Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lgi
Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba...
@Naz_lira Skeptics dengan analisa tersebut? Gak boleh.
Optimistic thd analisanya? Juga gak boleh.
Lihat, simak dan bila konsisten dlm beberapa bulan kedepan, baru kita apresiasi.
ππ
Jangan jangan semua dana yg triliunan rupiah tersebut dipakai buat perkuatan alusista?
Dan kambing nya dikorbankan biar dananya menguap semua ke alusista?
Krn alusista negara konoha tidak dalam keadaan baik baik saja.
Catatan pinggir.
Lbh dr 75% beragama islam.
Berapa banyak dr 75% tersebut yg menerapkan isi agama dalam kehidupannya?
Mungkin tak lebih dr 20-25% saja.
Sisanya agama hanyalah sebagai kulit luar saja. Di dalam dirinya masih jahiliyah.
Yg haus akan harta dan kekuasaan
Engkau punya akal untuk berpikir.
Engkau punya hati untuk berzikir
Engkau Bebas memilih antara janji Allah atau janji selain dari Allah.
Sementara janji Allah itu PASTI.
@yusufgunawan Prinsip pemerintahan Indonesia adalah, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?
Klo bisa dapat cuan, kenapa tidak di usahakan.
Hidup rezim djiancuk
Gambaran negeri konoha.
1. Tentara dan Polisi di suruh ke sawah, ke kebun tanam padi, kedele, jagung.
2. Ormas dipakai untuk jaga keamanan.
Pemerintahan si woo memang djiancuk.
@tanmalakaquote seberapa berbahaya pemikiran tan malaka sehingga di buru oleh semua imperialist?
Sehingga dia melanglang di sepertiga dunia.
Bagaimana perbandingan pemikiran tan malaka dengan founding father yg lainnya?
Seperti karano, Hatta atau hos cokroaminoto
@dxrkchocolx Indonesia lebih Keren donk.
Mereka membuat penelitian yg nyangkut dengan ilmu pengetahuan.
Klo di indo, bagaimana bisa exploarasi mistik dan hal hal yg diluar ilmu pengetahuan.
πππ
Sebagai generasi yang pernah merasakan era Soeharto dan ikut euforia jalanan jatuhnya Orde Baru (yang kini saya sesali), setelah 25 tahun saya menyadari sesuatu yang pahit
Indonesia bukan negara homogen.
Kita punya 1.340 sub etnis, mayoritas rakyat masih hidup dengan ekonomi miskin dan pendidikan rendah.
Primordialisme/ identitas kelompok begitu kuat yg tak jarang lebih dominan daripada identitas kebangsaan
Dalam kondisi seperti ini, demokrasi liberal dan kebebasan penuh justru berisiko.
Alih-alih memperkuat persatuan, ia membuka ruang polarisasi tanpa henti
Setiap hari kita menyaksikan ribuan kepentingan yang mengatasnamakan βrakyatβ. Padahal seringkali itu hanya kepentingan golongan/kelompok
Ini bukan menolak demokrasi, namun sekedar berargumentasi bahwasanya demokrasi butuh fondasi sosial ekonomi yg cukup dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Tanpa kematangan itu, demokrasi hanya jadi bumerang yg menyeret pada jurang disintegrasi
25 tahun reformasi memberi pelajaran :
kebebasan tanpa arah hanya melahirkan polarisasi yg makin makin makin menebalkan jarak antara "kelompok saya dan bukan kelompok saya"
kita membutuhkan demokrasi yang berdiri pada fondasi kokoh berupa :
- Mayoritas rakyat berpendidikan cukup.
- Kesejahteraan merata.
- Kesenjangan menyempit.
- Identitas kebangsaan lebih dominan daripada primordialisme kelompok
Ternyata saya tidak sendiri yg bersikap bahwa reformasi 98 tidak membawa negara ini menjadi lebih baik. Bahkan menjadi lbh rusak. Karena yg mengurus negara ini sebagian besar matang karna karbit.
Rusak dr paling bawah.
Sebagai generasi yang pernah merasakan era Soeharto dan ikut euforia jalanan jatuhnya Orde Baru (yang kini saya sesali), setelah 25 tahun saya menyadari sesuatu yang pahit
Indonesia bukan negara homogen.
Kita punya 1.340 sub etnis, mayoritas rakyat masih hidup dengan ekonomi miskin dan pendidikan rendah.
Primordialisme/ identitas kelompok begitu kuat yg tak jarang lebih dominan daripada identitas kebangsaan
Dalam kondisi seperti ini, demokrasi liberal dan kebebasan penuh justru berisiko.
