Bapak Presiden @prabowo, Bpk Menko @airlangga_hrt, Bpk Menkeu Purbaya @KemenkeuRI, Bpk Gub BI @bank_indonesia, Ibu Kepala @ojkindonesia yth, dengan data bhw makin hari nilai tukar dan harga saham makin nyungsep, mohon ajari kami untuk :
1) bagaimana kami bisa jadi optimis agar tdk dituduh sbg orang psimis
2) bagaimana kami yakin bhw Indonesia ke depan mamang tidak gelap
3) bagaimana kami yakin bhw pidato Bpk/Ibu memang bisa dipercaya
4) bagaimana kami yakin bhw Bpk dan Ibu memang masih punya keinginan dan kemampuan mengambil kebijakan “radikal” untuk atasi masalah ini - bukan lewat pidato.
5) bagaimana cara kami menyampaikan masukan untuk perbaikan sesuai fakta dan data tapi kami tidak dituduh orang psimis, anti pemerintah dan/atau antek Asing
Semoga Bpk dan Ibu berkenan memberikan jawaban kepada kami.
Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.
ANTARA BLIND OBEDIENCE DAN CENGKERAMAN ALGORITMA
Belakangan ini saya perhatikan ada fenomena yg menarik di tanah air. P Kalau kita lihat, banyak pengikut atau simpatisan sebuah organisasi yg cenderung terjebak dalam budaya taqlid buta.
Kondisi ini membuat orang terjebak dalam dua hal:
1. Confirmation Bias, kecenderungan utk hanya percaya informasi yg mendukung kelompoknya saja. Kalau ada fakta atau kritik yg menyudutkan organisasinya atau tokoh di dalamnya, langsung dianggap hoaks atau serangan musuh. Kita hanya mau dengar apa yg ingin kita dengar.
2. Blind Obedience, kepatuhan buta. Apa pun yg diserukan oleh elit organisasi, akan cepat sekali didengar dan ditaati tanpa melalui proses berpikir kritis atau berpendapat lagi.
Celakanya, kalau elit organisasi membuat kekeliruan, pengikut dan simpatisannya bukannya mengoreksi, tapi justru pasang badan paling depan buat membela. Seolah-olah pemimpin itu mustahil berbuat salah.
Kenapa hal ini makin subur? Ternyata ada faktor Sifat Dasar Manusia yg ingin selalu berkelompok, ditambah lagi dengan Algoritma Media Sosial. Kita dikurung dalam "echo chamber" atau "ruang gema" yg isinya cuma pendapat yg seragam. Inilah yg membuat nalar kritis kita pelan-pelan mati.
Lalu, bagaimana solusinya? Agar kita tidak menjadi "robot", ada beberapa hal yg bisa kita lakukan utk mencerahkan kembali nalar kita:
1. Berani Open Mind. Mulailah terbuka dengan sudut pandang berbeda. Mendengarkan kritik bukan berarti kita berkhianat, tapi justru bentuk kecintaan agar organisasi kita jadi lebih baik.
2. Banyak Membaca dan Riset. Jangan cuma makan mentah-mentah apa yg muncul di beranda medsos. Coba beekunjung atau kuga berinteraksi dengan beranda lain yg mungkin berbeda pendapat dengan kita. Perbanyak baca literatur dari berbagai sumber yg kredibel agar kita punya pembanding.
3. Tanyakan "Mengapa". Sebelum mengiyakan instruksi, biasakan bertanya pada diri sendiri: "Apakah ini benar? Apakah ini logis? Apa manfaatnya bagi orang banyak?". Instruksi bukan ayat atau Kitab Suci dari Ilahi atau sabda Kanjeng Nabi.
4. Prioritaskan Kebenaran di Atas Figur. Ingat, pemimpin itu manusia yg bisa salah. Loyalitas tertinggi seharusnya pada kebenaran dan prinsipnya, bukan pada figur personal atau organisasinya.
Dengan begini, kita bisa bersikap obyektif. Melihat satu hal dari banyak kaca mata dan sudut pandang.
