Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa tahun 1998 saat Rupiah anjlok ke 16.000, rakyat langsung turun ke jalan, tapi sekarang di 17.500 pada diam?"
Ini terletak pada kecepatan devaluasi. Pada 1998, Rupiah anjlok dari kisaran 2.500 ke 16.000 hanya dalam hitungan bulan.
Jelaslah ini ngebuat shock therapy yang meruntuhkan daya beli secara instan jelas bisa memicu kepanikan dan revolusi.
Sementara saat ini, pelemahan terjadi secara gradual layaknya sindrom "katak dalam panci yang direbus perlahan".
Harga beras naik sedikit demi sedikit, ongkos transportasi merangkak naik, dan porsi makan di warteg mengecil secara diam-diam.
Rakyat terlalu sibuk beradaptasi dan mencari kerja tambahan ekstra keras dari hari ke hari, sehingga energi untuk berontak sudah habis tersita di jalanan dan di tempat kerja.
Sehat selalu semua yahh guys ๐๐
Hari-hari sedang tidak mood menjadi IRT. Setrikaan numpuk, rumah agak berantakan tp ga diberesin, udah tidak memasak beberapa hari. Yaudah, emg lg ENGGA aja moodnyaa ๐