(-)
“Hitoka, will you marry me? kita mulai kehidupan bersama, dari sekarang, hingga akhir hayat.” Sambung Shoyo dengan penuh keseriusan, setiap kata-kata itu menderu begitu serius dan yakin.
((. @yaxchitoka
⠀⠀⠀⠀⠀
Canggung.
Tsukishima bukannya tidak paham sopan-santun, namun lidahnya kelu untuk sekadar mengucap terima kasih kepada Kuroo.
Setelah terdiam beberapa saat—padahal hanya dua atau tiga detik—ia mengucap, dengan suara yang lebih ringan dari sejumput kapas.
“Terima kasih.”
Jawabannya benar-benar tidak manis. Meski begitu sebuah senyuman menghiasi wajah Kuroo.
"Syukurlah." Kalau saja Tsukki tidak menyukainya, mungkin Kuroo akan mencecar pria yang selalu bersama Tsukki—Yamaguchi, karena memberinya informasi palsu.
Ah, bocah oranye berisik itu. Semoga ia tidak melakukan hal yang memalukan—jujur saja, Tsukishima tidak suka hal-hal yang membuat perhatian tertuju pada dirinya.
“Hadiahnya …”
Iris sewarna madu bergulir turun, memandangi hadiah, lalu kembali menatap Kuroo.
“Tidak buruk.”
Tidak mungkin ia memberitahu—bukan junior manis—Tsukki kalau ia bahkan mengaktifkan pengingat ulang tahun pria itu yang sudah berdering semenjak tiga hari lalu.
"Oh itu, aku tahu dari postingan instagram Shoyo," dustanya. "Kau suka hadiahnya?"
…
Bagaimana bisa Kuroo mengetahui apa kesukaannya?
Gengsi, Tsukishima membalas dengan senyuman mengejek. “Tidak kusangka Kuroo-san mengingat ulang tahunku.”