James, is this a serious criticism or just engagement bait?
Disliking a 30-minute queue is understandable. But judging an entire airport's operational design by one frustrating experience is rather simplistic.
Gate-side security has its own operational rationale: screening is tied to individual flights rather than funnelling all departing passengers through one central checkpoint. Both systems have trade-offs, but convenience isn't the only measure of efficiency.
Changi handled nearly 70 million passengers in 2025, compared with Sydney's 42.5 million. That doesn't automatically prove its security model is superior, but perhaps there's more to airport operations than what one passenger finds inconvenient.
Calling everyone who disagrees with you an idiot is quite an achievement, especially when the argument itself deserves more thought ๐
๐ฎ๐ฉ Hundreds of Indonesians gathered in central Jakarta to protest against economic hardship, graft and the government's handling of devastating wildfires causing toxic haze that has sickened thousands.
โก๏ธ https://t.co/Msr5f5QEv2
Lagi2 GFP buat narasi baseline mau perang.
Hal simple buat solusi karhutla aja gak beres, rakyat di Sumatera ma Kalimantan pada gak bisa napas. Alutsista buat pemadaman hutan kaya CL-415 atau sejenisnya aja gak ada, mikirin perang lagi.
Mau perang lawan ini juga bagaimana:
Air Force Strength (Current): 40x F-15SG Eagle; 60x F-16C/D Block 50/52; 6x A330 Multi-Role Tanker Transports; 4x G550 Airborne Early Warning and Control;
In progress delivery: 20x F-35A/B; 4x P-8A Poseidon.
Hal yg pasti2 aja buat rakyat Indo
@goodgrl1999@LambeSahamjja Mungkin bisa dipertimbangkan untuk cut loss. Hold USD. USD naik jadi 20k aja dr skrg, dah gain +11% an. Research lagi yak sebelum eksekusi. Good luck
@hoteliercrypto Hi @grok, explain to these fellas why Singapore's trade is among the world's largest. Why do companies ship goods through its port instead of sending them directly? Use simple, basic English, since my fellas here have a little trouble understanding complex ideas
@jenostalker Kurang gigit ternyata, cuma 2% dan diantisipasi pulaโฆgak seru ya lawan negara yg sudah sangat prepareโฆcoba dicari lagi sana narasinya apa yg bisa nutupin ๐
Pemberian status standalone oleh MSCI bukan berarti bursa Indonesia harus berhenti beroperasi.
Intinya, status tersebut berkaitan dengan klasifikasi pasar dalam metodologi MSCI. Detail implikasinya tentu perlu dilihat berdasarkan keputusan dan penjelasan resmi MSCI.
Namun, satu hal yang perlu dipahami: penilaian seperti ini merupakan informasi yang bisa dipertimbangkan investor dalam mengambil keputusan. Bukan berarti mereka dilarang berinvestasi di Indonesia.
Investor lokal maupun asing tetap perlu menilai risikonya masing-masing.
Jadi, kalau memang ada persoalan transparansi, kualitas data, atau praktik pasar yang perlu dibenahi, bukankah lebih baik kita fokus memperbaiki persoalannya?
Bukan malah sibuk menyerang pihak yang menyoroti masalah tersebut.
Dan kalau isu ini kemudian dipelintir oleh mantan menteri menjadi narasi tentang kepentingan negara lain, kita justru perlu bertanya:
Sebenarnya masalah utama yang sedang kita hadapi itu apa, sih? Dan kenapa pembahasannya malah dibawa ke arah yang berbeda?
Ini yang menurut saya menyedihkan.
Ketika substansi persoalan malah tenggelam oleh narasi yang mengundang emosi, masyarakat akhirnya sibuk berdebat soal siapa yang harus dibela, bukan lagi soal apa yang sebenarnya perlu dibenahi.
Padahal, yang dipertaruhkan bukan sekadar nama baik suatu lembaga atau negara.
Ada kepercayaan investor, kualitas pasar modal, dan uang masyarakat yang ikut dipertaruhkan.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari kambing hitam, sampai lupa memperbaiki masalah yang sebenarnya.
Coba bayangkan contoh sederhananya.
Misalnya, kamu investor retail yang membeli saham BYAN. Harga saham naik, investasi kamu untung. Senang, dong.
Tapi tiba-tiba harga sahamnya anjlok signifikan karena persoalan perizinan yang menghambat operasional perusahaan.
Lalu muncul pertanyaan soal transaksi yang tidak wajar, ketika aset bernilai tinggi seolah ditransaksikan dengan harga yang jauh di bawah nilai wajarnya.
Kalau kejadian seperti ini menimpa perusahaan besar di Amerika Serikat, sampai sahamnya didiskon 70โ80%, investor bakal diam saja?
Ya jelas banyak yang protes. Uang mereka bisa hilang dalam jumlah besar akibat risiko yang mungkin tidak mereka pahami sejak awal, atau karena praktik yang perlu diselidiki.
Nah, kalau ada lembaga independen yang mengingatkan investor global tentang risiko di suatu pasar, bukankah itu justru informasi yang penting buat kita para investor?
@reyhartex@LambeSahamjja Nah, the reason Indonesia is still poor is simple: people with low IQs, like you, are still around and keep drawing such poor conclusions about the problem. No wonder the root cause is still there. โบ๏ธ