Pas Mbak Dian Sastro nyebut channel Predictive History (Profesor Jiang) waktu podcast sama Raditya Dika, gue langsung pengen cek.
Terus gue buka cek videonya yang Game Theory #3: Rich Dad, Poor Dad.
Gila, otak gue kayak kena reboot setelah nonton. Dia breakdown pake logika Game Theory kenapa yang kaya makin tajir terus, sementara yang miskin susah banget naik kelas. Bukan cuma ngomong doang.
Nemu bapak ini di fesnuk lagi jualan soft copy materi pembelajaran bahasa Jepang yang beliau susun. Real aseli guru bahasa Jepang, karena beliau buka les juga. Siapa tau ada yang butuh, bisa langsung kontak bapaknya atau mampir ke fesnuknya beliau
@yappingfess DENGARIN AKU!!!
pakai inerson dijamin ampuh, selain itu kamu juga harus kontrol stresmu dan yang paling penting jangan pegang deterjen apapun!
aku juga eksim kambuhan tapi sekarang uda gak muncul lagi, dulu beuh diseluruh jari ada beginian, sampe ke jari kaki.
Ada yg dm dari orang baik nitipin thr buat 3 orang beruntung.
Tinggal rt, like, sama reply apa aja dibawah ini, langsung tutup malem ini yak gusyy. good luck🙏
Guysss.... Karena banyak banget yang penasaran Kisah Nabi Musa, ini aku drop link yang bisa dibilang cukup penuh.
Lumayan durasinya, lebih sampai sejam. Tapi, dikemas cerita yang menarik, In Sya Allah
Selamat menonton :
https://t.co/mLPJ38vVn4
Jadi ada wartawan nanya ke Eileen Gu (22 tahun), atlet freestyle skiing yg baru aja menang medali emas winter olympic 2026, tentang gimana caranya Eileen bisa jawab pertanyaan dengan cepat tapi tetep runut?
Jawabannya menarik bgt. Eileen bilang kalo dia adalah tipe orang yg sering merenung & instrospektif. Dia suka ngabisin waktu sama kepalanya.
Eileen juga bilang kalo dia sering journaling buat ngebreakdown semua cara berpikirnya dia. Dari aktivitas itu dia jadi bisa kontrol pikirannya, sekaligus kontrol siapa diri dia sebenarnya.
Buat Eileen banyak ngabisin waktu dalam pikirannya sendiri bisa bikin dia lebih banyak berpikir ke arah prosose yg lebih matang (mature).
Eileen suka modif pikirannya dan bertanya "Gimana caranya supaya aku bisa lebih baik? Gimana aku bisa memperlakukan otakku seperti aku memperlakukan latihanku di ski balap, supaya besok aku bisa lebih baik dari hari ini?"
Menurut psikologi, anak yang tumbuh di lingkungan dengan orang tua yang mudah marah sering belajar hidup dalam mode “siaga”. Mereka terbiasa membaca situasi, menebak-nebak suasana hati, dan berusaha tidak membuat kesalahan sekecil apa pun. Bukan karena mereka perfeksionis sejak lahir, tapi karena dulu kesalahan kecil saja bisa berujung pada kemarahan besar.
Akibatnya, saat sudah dewasa pun pola itu sering masih terbawa. Mereka jadi orang yang sangat berhati-hati, mudah merasa bersalah, dan sering overthinking sebelum bertindak. Bahkan ketika tidak ada lagi yang memarahi, tubuh dan pikirannya masih menyimpan memori lama: takut mengecewakan, takut disalahkan, takut dianggap tidak cukup baik.