Alih-alih memperkuat persatuan, ia membuka ruang polarisasi tanpa henti
Setiap hari kita menyaksikan ribuan kepentingan yang mengatasnamakan βrakyatβ. Padahal seringkali itu hanya kepentingan golongan/kelompok
Ini bukan menolak demokrasi, namun sekedar berargumentasi bahwasanya demokrasi butuh fondasi sosial ekonomi yg cukup dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Tanpa kematangan itu, demokrasi hanya jadi bumerang yg menyeret pada jurang disintegrasi
25 tahun reformasi memberi pelajaran :
kebebasan tanpa arah hanya melahirkan polarisasi yg makin makin makin menebalkan jarak antara "kelompok saya dan bukan kelompok saya"
kita membutuhkan demokrasi yang berdiri pada fondasi kokoh berupa :
- Mayoritas rakyat berpendidikan cukup.
- Kesejahteraan merata.
- Kesenjangan menyempit.
- Identitas kebangsaan lebih dominan daripada primordialisme kelompok
Guys, Felix Siauw baru ngomong sesuatu di podcast Helmy Yahya yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari seorang ustaz Indonesia dalam waktu lama.
Dan intinya satu kalimat yang langsung dilontarkan:
"Orang Indonesia tidak pernah menjadi Islam."
Bukan karena KTP-nya.
Tapi karena cara berpikirnya.
Masalah pertama
kita salah paham soal tawakal:
Felix kasih contoh yang sangat konkret.
Ada pesantren roboh.
Respons orang Indonesia:
"Qadarullah, ini takdir Allah."
Felix langsung potong:
itu bukan tawakal.
Itu kebodohan yang dibungkus agama.
Karena setiap insinyur teknik sipil yang melihat bangunan tiga lantai dengan pondasi yang salah sudah bisa prediksi itu akan roboh.
Tidak perlu menunggu roboh untuk tahu.
Dan kalau kita sudah tahu sebabnya tapi tidak dikerjakan lalu ketika roboh bilang qadarullah itu bukan pasrah pada Allah.
Itu menyalahkan Allah atas kelalaian kita sendiri.
Rasulullah memakai baju besi
dua lapis di medan perang.
Seorang sahabat tanya kenapa.
Jawabannya sederhana:
karena sebab akibat adalah bentuk tawakal yang sesungguhnya.
Bekerja sekeras mungkin baru serahkan hasilnya.
Masalah kedua
"enggak apa-apa mereka ambil dunia,
yang penting kita akhirat"
Felix bilang dia ingin kritik keras kalimat ini.
Karena logikanya terbalik total.
Cara masuk surga menurut ulama ada empat:
dengan ilmu,
dengan kekuatan,
dengan harta,
atau dengan doa.
Kalau kamu tidak punya ilmu,
tidak punya kekuatan,
tidak punya harta kamu hanya tersisa doa.
Dan kalau kamu bilang "yang penting akhirat" sambil tidak mengerjakan satu pun dari empat jalan itu dengan serius kamu sedang tidak mengejar akhirat.
Kamu sedang memakai akhirat sebagai alasan untuk tidak berusaha.
Rasulullah miskin bukan karena tidak bisa kaya.
Beliau miskin karena memilih memberi semua yang dimiliki kepada yang membutuhkan.
Miskin by choice bukan miskin karena tidak punya pilihan.
"Kalau dunia aja kamu enggak bisa nguasain,
jangan ngomong akhirat.
Akhirat itu lebih susah dari dunia."
Masalah ketiga
tidak ada critical thinking:
Ini yang paling mendasar dan paling merusak menurut Felix.
Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah adalah iqra baca, berpikir, analisa.
Di saat itu bahkan tidak ada buku.
Tidak ada perpustakaan.
Artinya perintah iqra bukan sekadar membaca teks tapi perintah untuk berpikir kritis terhadap segala sesuatu.
Tapi apa yang terjadi di Indonesia?
Pertanyaan dibungkam.
Otoritas tidak boleh diganggu gugat.
Santri yang dilecehkan menerima
karena percaya itu "ritual penyucian."
Orang tua yang anaknya diperlakukan tidak wajar diam karena takut melawan ulama.
Felix bilang ini adalah abuse of authority yang masif dan akarnya adalah ketidakmampuan berpikir kritis yang sudah ditanamkan sejak kecil.
Padahal bahkan Rasulullah sendiri melatih sahabat untuk tidak buta taat.
Ada sahabat yang diperintahkan pemimpinnya masuk ke dalam api sebagai hukuman.
Mereka ragu dan datang bertanya ke Rasulullah.
Jawaban Rasulullah:
"Untung kalian tanya aku.
Kalau kalian masuk,
kalian tidak akan keluar selamanya."
Dari situ keluar hadis:
taatlah kepada makhluk selama tidak bermaksiat kepada Allah.
Artinya Islam dari awal mengajarkan untuk mempertanyakan bahkan otoritas.
Masalah keempat faktor struktural yang sering dilupakan:
Felix tidak hanya menyalahkan internal.
Ada faktor eksternal yang sangat besar yang tidak boleh diabaikan.
