling mengerti, sehingga bisa saling menjaga fisik dan mental pasangan masing-masing.
Suatu sore di IGD, seorang ibu muda usia 30-an datang bersama suaminya yang tampak tidak jauh berbeda usianya.
“Dok, dada kiri saya nggak enak. Jantung terasa berdebar-debar nggak keruan dan lemes banget rasanya, Dok,” keluh pasien.
“Oke, Bu. Ibu tiduran dulu ya, biar perawat saya periksa tensi dulu.”
Saat saya balik badan, suaminya sudah di depan saya.
“Dok, bisa pakai BPJS kan, Dok?” tanyanya dengan wajah acuh tak acuh, tampak sama sekali tidak khawatir dengan kondisi istrinya.
“Bisa, Pak. Tenang aja,” jawab saya sambil senyum.
“Saya sih tenang, Dok. Dia tuh, Dok, yang nggak tenang,” katanya sambil menunjuk istrinya dengan dagunya.
“Yaudah, Pak. Bapak daftarin Ibu dulu aja ke depan. Biar saya tangani Ibu.”
Tanpa menjawab, sang bapak melengos pergi begitu saja. Saya tetap tersenyum, lalu kembali ke ibu.
“Dok, takikardi, Dok!” lapor Ella.
Saya mengernyit. “Seberapa tinggi?”
“200, Dok.”
“Berapa SpO₂?”
“94 persen, Dok.”
“Oke. Minta Agus bantu pindahin ke bed resus. Kasih oksigen nasal kanul 4 liter per menit, pasang monitor, pasang IV line, terus rekam EKG 12-lead.”
“Siap, Dok,” jawab Ella cekatan.
Saya ambil stetoskop.
“Ibu jangan tidur ya. Ibu cerita apa aja ke saya, boleh.”
“Iya, Dok. Saya nggak tidur kok. Saya emang susah tidur, tapi ini kerasa sejak sejam yang lalu, sejak suami saya marah-marah dan bentak-bentakin saya,” ibu melanjutkan ceritanya. “Dulu waktu awal nikah, saya juga dibikin berdebar-debar sama suami, tapi bukan seperti ini.”
Saya masuk mode multitasking. Saya mendengar ceritanya sambil memeriksa, karena secara fisik banyak hal yang perlu saya tahu.
Wajahnya pucat. Tangannya mulai dingin. Saya tekan kuku pasien, warna merahnya baru kembali setelah empat detik. Saya amati dadanya, napasnya 28 kali per menit.
“Dok, tensinya 80/40, IV line terpasang,” lapor Agus.
“Oke, thank you, Gus.”
Saya lihat monitor. Grafiknya seperti sandi rumput, rumput semua, tidak ada lapang datarnya. Narrow QRS, reguler.
This is not good. SVT tidak stabil, saya ngomong dalam hati.
“Ella, tolong panggilin suaminya. Saya mau bicara. Agus, tolong ambilin Miloz 4 amp sama siapin ambubag.”
Keduanya mengangguk, lalu berkelebat pergi. Saya ke nurse station mengambil lembar persetujuan tindakan.
“Ya, Dok, manggil saya?” tanya suami.
Saya pasang wajah serius.
“Iya, Pak. Saya perlu bicara tentang kondisi istri. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Jantung itu memompa seperti ini.”
Saya mengangkat tangan kanan, mengepal sempurna lalu membuka sempurna, mengepal lagi, membuka lagi.
“Dengan kecepatan normal 60 sampai 80 kali per menit. Nah, Ibu 200, Pak. Belum sempat membuka sempurna, sudah mengepal lagi.”
Saya mencontohkan tangan saya dengan kelima jari gemetaran.
Mata suaminya melebar. “Dok, tampaknya serius ya. Terus harus gimana?”
“Ya memang serius. Kecepatan segitu berarti daya pompanya turun. Tubuhnya jadi tidak mendapatkan darah dan oksigen yang cukup. Terlihat dari tensinya turun, mulai merasa sesak dan dingin.”
Raut sesal muncul di wajahnya. “Dok, jujur tadi saya abis bentak-bentak dia, Dok. Apa itu penyebabnya, Dok?”
Saya diam sejenak, tetap menjaga kontak mata.
“Kalau saya bilang iya, apa yang akan Bapak lakukan setelah ini?”
Dia tampak kaget, lalu terseret berpikir. Saya biarkan sepersekian detik, cukup untuk membuat pertanyaannya menancap.
“Bapak jawab nanti ya. Sekarang saya mau minta persetujuan melakukan tindakan namanya kardioversi. Ini prosedur di mana saya ngasih kejutan listrik ke jantung untuk mengembalikan ritme. Ini seperti mereset jantungnya agar berdetak dengan cara yang benar.”
“Lho, Dok, setrum jantung? Yang pakai kayak setrikaan itu, Dok? Kan istri saya belum meninggal, kok disetrum jantungnya?”
“Pak, sepertinya Bapak keseringan nonton sinetron,” jawab saya sambil senyum.
“Iya, Dok. Saya nonton, pemain utamanya nggak sadar, terus disetrum, terus hidup lagi, Dok,” katanya, tertawa kecil. Lalu dia lanjut, “Tapi aman, Dok? Risikonya apa?”