sebenernya setelah dipikir pikir soshum direndahkan banget di indo itu suatu hal struktural biar ga banyak masyarakat yg melek dgn keadaan sosial, ga ikut campur apapun yg terjadi dgn pemerintahan, makanya dibuat stigma sejelek mungkin biar ga pada minat 😂
beberapa hari lalu gue selesai baca buku dan doi langsung nanya “did you finish it? tell me everything about it.” sambil tepuk-tepuk kasur. akhirnya gue yapping 20 menit tentang buku itu sampe ketiduran. he doesn’t like reading books, but he listens :3
In this economy, I hate the way banyak banget ketimpangan sosial. Ada yg keluarin 50k sejam doang, ada yang harus bisa olah 50k itu buat 3 hari atau seminggu. Dan ini ngebuktiin kalau pemerintah gagal menjamin kesejahteraan kehidupan rakyatnya.
HAHAHAHA negara udah bubarin ratusan atau bahkan ribuan diskusi pelajar, mahasiswa, & gerakan lainnya. Sekalinya mahasiswa yang bubarin atau sabotase langsung playing victim ngerasa hak kebebasan berpendapatnya dibatasi.
Dipikir-pikir ini orang-orang ini enak bener udah pada tua, hidup gak lama lagi, tapi melahirkan kebijakan atau keputusan yang dampaknya dirasakan langsung generasi lebih muda.
Giliran morat maritnya dia udah mati, yg muda muda ini yg menderita. 🥲
orang-orang jadi males dan ga kreatif ya karena apa-apa harus AI; doodle minta AI, foto di laptop aja harus pake AI, ngerjain essay atau tugas pake AI 💀 bikin fanart sama fanfic aja pake AI juga yang mostly resultnya generated aka stolen dari existing arts by real people
an author using AI to write their book is NOT a real writer and it doesn’t matter if they came up with the scenes in their mind and just used AI to organize them as a story when that is the whole point of being a writer
laki-laki di sosmed ngerasa tertindas dengan feminisme dan ga sadar di irl mereka menginjak perempuan yang jadi feminis di sosmed. "beraninya cuma koar-koar di sosmed" ya soalnya kalo di irl bisa dilecehkan, diperkosa, dibunuh, dimutilasi, disiram air keras, apa lagi?