Di zaman kolonial Belanda,
ada sistem pembagian kelas berdasarkan akta kelahiran STBL.
Kelas pertama orang Eropa.
Kelas kedua orang Arab, India, Cina.
Kelas ketiga pribumi dan pribumi Muslim ada di posisi paling bawah.
Akta kelahiran itu menentukan siapa yang boleh sekolah di mana, siapa yang boleh masuk restoran mana, siapa yang boleh masuk pemerintahan.
Bukan soal kemampuan tapi soal sistem yang dirancang untuk memastikan satu kelompok tidak bisa mengakses kekayaan dan pengetahuan.
Itulah mengapa sampai hari ini di daftar orang terkaya Indonesia dan dunia dominasi Muslim sangat kecil dibandingkan populasinya.
Ini bukan semata karena etos kerja.
Ini juga karena sistem yang dibangun ratusan tahun untuk menutup akses.
Korelasi yang menarik antara keyakinan dan peradaban:
Felix membawa temuan arkeologi di Gobeklitepe, Turki bangunan berusia 11.000 tahun yang mendahului rumah dan ladang pertanian.
Para arkeolog menyimpulkan bahwa manusia tidak membangun keyakinan setelah perutnya kenyang.
Justru sebaliknya keyakinan dibangun dulu,
baru peradaban lain mengikuti.
Ini membalik teori lama bahwa agama
adalah produk kemakmuran.
Ternyata keyakinan adalah fondasinya.
Tapi ada yang salah kaprah.
Felix memisahkan dengan jelas:
bukan agamanya yang menentukan maju atau mundur suatu bangsa tapi kepedulian.
Romawi maju bukan karena agama tertentu tapi karena mereka peduli pada kotanya,
pada infrastrukturnya, pada warganya.
Ketika kepedulian itu hilang Romawi hancur.
Bukan karena Tuhannya berubah.
Felix menyimpulkan dengan satu pertanyaan keras yang ditujukan kepada dirinya sendiri dan seluruh ulama Indonesia:
"Rasulullah bilang ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama. Ketika ulama pergi tanpa meninggalkan warisan berpikir yang benar yang terpilih adalah pemimpin-pemimpin bodoh.
Dan pemimpin bodoh membuat kebijakan bodoh yang menghancurkan umatnya."
Artinya yang paling bertanggung jawab atas kondisi umat bukan politisinya. Bukan penjajahnya. Tapi mereka yang seharusnya mendidik cara berpikir dan memilih untuk tidak melakukannya.
β οΈ Disclaimer: Berdasarkan podcast Helmy Yahya bersama Felix Siauw. Semua pandangan adalah pendapat pribadi narasumber dalam konteks diskusi keagamaan dan peradaban. Pembaca dianjurkan untuk memverifikasi referensi sejarah dan hadis dari sumber primer.
Pendidikan di negara konoha ini entah mau dibawah kemana.
Akhlak dan moral bangsa ini sdh semakin menjauh dari nilai kebaikan dan kebenaran. Dan hanya mementingkan kekuasan dan harta. Dan menggunakan semua jalan utk mendapatkannya.
Baik dan benar bukan lg koridor
Akar masalahnya adalah perlintasan kereta api. Solusi dr pejabat asu malah pada penempatan gerbongnya.
Emangnya bila ada yg mati dr kecelakaan sebaiknya laki laki kah?
Pejabat asu
@karimakayyim Bukan penempatan gerbong nya yg salah,
Tetapi perlintasan kereta api yg harus di benahi. Apalagi perlintasan yg trafiknya tinggi harus ada jembatan penyebrangan.
Kereta eksekutif kecepatan diatas 100 km/jam. Butuh signal yg banyak agar bener2 bisa berhenti tepat waktu.
So, karna korbannya wanita, gerbongnya di pindahkan? Klo laki laki gak apa apa mati bila kejadian yg sama?
Seharusnya @AgusYudhoyono sampaikan klo semua perlintasan kereta di area padat harus Bebas kendaraan. Sehingga kejadian tidak berulang.
Aaaaa.... Payah...
AHY soal usul Menteri PPPA agar gerbong KRL wanita dipindah ke tengah, bukan di paling depan dan belakang:
"Artinya, memang belum pernah terjadi sebelumnya ada tubrukan antara KRL dari belakang dihantam oleh Kereta Api Jarak Jauh dan kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus wanita.
Jadi, pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan, yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan bisa dikatakan risiko yang paling tinggi.
Ini juga bagian yang akan terus kita evaluasi. Tapi yang jelas adalah laki-laki (dan) perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apapun. Jadi, yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan laki-lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan transportasi publik lainnya ini aman, selamat, menghadirkan rasa aman (dan) nyaman.
Safety first itu bukan hanya menjadi jargon, tetapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik."
Sumber: Doorstop Menko AHY di RSUD Bekasi