Sudah saatnya kita menjadi anak bangsa yg cerdas. Loyalitas itu bagus, tapi jangan sampai membuat kita kehilangan 'kemanusiaan' yg sudah diberikan pembeda dari makhluk Allah lainnya: akal dan hati nurani. Bersama kita rawat bersama.
Tabik.
Saya dan teman2 yg biasa berdiskusi ilmiah berbasis riset dan data pasti berpendapat sama dengan mbak di video ini. Tapi kalau buzzer & orang yg mendapat cuan dari proyek ini ya beda ceritanya...
Dikit² Ngomongnya: Jangan Tinggal Di Indonesia!
Dikit² Ngomongnya: Pergi Dari Indonesia!
Kelen Setuju Ngga, Orang Ini Yang Diusir Dari Indonesia?
Kasih Tanda Retweet, Kalau Kelen Setuju
Penyebab SPBU Non Pertamina kehabisan stok.
1) ini dampak korupsi oplosan BBM Pertamina yg terjadi 2018 - 2023 saat rezim Jokowi
2) setelah kejadian tsb konsumen kehilangan kepercayaan ke BBM Pertamina dan berpindah ke BBM Non-Pertamina (walaupun harganya lebih mahal) shg permintaan BBM Non-Pertamina melonjak
3) walaupun kuota impor BBM Non-Pertamina sdh dinaikkan - blm mampu memenuhi kenaikan permintaan BBM Non-Pertamina.
4) pemerintah (Kem ESDM) sepertinya tidak berkenan lagi menambah/menaikkan kuota impor BBM Non-Pertamina dan meminta SPBU Non-Pertamina utk kerjasama dengan Pertamina
5) diduga bhw SPBU Non-Pertamina enggan bekerjasama dg Pertamina krn konsumen tdk percaya lagi Pertamina.
Kesimpulan :
Koruptor oplosan BBM Pertamina selain sdh merugikan Negara dan Konsumen - juga sudah menghilangkan kepercayaan konsumen ke Pertamina yg akan mematikan Pertamina.
Maka semua pihak yg terlibat korupsi oplosan BBM Pertamina yg berlangsung selama rezim Jokowi harus dihukum seberat-beratnya
Bila akan bicara,
tanya ke diri:
1. Perlukah saya bicara?
2. Apa niatnya?
3. Baik dan benarkah isinya?
4. Apa dampaknya?
Bila belum yakin, maka tak usah bicara.
#AaGymNotes
JALAN PANJANG NAN BERLIKU DALAM MELAHIRKAN PEJABAT DAN WAKIL RAKYAT YG BERINTEGRITAS
Bagaimana pun, biaya pemilihan yg tinggi di Indonesia sering kali mendorong kurangnya integritas di kalangan pejabat dan wakil rakyat. Calon kandidat (mulai dari Kepala Desa, Bupati dan Wakil Bupati, Anggota Legislatif Daerah, Gubernur dan Wakil Gubernur, Anggota Legislatif tingkat Provinsi, Anggota Legislatif tingkat Pusat hingga Presiden dan Wakil Presiden)kerap mengeluarkan dana besar untuk kampanye, yg dapat menciptakan tekanan untuk "mengembalikan modal" melalui praktik korupsi setelah terpilih.
Kondisi ini diperparah oleh rendahnya edukasi politik di kalangan pemilih, yg membuat sebagian rakyat cenderung pragmatis, seperti menerima uang atau bantuan (katanya) sosial dan atau iming-iming lain saat pemilihan.Faktor ini menciptakan lingkaran setan: kandidat membutuhkan dana besar untuk menang, dan pemilih (maaf) bodoh yg tentunya kurang teredukasi sehingga mudah dipengaruhi oleh politik transaksional.
