"Mother don't cry for me I am heading off to war/God almighty is my armour and sword/Palestine, Forever Palestine"
- Sami Yusuf - Forever Palestine ๐ฎ๐ฉ๐ต๐ธ
#FreePalestine#SaveSheikhJarrah#INAstandswithPalestine
๐จ๐ฃ๏ธ Josรฉ Mourinho on the refereeing in Argentina's 3-2 victory over Egypt:
"When you play against this Argentina team, being 2-0 up is never enough, because you are not just trying to beat eleven men on the pitch. You are trying to beat the whistle. You are trying to beat the VAR room. You are trying to beat the entire script of the tournament.
Salah was through on goal and the referee blows his whistle for a foul against Egypt for Paredes failing to get the ball. Cristian Romero almost snaps Mohamed Salahโs leg in half, and the referee suddenly goes blind. No card. Egypt scores a beautiful goal, and VAR rewinds the game back to the Stone Age just to find a reason to cancel it. And then, in the 93rd minute, they foul Salah in the box, a clear penalty that would win Egypt the game and they let play continue so Enzo can go down the other end and score the winner. It is not football anymore. It is a movie, and the ending has already been decided before the players even walk out of the tunnel."
WATCH OUT INDONESIA.
The US is putting massive pressure on Indonesia right now as part of its desperate plan to contain China.
The goal?
Turn Indonesia into a US client state that helps enforce an extended blockade around the Malacca Strait >> choking off Chinaโs main energy lifeline.
Weโre already seeing the signs: a flood of new hit pieces on the Prabowo government popping up everywhere.
Polymarket (that classic US psyop betting tool) is suddenly running projections on regime change.
Western-controlled media outlets are sliding into DMs with Brian Berletic and myself, fishing for angles >> because we were among the few who called out the last color revolution attempt and exposed the Soros/NED funding networks behind the 2025 unrests.
This is coordinated.
Thereโs a clear plan to destabilize Indonesia and flip it fully into the Western camp.
Donโt be surprised when your feeds (including X) get flooded with more and more negative coverage of the Indonesian government >> โauthoritarian,โ โcorrupt,โ โunstable,โ the usual script.
Indonesia is too important: biggest Muslim country, strategic geography, resources, and balancing act between powers. The US doesnโt like that independence.
They want control over those sea lanes for any future Taiwan or South China Sea showdown.
Stay vigilant, Indonesia.
Separate real domestic issues from foreign-funded chaos.
The hybrid war playbook is in full swing >> info ops, NGOs, media smears, and political pressure.
Donโt let them turn your country into the next pawn.
Guys, Benix baru sharing sesuatu langsung dari Wall Street New York yang menurut gue paling menampar muka kita sebagai bangsa dalam waktu belakangan ini.
Bukan soal rupiah.
Bukan soal IHSG.
Tapi soal sesuatu yang lebih fundamental:
Indonesia kehilangan ribuan triliun investasi bukan karena tidak ada yang mau masuk.
Tapi karena kita sendiri yang mengusir mereka.
Tiga negara yang mengadu dan ini memalukan:
Swiss:
Duta besar Swiss untuk Indonesia
Olivier Zender secara terbuka komplain.
Ada lebih dari 150 perusahaan Swiss yang beroperasi di Indonesia dan mau ekspansi.
Mau invest di sawit, pabrik pengolahan susu, keju, petrochemical, farmasi.
Sampai sekarang tidak bisa.
Gara-gara perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa tidak kunjung diimplementasikan.
"Ini momen yang memalukan.
Duta besar negara lain membela pengusahanya supaya bisa invest di negara kita
sementara duta besar kita tidak pernah terlihat bela pengusaha Indonesia di luar negeri."
Prancis:
Duta besar Prancis Muhammad Omar sudah 4 tahun bertugas di Indonesia.
Ada 11 perusahaan Prancis yang sudah siap invest.
Sampai sekarang masih pending semua.
Alasannya satu: tidak ada kepastian regulasi.
Hari ini bebas pajak.
Besok tidak.
