A high-ticket client just paid us only for copywriting.
No design. No development. Just words.
They told us:
“We’ve tried AI, hired top 1% designers, even rebuilt the site twice. But the message still isn’t landing.”
Here’s what most people get wrong:
You can’t fake clarity with ChatGPT copy.
You can’t stand out by copy-pasting what everyone else is doing.
Design makes you look good.
But copy makes people trust you, believe you, and buy from you.
That’s why great brands invest in words before visuals.
Because if the message isn’t right, nothing else matters.
Ternyataaa, jadi sedikit menyayangkan yaaa... Karena kalau dipikir-pikir kembali, aku jadi menghabiskan hari ini dengan, blaming sesuatu, dengan memikirkan hal-hal yang sebetulnya gak perlu karena belum bisa ikhlas
Kalau dipikir-pikir yaaaa, hari ini dimulai dengan dapat info yang kurang baik, lalu rasanya duniaku seketika runtuh.
Tapii, uniknya masyallah nya saat malah ini aku mau coba untuk menuliskan.
Tbtb dikepala muncul "loh, ternyata ga seburuk itu"
As much as I appreciate capitalism, I don’t buy into the idea that profits should come before health, family, faith, ethics, or morals.
That doesn’t align with my values.
on Sundays we: run errands, do long uninterrupted workouts, read for hours, rest as needed, remove friction for the week ahead, reflect on last week, plan for next week, schedule realistically, add buffer for unexpected events.
easiest way not get punched in the face by Monday morning.
Mari kita jadikan ini sebagai proses pendewasaan diri. Kalau sudah melontarkan kata thankyou and sorry itu cukup. Kalau pihak eksternal tidak melakukan hal yang sama, mari hormati jalan yang ia pilih
Kali ini gue memilih untuk mengatur hal hal yang bisa diatur sajaaa. Faktor-faktor eksternal yaaa biarkan sajaa.
Faktor eksternal bukan sesuatu yg bisa di kontrol kann.. tapi respon ku terhadap faktor eksternal itulah yg terpenting
Aku juga tersadar, mau membela diri seperti apapun, mau membuktikan seperti apapun ke pihak lain. Jika memang ia memilih mempercayai asumsinya sendiri yaaa gak akan pernah terlihat
Jujur jujuran aja.. Aku beasiswa internal. Awal kuliah master aku pake cara belajar di Indonesia, hasilnya? Nilai anjlook ke marginal passed. Akhirnya aku ganti cara belajar. Alhamdulilah nilai membaik. (Meski ga bagus banget).
Engga bisa kuliah di Eropa misalnya, modal rajin masuk aja. Ga ada sistem absensi semua, Grading ya dari exam. Mau gamau ya solusinya.
Baca baca baca..
Diskusi diskusi diskusi..
Nulis nulis nulis..
Kultur ini.. Jujur ga ada di Indonesia.. Adapun miniim bangett. Karena kita terbiasa di kelas menggantungkan nilai pada absensi dan nurut apa kata dosen.