Ünlü bir nörolog diyor ki:
Erken dönem demansın (bunamanın) ilk belirtisi unutkanlık değildir.
Herkes sanıyor ki demans önce hafıza kaybıyla başlar, ama gerçekte daha basit ve erken bir şeyle başlayabiliyor.
Bu işaret 45 yaş civarından itibaren fark edilebiliyor.
Curhat di sini lebih aman drpd di app tetangga. There's a lot of eyes that just want to know what happened with little interest in comforting you/being a friend. 👀
@zakiberkata Emang syulit, ga bisa paham kata prediksi, potensi, ramalan. Dipikir Tuhan apa ygbkasih info, pasti akan terjadi. Namanya prediksi dari pola yg terlihat, emangnya ada Aang bisa ngendaliin itu angin, awan, dan segala variabel cuaca?? Prediksi wooooy
@y0uwesben@SiMeong888@SosmedAnu@RecehinAjaid Aku juga berapa kali kasirnya izin boleh pakai enggak tebus murahnya, izin masukin nomor member. Kan lumayan dia bisa jajan. Mungkin tetap tergantung adab orang aja.
Jujur, menjadi bapak-bapak usia 40-an yang harus bersikap "tega" ke anak sendiri itu menguras mental. Apalagi kalau berhadapan dengan anak perempuan umur 6 tahun yang lagi jago-jagonya negosiasi.
Kadang rasanya pengen menyerah saja. Mengiyakan apa yang dia mau supaya rumah tenang, dan saya bisa duduk sebentar nyeruput kopi hitam tanpa dengar suara rengekan.
Istri saya adalah seorang perawat NICU. Setiap hari dia merawat bayi-bayi prematur yang butuh presisi dan kedisiplinan tingkat tinggi. Jadi buat dia, urusan rutinitas anak di rumah—jadwal tidur, jam belajar, dan batas waktu main gadget—adalah hal mutlak. Kalau istri lagi dapat shift jaga malam, otomatis sayalah sang "Panglima Tempur" yang harus menegakkan semua aturan itu sendirian.
Tiap jam 8 malam, dramanya sering mengalahkan sinetron.
"Yah, 5 menit lagi ya YouTube-nya!"
"Yah, aku belum ngantuk, mau main block sebentar lagi!"
Mendengar dia menangis karena iPad-nya saya tarik, batin ini rasanya perang. Saya sempat mikir, "Apa saya terlalu keras ya sama anak sendiri?"
Tapi kemudian saya menemukan grafik dari Family Studies di bawah ini. Rasanya seperti ditampar, sekaligus dipeluk.
Di grafik itu ada satu temuan yang sangat valid, Stricter parenting is harder. Menetapkan aturan yang ketat itu memang bikin orang tua lebih pusing, capek, dan stress (lihat bar warna krem). Jauh lebih gampang ngasih anak HP supaya mereka diam.
TAPI, coba perhatikan bar warna biru dan abu-abunya.
Ternyata, aturan yang bikin kita capek itu—seperti menetapkan jam tidur yang ketat (strict bedtime) dan membatasi gadget (screen time limits)—justru meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak secara drastis. Dan hebatnya lagi, ini bukan cuma klaim dari kacamata kita sebagai orang tua, tapi anak-anak juga merasakannya!
Pantas saja. Walaupun semalam dia menangis tersedu-sedu karena saya suruh berhenti nonton dan masuk kamar, pagi ini dia bangun dengan sangat segar.
Tiba-tiba dia lari, memeluk kaki saya dari belakang pas saya lagi menyeduh kopi di dapur, sambil menyengir lebar, "Ayah, ayo temenin adek main Lego!"
Tidak ada dendam. Yang ada hanya anak yang merasa aman, karena dia tahu kapan batasnya, kapan dia harus berhenti, dan kapan dia harus istirahat.
Ternyata anak-anak kita butuh ketegasan untuk merasa diperhatikan. Capeknya berdebat tiap malam dan menahan rasa "nggak tegaan" itu adalah investasi jangka panjang untuk kedekatan kita dengan mereka di masa depan.
Bismillah. Mari kuat-kuatkan mental jadi orang tua yang tega demi kebaikan mereka sendiri. 💪
Bagaimana dengan Bapak/Ibu di sini? Ada yang sering perang batin juga setiap menyuruh anak tidur atau menarik gadget dari tangan mereka? Apa trik kalian supaya tetap waras menghadapi fasenya?
@vincanyoo Dlu alm mama sakit keras, sampai meninggal aku (perempuan) yg urus. Tmn mama yg jenguk bilang dia iri, enaknya pny ank perempuan, ada yg urus. Dia punya 9 anak laki² yg semuanya maunya diurus dia, termasuk suami manchildnya. Pen bgt bilang, Tante, ga usah diurus, anaknya dah gede