Hari ini satu aturan.
Besok aturan berubah.
Tidak ada yang bisa diprediksi.
Uni Emirat Arab:
Ini yang paling brutal.
Hampir Rp800 triliun gagal masuk ke Indonesia.
Ada satu investor Arab yang sudah siap bawa Rp85 triliun 5 miliar dolar.
Di saat yang sama dia juga lihat peluang di Amerika Serikat. Karena proses izin di Indonesia tidak jelas-jelas selesai dia akhirnya buka pabrik di Amerika.
Sekarang pabriknya di Amerika sudah running.
Di Indonesia masih standby.
Dan Rp85 triliun itu pergi ke Amerika.
Dan keluhannya selalu sama dari dulu:
Benix bilang keluhan investor tidak berubah dari ribuan seminar yang sudah dibikin pemerintah.
Birokrasi berbelit-belit.
Izin tumpang tindih antara pusat dan daerah.
Tidak ada kepastian hukum.
Pungli dan premanisme merajalela.
Regulasi berubah-ubah tanpa pemberitahuan.
Pemerintah pusat bilang A.
Gubernur bilang B.
Bupati bilang C.
Walikota bilang D.
Kepala desa bilang E.
RT/RW bilang F.
Dan kalau tidak ikut semua lapisan gudangmu bisa dibakar, bisa didemo ormas.
Contoh yang paling gila:
BYD, Cherry, Wuling datang ke Indonesia.
Buka pabrik mobil listrik.
Lapangan kerja tercipta.
Impor BBM berkurang.
Semua pihak diuntungkan.
Tapi setelah pabrik berdiri insentif pajak yang dijanjikan tiba-tiba dihilangkan.
Hari ini bebas pajak.
Besok tidak bebas pajak.
Hari ini tidak bayar PPN.
Besok harus bayar.
Hari ini ada satu aturan.
Besok ada aturan baru lagi.
Siapa yang mau invest di negara seperti itu?
Itu bukan investasi. Itu perjudian.
Dan ini yang paling ironis:
Indonesia punya semua yang dibutuhkan investor:
280 juta penduduk pasar konsumen terbesar keempat di dunia.
Nikel terbesar di dunia.
Sawit terbesar di dunia.
Lokasi strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik. UMR yang kompetitif.
Tapi yang jadi pusat perdagangan Asia Tenggara bukan Indonesia. Singapura.
Negara kota yang luasnya tidak lebih besar dari sebagian Jakarta.
Negara yang menikmati posisi strategis Selat Malaka bukan Indonesia yang memilikinya tapi Singapura yang mengelolanya dengan benar.
Dan rupiah terus melemah ini bukan kebetulan:
Ketika investor tidak mau masuk dolar tidak mengalir masuk. Capital outflow terus terjadi. Rupiah makin tertekan.
Prabowo bilang: "Mau dolar berapa ribu kek."
Gubernur BI bilang: "Rupiah stabil volatilitasnya 5,4%."
Tapi kenyataannya: duta besar Swiss, Prancis, dan Uni Emirat Arab semua mengadu bahwa investasi mereka tidak bisa masuk.
Rp800 triliun dari UEA saja gagal masuk. Berapa total yang sudah gagal selama bertahun-tahun?
Masalah Indonesia bukan kurang sumber daya alam. Bukan kurang potensi. Bukan kurang investor yang mau masuk.
Masalah Indonesia adalah sistem yang membuat orang yang mau masuk akhirnya memilih pergi.
Dan selama birokrasi berlapis-lapis, regulasi berubah-ubah, pungli dan premanisme tidak diberantas serius, serta izin bisa berbeda antara pusat dan daerah investor terbaik yang sudah siap bawa triliunan ke Indonesia akan terus memilih Vietnam, Thailand, atau Singapura.
Dan rupiah akan terus melemah.
Bukan karena faktor global semata.
Tapi karena kita sendiri yang membangun tembok untuk mengusir uang yang seharusnya bisa menciptakan lapangan kerja bagi rakyat kita.
