Jokowi mau turun/naik gunung lagi untuk menangin PSI silahkan saja. Kalau soal pileg/pemilu partai, itu soal kekuatan figur pemimpin di masing2 partai
Kl Pilpres sih soal kepentingan bersama semua partai pengusung.
Ini ujian,sebesar apa pengaruh dia sesungguhnya, yg jelas saat dia punya kekuasaan dia ga bisa loloskan PSI. Apa lagi sudah mantan.
Kalau PSI merasa Jokowi sebagai pribadi dan sebagai presiden, punya pengaruh besar untuk meloloskan mereka ke Senayan, tapi ternyata gagal, padahal logistiknya besar, jelas mereka yg kacrut.
Tapi saya menilainya: Jokowi tidak sebesar eskpektasi mereka dan mereka tidak sehebat kepongahan yang mereka tunjukan
2. Di sisi lain bisa jadi Prabowo cemas dengan kondisi ekonomi saat ini, dan dia sedang menenangkan kecemasannya sendiri dengan berpidato yang menyederhanakan masalah
Rakyat di desa tidak pakai dolar. Benar sekali.
Tapi utang luar negeri pemerintah dlm dolar, sebesar $ 214,7 miliar. Dan utang luar negeri swasta juga dlm dolar besarnya $ 193 milyar.
Kenaikan nilai dolar akan menambah beban utang luar negeri, yang berarti kenaikan beban rakyat.
Menurut saya (tentu saya bisa salah), Prabowo bukan menyederhanakan masalah soal kenaikan nilai tukar dolar (penurunan Rp), tapi:
1. Presiden sedang meyakinkan masyarakat bahwa kekusutan ekonomi masih bisa dia kendalikan agar rakyat bersabar perbaikan ekonomi sedang dia lakukan
Ketenangan warga Bulusan, Semarang, terusik setelah sertifikat hak milik (SHM) yang mereka tempati selama sekitar 30 tahun terancam dicabut melalui putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang.
Selengkapnya baca:
https://t.co/IJ4Hrcoydq
Jadi kekayaan alam kita siapa yang menikmati?? Ya para oligark saja, bukan rakyat. Jadi kalau negara kesulitan dalam hal fiskal, kenakan pajak tinggi untuk sektor tambang, ga perlu naikan BBM atau gas
Dapat data dari Celios:
1. Total kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia Rp 4.651 Triliun, naik 100% dalam 7 tahun
2. 58% kekayaan mereka bersumber dari sektor ekstraktif
3. Dlm sehari kekayaan mereka bertambah Rp 13.48 miliar, sementara kenaikan upah buruh rata-rata hanya Rp 760
Kl intelijen militer Israel Aman bisa menemukan bunker Khamenei, dan CIA menemukan tempat tinggal Maduro, Bais temukan Toko Kimia yang jual Asam Sulfat/air keras
Operasi intelijen strategis malah menyerang aktivis HAM yang kritis pada kekerasan negara?
Ini tidak mungkin operasi liar, ini ada tujuan untuk menjaga kekuasaan
@pln_123 saya lewat jalan taruna jaya cibubur-ciracas (deket air isi ulang Biru), ada kabel terbuka yg menggelantung. Takutnya kabel listrik yg berbahaya
Sebagai pemenang pemilu Prabowo berhak untuk menyusun tim dan menunaikan janji kampanyenya. Kritik itu perlu agar janji kampanye dapat terealisasi dengan baik. Dengan adanya kritik maka dapat diketahui dgn tepat mana timnya yg bekerja dengan baik atau mana yang justru lebih mementingkan golongannya
Sebuah insiden penganiayaan terhadap anak di bawah umur dilaporkan terjadi di Gang Manaf, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 13.30 WIB.
Kejadian bermula saat tiga bocah yang sedang berjalan di depan rumah seorang oknum TNI tiba-tiba diinterogasi terkait tuduhan pencurian tebu dan jambu. Meskipun ketiga anak tersebut telah membantah dan bahkan menyarankan pelaku untuk memeriksa rekaman CCTV guna membuktikan kebenaran ucapan mereka.
Namun oknum TNI tersebut justru merespons dengan emosi tinggi dan mengancam akan MENEBAS kepala mereka sambil membawa SEBILAH PARANG. Merasa terancam, ketiga bocah tersebut melarikan diri menuju jalan raya dan sempat diselamatkan oleh seorang penjaga pom bensin mini yang menyembunyikan mereka di dalam kamar mandi.
Sayangnya, pengejaran tidak berhenti di situ karena orang tua dari oknum TNI tersebut juga turut melakukan pencarian. Saat ketiga anak itu keluar dari persembunyian untuk mencari angkutan umum, mereka berhasil ditemukan.
Salah satu anak dilaporkan dipukul kepalanya dari arah belakang, lalu diseret kembali menuju pekarangan rumah oknum TNI tersebut. Di lokasi tersebut, aksi kekerasan berlanjut di mana korban kembali dipukuli di bagian kepala hingga ditendang oleh oknum TNI.
Meskipun warga setempat sempat melerai dan menanyakan perihal bukti pencurian, pelaku tetap melakukan penganiayaan tanpa bisa menunjukkan bukti fisik bahwa ketiga anak tersebut benar-benar mengambil tebu atau jambu miliknya.
Kasus ini kini memicu sorotan tajam karena melibatkan tindakan kekerasan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh aparatur negara.