Partai politik di Indonesia pun sering kali gagal menyaring kandidat dengan integritas tinggi dan justru cenderung memfasilitasi praktik pragmatis demi meraup suara dan kursi. Banyak partai (saya perhalus untuk menggantikan istilah seluruh partai), diakui atau pun tidak, lebih mengutamakan bagaimana caranya agar 'menang'. Sehingga aspek popularitas dan atau kemampuan finansial kandidat lebih menarik atau dijadikan salah satu 'strategi' ketimbang rekam jejak moral dan kompetensi. Hal ini terlihat dari fenomena 'politik dinasti' atau pencalonan publik figur tanpa integritas dan pengalaman politik yg memadai, yg sering didukung partai untuk menarik perhatian pemilih.
Di sisi lain, penyelenggara pemilihan (KPU dan Bawaslu) pun ikut andil dalam carut marutnya lingkaran setan ini. Banyak dari penyelenggara pun ikut 'bermain' atau 'dapat dikondisikan'. Sudah menjadi rahasia umum, beberapa kandidat dan atau partai politik, melalui 'organisasi bayangannya' mengkondisikan penyelenggara pemilihan dengan memasukkan kader atau anggotanya menjadi bagian dari penyelenggara, atau mengkondisikan dengan cara tertentu (yg kita sudah tahu apa dan bagaimananya).
Belum lagi ikut andilnya oknum aparat keamanan. Otoritas mereka yg seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga integritas bangsa dan negara, justru dimanfaatkan sedemikian rupa untuk ikut memenangkan salah satu kandidat di masa pemilihan. Ini rahasia umum juga.
Sepanjang rantai lingkaran setan ini tidak putus atau kita putuskan, sepanjang itulah bangsa ini tidak akan pernah mendapatkan pejabat dan wakil rakyatnya dengan sebaik-baiknya.
Kalau begitu jangan memilih saja? Sebagian di antara kita menyimpulkan sederhana. Fakta di lapangan, semakin banyak yg tidak memilih, justru semakin memudahkan bagi para kandidat, penyelenggara dan oknum aparat untuk melakukan rekayasa. Surat suara bisa disobek, tapi sistem perhitungan hingga pembacaan keputusan rekapitulasi hasil pemilihan terlampau mudah untuk dikondisikan.
Ini kondisi 'jalan' kita. Yg pangkalnya jauh, namun ujungnya belum tiba. Kita seperti masuk ke dalam terowongan gelap yg tidak tahu di mana dan kapan ujungnya.
Namun, jika kita berhenti dan tidak ke mana-mana, kita akan mati di tengah kegelapan. Satu-satunya cara adalah kita melahirkan dan menciptakan generasi baru. Generasi kebangkitan. Generasi yg melanjutkan idealisme dan harapan. Kita tidak punya pilihan. Berhenti mati, mundur masuk jurang.
Bersama kita bergandeng tangan. Bersatu padu antar golongan. Abaikan dulu egoisme ideologis di masa seperti ini. Dialektika kelompok kiri, tengah dan kanan harus sementara diabaikan. Kita butuh bersama-sama. Kita perlu bekerja bersama. Kita wajib berjuang bersama. Karena jika tidak, selamanya kita dan anak cucu bangsa akan begini-begini saja.
Tabik.
@prabowo - Ganti Kapolri, Kapolda Metro, Komandan Brimob
- Kembalikan kedudukan Kepolisian dibawah kementerian
- Reshuffle kabinet & jauhkan dari antek² JKW
- SEGERA terbitkan UU perampasan aset koruptor
- Hukum seberat²nya pembunuh Affan Kurniawan
Klo sampai gk terlaksana berarti omon²
harga silverium 33gram 7agustus 2024
kira2 berapa harga 7agustus 2025??
tak kasih waktu 10hari buat kalkulasi🧮
close coment 15juni
ada cash 5juta dibagi 10pemenang, diumumkan 8agustus..
Rt&Like sangat berpeluang menang✅
Ini Dia Kasmujo, Dosen Pembimbing Skripsi Jokowi yang Katanya Galak
https://t.co/JvG1dqX67y
KOK SEKARANG JOKOWI mengakuinya sebagai DOSEN PEMBIMBING AKADEMIK?
STOP BOHONG walau sekali saja, apa gak bisa Jokowi?