Guys, gue perlu lo baca ini baik-baik karena ini menurut gue salah satu potret paling absurd yang pernah terjadi di republik ini dalam satu hari yang sama.
Pagi โ Prabowo bilang di depan ribuan rakyat:
"Mau dolar berapa ribu kek, di desa kan enggak pakai dolar."
Siang โ Kapolri Listyo Sigit laporan ke Prabowo soal hasil panen jagung Polri.
Dan Prabowo memberi apresiasi.
Bukan panen raya hasil tangkap pengedar narkoba. Bukan laporan pemberantasan korupsi.
Bukan statistik kejahatan yang berhasil ditekan.
tapi Panen jagung.
sekali lagi karna panen jagung
Kapolri sekarang tugasnya apa:
661.112 hektar lahan jagung ditanami Polri di 2025. Hasil panen 3,9 juta ton.
Target 2026 naik jadi 1,37 juta hektar.
Polri punya gudang ketahanan pangan.
Polri punya SPPG dapur MBG.
Polri ekspor jagung ke Malaysia dengan margin Rp500 per kilogram.
Dan Kapolri berdiri di depan Presiden melaporkan ini semua dengan bangga.
Gue perlu tanya dengan sangat serius:
Ini Kapolri atau Menteri Pertanian?
Sementara itu di tempat lain di hari yang sama:
Josepha Alexandra siswi SMA yang hafal konstitusi sampai tidur komat-kamitstres berat di rumah setelah diancam lewat WhatsApp oleh nomor tak dikenal karena berani mempertanyakan ketidakadilan juri di lomba cerdas cermat.
Dia bertanya kepada kakaknya:
"Kak, apa aku harus minta maaf?
Katanya aku yang bikin gaduh."
Nadiem Makarim yang membangun ekosistem yang menghidupi jutaan keluarga driver ojol, yang hartanya berkurang selama menjabat,
yang tidak ada satu sen aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke rekeningnya dituntut 27 tahun.
Tom Lembong mantan menteri juga pernah mengalami hal yang
dan masih banyak lagi
Dan ini yang paling bikin gue tidak habis pikir:
Di negara ini sekarang:
Ahli serangga bisa jadi Ketua BGN.
TNI bisa jadi dirut BUMN.
Kapolri tugasnya nanam jagung.
Pejabat yang ketahuan merokok dan main game waktu rapat cuma ditegur.
Tapi orang yang membangun lapangan kerja jutaan orang dituntut 27 tahun.
Anak SMA yang berani jujur diancam somasi.
Wartawan yang laporkan fakta bencana ditekan bosnya untuk diam.
Lo tanya kenapa Amerika bisa sejahtera
padahal kapitalis.
Kenapa China bisa jadi ekonomi nomor dua padahal komunis.
Sementara kita yang katanya demokrasi berlandaskan Pancasila malah makin jauh dari Pancasila itu sendiri.
Gue akan jawab dengan jujur.
Amerika sejahtera bukan karena kapitalisnya.
Tapi karena institusinya bekerja.
Polisi Amerika tugasnya penegakan hukum bukan nanam jagung.
Jaksa Amerika membuktikan kasusnya di pengadilan yang fair bukan dengan audit dari lembaga di bawah presiden.
Anak muda Amerika yang mempertanyakan ketidakadilan dilindungi hukum, bukan diancam WhatsApp.
China jadi ekonomi nomor dua bukan karena komunisnya.
Tapi karena mereka punya satu musuh bersama yang konsisten dikejar: korupsi.
Xi Jinping mencopot jenderal bintang empat
kalau terbukti korup.
Tidak ada yang kebal.
Tidak ada yang terlalu besar untuk dijatuhkan.
Sementara kita?
Kita punya Pancasila yang indah di atas kertas.
Kita punya konstitusi yang dihafal anak SMA sampai tidur komat-kamit.
Kita punya semboyan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tapi eksekusinya adalah Kapolri nanam jagung,
siswi SMA diancam WhatsApp,
dan orang yang menutup celah korupsi pendidikan dituntut 27 tahun.
