Hari ini, aku ingin bilang:
Selamat Hari Kartini untukmu, Rahmah El Yunusiyyah.
Terima kasih telah menjadi cahaya bagi banyak perempuan Indonesia.
Terima kasih sudah keras kepala
Hari ini Hari Kartini. Tapi izinkan aku memperkenalkan sosok yang jadi "Kartini versiku".
Namanya: Rahmah El Yunusiyyah
Lahir di Padang Panjang, 29 Desember 1900.
Perempuan Minang yang mendirikan pesantren khusus putri pertama di Indonesia.
#utas
Jika Kartini menulis “Habis Gelap Terbitlah Terang,”
maka Rahmah membangun lentera itu dengan tangannya sendiri.
Dan meneranginya sampai ke luar negeri.
Di antara banyak pahlawan perempuan, Rahmah mungkin tak sepopuler Kartini.
Tapi bagiku, ia adalah Kartini yang lain.
Kartini yang melawan bukan lewat pena, tapi lewat sekolah.
Rahmah tidak bercadar. Tapi ia berkerudung.
Ia religius, tapi maju.
Ia lembut, tapi keras kepala.
Ia perempuan yang tahu: perjuangan itu kadang harus sunyi.
Rahmah El Yunusiyyah dianugerahi gelar kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Kairo.
Perempuan Indonesia pertama yang dapat kehormatan itu.
Dari Padang Panjang, gagasannya mendunia.
Sesudah merdeka, Rahmah mengharumkan nama Indonesia.
Tahun 1955, ia diundang ke Mesir.
Ulama Al-Azhar sampai meneliti sistem pendidikan Diniyah Puteri.
Dan hasilnya? Mereka meniru!
Tahun 1943, saat Jepang menjajah, Rahmah ditangkap karena dituduh menyebarkan "ajaran pemberontakan" melalui pendidikan.
Dia dipenjara. Tapi semangatnya tak pernah layu.
Rahmah percaya:
> “Mendidik perempuan adalah mendidik peradaban.”
Ia ingin perempuan tak hanya cakap agama, tapi juga sains, bahasa, keterampilan hidup.
Rahmah mendirikan Diniyah Puteri tahun 1923.
Bukan cuma sekadar pesantren.
Tapi sekolah modern berasrama untuk perempuan.
Saat itu, sekolah-sekolah elite masih enggan menerima murid perempuan.
Kejaksaan Agung (Kejagung) memutuskan mundur dari penyelidikan terkait kasus pagar laut di perairan Tangerang, Banten.
Perkara tersebut kini diserahkan sepenuhnya untuk ditangani oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.
#TempoHeadliner
Gue malu Presiden RI yang sudah berumur 73 tahun berpidato menggunakan gestur ala bocah “nye…nye…nye” (“terlalu besar”) dan ngomong, “ndasmu”.
Di ruangan itu reaksinya banyak yang ketawa pula 😓