Ada satu pertanyaan kasir F&B yang sering kita dengar:
“Makan di sini atau dibawa pulang, Kak?”
Kelihatannya cuma pertanyaan biasa. Padahal di baliknya ada CONSUMER INSIGHT yang mahal banget ✨
Saat customer jawab:
“DINE IN."
Yang dia beli bukan cuma makanannya. Tapi juga suasana, AC, WiFi, musik, kenyamanan, sampai interaksi staf.
Saat jawab:
"TAKEAWAY."
Value-nya berubah total: Kecepatan, packaging, praktis, dan kondisi produk setelah perjalanan.
Produknya SAMA,
tapi experience yang dibeli BEDA.
Contoh simpel:
Ada 3 orang beli Iced Latte yang sama.
• Orang A: Beli jam 8 pagi sebelum masuk kerja (butuh cepat & kafein).
• Orang B: Beli jam 1 siang sambil buka laptop (butuh tempat kerja).
• Orang C: Beli jam 8 malam bareng teman (butuh tempat ngobrol).
Di POS/sistem kasir tercatat:
3 Iced Latte terjual.
Namun di mata marketing, ketiganya beli untuk alasan yang berbeda.
Kalau data kasir ditarik lebih dalam:
• 07.00–10.00: Mayoritas Takeaway
• 12.00–14.00: Mayoritas Dine-in cepat
• 19.00–22.00: Mayoritas Dine-in lama
Kelihatannya cuman angka penjualan, sebenarnya kita lagi melihat BEHAVIOUR customer.
Dari sini, strategi marketingnya bisa langsung disesuaikan:
• Pagi: Dorong menu takeaway & speed of service.
• Siang: Buat lunch package serba cepat.
• Malam: Jual ambience, menu sharing, atau experience.
Data penjualan F&B itu gak boleh berhenti di pertanyaan:
“Menu apa yang paling laku?”
Kita harus naikkan levelnya:
• KAPAN mereka beli?
• DI MANA mereka konsumsi?
• DENGAN SIAPA mereka datang?
• Dalam KONDISI apa mereka butuh kita?
"Transaksi cuma memberitahu APA yang dibeli. Konteks memberitahu KENAPA mereka membelinya."
Dan insight marketing terbaik sering kali bersembunyi dari pertanyaan sesederhana:
“Makan di sini atau dibawa pulang, Kak?”
Hanya bertanya, sebenarnya Mas @ainunnajib ada masalah apa dengan Muhammadiyah, ya?
Aku bukan warga Muhammadiyah, bukan juga warga NU.
Tapi melihat QRT Mas Ainun pagi ini melaga-laga sesama ormas Islam antara NU dan MU, ini benar-benar enggak masuk akal.
Kalau saat ini banyak netizen yang menyerang NU, harusnya NU atau Mas Ainun sendiri evaluasi dan merenung lebih dalam, kenapa banyak yang hate comment ke NU dan kenapa banyak yang tidak suka dengan NU?
Analisis sederhanaku, terlalu banyak oknum di NU yang berlebihan sampai-sampai membuat malu nama NU itu sendiri.
Tak perlu kita cari contohnya jauh-jauh, sesederhana sikap Mas Ainun di Twitter/X saja dari kemarin penentuan awal puasa misalnya sampai pagi ini perihal korupsi Kementerian Agama yang jelas-jelas pimpinannya diiisi orang NU.
Berhentilah menyalah-nyalahkan pihak luar kalau masalahnya ada di dalam, Mas.
Tak elok rasanya.
Lagian, pimpinan Kementerian Agama juga selalu diisi oleh orang NU. Kalau diisi orang Muhammadiyah, sudah pasti Muhammadiyah yang akan dihujat habis-habisan.
Wajar itu, Mas. Namanya juga rakyat marah.
Enggak ada kaitannya mau menjatuhkan NU, dll.
Karena, NU itu jadi buruk karena kelakuan warganya sendiri.
Jadi, sebelum menyalah-nyalahkan pihak luar, lebih baik benahi dulu internalnya, termasuk pola pikir Mas Ainun dalam topik ini.
Yang klinis dibantah, yang klenik disembah. Yang pakar diragukan, yang sensasional dipertontonkan. Orang pintar dibilang bodoh, orang bodoh merasa pintar. Ternyata, sebaik-baiknya makan bergizi gratis, negeri ini lebih membutuhkan pendidikan gratis
Lagi kejadian rjp pasien post kecelakaan, tbtb ada keluarga ps teriak "anak saya belum diapa2in!", terus salah satu perawat jawab "ps ini henti jantung karena ditabrak anak bapak"
Boom seketika diem
The closer you get to the Almighty, the quieter you become. You become less arrogant, more observant, and you do not seek people's validation. Remember, wisdom is silent, arrogance is loud.
Ika Zidane, the Indonesian voice of Ninja Hattori in ‘Ninja Hattori-kun,’ Doraemon in ‘Stand By Me,’ Setsuna Meio in ‘Sailor Moon,’ and more, has sadly passed away.