Yang paling miris dari semua ini:
Bukan pejabatnya.
Bukan sistemnya.
Tapi fakta bahwa kita semua sudah mulai terbiasa.
Kita baca berita Kapolri nanam jagung dan kita scrolling terus. Kita baca anak SMA diancam dan kita bilang "kasihan" lalu lanjut.
Kita baca Nadiem dituntut 27 tahun dan kita berdebat di kolom komentar.
Normalisasi itulah yang paling berbahaya.
Karena ketika absurditas sudah terasa normal tidak ada lagi yang merasa perlu berubah.
Negara yang Kapolrinya bangga laporan panen jagung ke presiden sementara anak SMA yang hafal konstitusinya diancam WhatsApp adalah negara yang sedang kehilangan arah dengan sangat serius.
Bukan karena tidak ada orang baik di dalamnya. Josepha ada.
Nadiem ada.
Para wartawan yang tetap meliput dengan jujur ada. Para guru yang tetap mengajar dengan tulus ada.
Tapi sistem yang seharusnya melindungi mereka justru sedang sibuk nanam jagung.
Guys, Felix Siauw baru ngomong sesuatu di podcast Helmy Yahya yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari seorang ustaz Indonesia dalam waktu lama.
Dan intinya satu kalimat yang langsung dilontarkan:
"Orang Indonesia tidak pernah menjadi Islam."
Bukan karena KTP-nya.
Tapi karena cara berpikirnya.
Masalah pertama
kita salah paham soal tawakal:
Felix kasih contoh yang sangat konkret.
Ada pesantren roboh.
Respons orang Indonesia:
"Qadarullah, ini takdir Allah."
Felix langsung potong:
itu bukan tawakal.
Itu kebodohan yang dibungkus agama.
Karena setiap insinyur teknik sipil yang melihat bangunan tiga lantai dengan pondasi yang salah sudah bisa prediksi itu akan roboh.
Tidak perlu menunggu roboh untuk tahu.
Dan kalau kita sudah tahu sebabnya tapi tidak dikerjakan lalu ketika roboh bilang qadarullah itu bukan pasrah pada Allah.
Itu menyalahkan Allah atas kelalaian kita sendiri.
Rasulullah memakai baju besi
dua lapis di medan perang.
Seorang sahabat tanya kenapa.
Jawabannya sederhana:
karena sebab akibat adalah bentuk tawakal yang sesungguhnya.
Bekerja sekeras mungkin baru serahkan hasilnya.
Masalah kedua
"enggak apa-apa mereka ambil dunia,
yang penting kita akhirat"
Felix bilang dia ingin kritik keras kalimat ini.
Karena logikanya terbalik total.
Cara masuk surga menurut ulama ada empat:
dengan ilmu,
dengan kekuatan,
dengan harta,
atau dengan doa.
Kalau kamu tidak punya ilmu,
tidak punya kekuatan,
tidak punya harta kamu hanya tersisa doa.
Dan kalau kamu bilang "yang penting akhirat" sambil tidak mengerjakan satu pun dari empat jalan itu dengan serius kamu sedang tidak mengejar akhirat.
Kamu sedang memakai akhirat sebagai alasan untuk tidak berusaha.
Rasulullah miskin bukan karena tidak bisa kaya.
Beliau miskin karena memilih memberi semua yang dimiliki kepada yang membutuhkan.
Miskin by choice bukan miskin karena tidak punya pilihan.
"Kalau dunia aja kamu enggak bisa nguasain,
jangan ngomong akhirat.
Akhirat itu lebih susah dari dunia."
Masalah ketiga
tidak ada critical thinking:
Ini yang paling mendasar dan paling merusak menurut Felix.
Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah adalah iqra baca, berpikir, analisa.
Di saat itu bahkan tidak ada buku.
Tidak ada perpustakaan.
Artinya perintah iqra bukan sekadar membaca teks tapi perintah untuk berpikir kritis terhadap segala sesuatu.
Tapi apa yang terjadi di Indonesia?
Pertanyaan dibungkam.
Otoritas tidak boleh diganggu gugat.
Santri yang dilecehkan menerima
karena percaya itu "ritual penyucian."
Orang tua yang anaknya diperlakukan tidak wajar diam karena takut melawan ulama.
Felix bilang ini adalah abuse of authority yang masif dan akarnya adalah ketidakmampuan berpikir kritis yang sudah ditanamkan sejak kecil.
Padahal bahkan Rasulullah sendiri melatih sahabat untuk tidak buta taat.
Ada sahabat yang diperintahkan pemimpinnya masuk ke dalam api sebagai hukuman.
Mereka ragu dan datang bertanya ke Rasulullah.
Jawaban Rasulullah:
"Untung kalian tanya aku.
Kalau kalian masuk,
kalian tidak akan keluar selamanya."
Dari situ keluar hadis:
taatlah kepada makhluk selama tidak bermaksiat kepada Allah.
Artinya Islam dari awal mengajarkan untuk mempertanyakan bahkan otoritas.
Masalah keempat faktor struktural yang sering dilupakan:
Felix tidak hanya menyalahkan internal.
Ada faktor eksternal yang sangat besar yang tidak boleh diabaikan.
Di zaman kolonial Belanda,
ada sistem pembagian kelas berdasarkan akta kelahiran STBL.
Kelas pertama orang Eropa.
Kelas kedua orang Arab, India, Cina.
Kelas ketiga pribumi dan pribumi Muslim ada di posisi paling bawah.
Akta kelahiran itu menentukan siapa yang boleh sekolah di mana, siapa yang boleh masuk restoran mana, siapa yang boleh masuk pemerintahan.
Bukan soal kemampuan tapi soal sistem yang dirancang untuk memastikan satu kelompok tidak bisa mengakses kekayaan dan pengetahuan.
Itulah mengapa sampai hari ini di daftar orang terkaya Indonesia dan dunia dominasi Muslim sangat kecil dibandingkan populasinya.
Ini bukan semata karena etos kerja.
Ini juga karena sistem yang dibangun ratusan tahun untuk menutup akses.
Korelasi yang menarik antara keyakinan dan peradaban:
Felix membawa temuan arkeologi di Gobeklitepe, Turki bangunan berusia 11.000 tahun yang mendahului rumah dan ladang pertanian.
Para arkeolog menyimpulkan bahwa manusia tidak membangun keyakinan setelah perutnya kenyang.
Justru sebaliknya keyakinan dibangun dulu,
baru peradaban lain mengikuti.
Ini membalik teori lama bahwa agama
adalah produk kemakmuran.
Ternyata keyakinan adalah fondasinya.
Tapi ada yang salah kaprah.
Felix memisahkan dengan jelas:
bukan agamanya yang menentukan maju atau mundur suatu bangsa tapi kepedulian.
Romawi maju bukan karena agama tertentu tapi karena mereka peduli pada kotanya,
pada infrastrukturnya, pada warganya.
Ketika kepedulian itu hilang Romawi hancur.
Bukan karena Tuhannya berubah.
Felix menyimpulkan dengan satu pertanyaan keras yang ditujukan kepada dirinya sendiri dan seluruh ulama Indonesia:
"Rasulullah bilang ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama. Ketika ulama pergi tanpa meninggalkan warisan berpikir yang benar yang terpilih adalah pemimpin-pemimpin bodoh.
Dan pemimpin bodoh membuat kebijakan bodoh yang menghancurkan umatnya."
Artinya yang paling bertanggung jawab atas kondisi umat bukan politisinya. Bukan penjajahnya. Tapi mereka yang seharusnya mendidik cara berpikir dan memilih untuk tidak melakukannya.
โ ๏ธ Disclaimer: Berdasarkan podcast Helmy Yahya bersama Felix Siauw. Semua pandangan adalah pendapat pribadi narasumber dalam konteks diskusi keagamaan dan peradaban. Pembaca dianjurkan untuk memverifikasi referensi sejarah dan hadis dari sumber primer.