Pernah denger pesugihan yang tumbalnya nggak bisa digantiin pake nyawa orang asing, sampai akhirnya ngebantai sekeluarga? Di Surabaya, ada satu istana mangkrak karena pemiliknya ditenggelamin ke dasar laut sama iblis pesugihannya sendiri.
Lolos dari hutan Ngawi, kita ngira kota besar bakal ngasih rasa aman. Malam itu, kita masuk ke rumah tempat arwah keluarga itu masih nyari raga pengganti.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Banyak player FM nangis karena FFP (Financial Fair Play) atau cuma dikasih modal transfer receh sama board. Padahal, ekosistem ekonomi di FM itu gampang banget dimanipulasi kalau tahu celahnya!
Lalu, caranya gimana?
Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA.
Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?"
Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Doni Tri Pamungkas di push ke depan melebar buat jaga kelebaran dan serangan di kiri. Buat Rizky Ridho lebih ke dalam, posisinya rada sejajar sama bek tengah pas nyerang. Kalo di FM24 Inverted Fullback inimah
Gw udh umrah mandiri berapa kali, pengalaman yg luar biasa!
Tidak memakan biaya banyak, tp menurut sy direkomendasikan bagi yg suka traveling dan sudah biasa travel antar negara.
Yg penting sih sudah ada plan lengkap dan berani belajar hal baru.
Saudi airline juga menyediakan visa transit maksimum 78 jam jika ada yg ingin berencana juga liburan ke negara2 lain yg di sediakan saudi airline.
Selamat mencoba guys!
PANGLIMA DI TENGAH PRAHARA.
Pagi itu atmosfer Jakarta terasa berbeda, di sebagai titik masih terasa asap mesiu dan genangan darah. 1 Oktober 1965, ibukota negara dilanda ketidakpastian situasi. Hanya segelintir orang yang mengetahui dengan pasti akan semua yang tengah terjadi, tidak lain mereka yang menamakan dirinya G30S/PKI.
Dering telepon terdengar di kediaman Mayjen Umar Wirahadikusumah, selaku Pangdam V/Jaya selaku penanggungjawab keamanan di wilayah Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 04:30 beliau mendapatkan telepon dari Kompol Hamdan yang menjelaskan telah terjadi peristiwa di rumah Jenderal Nasution.
Segera dihubunginya Yonkav 7 guna melakukan langkah-langkah pengamanan, dengan panser Saracen Mayjen Umar Wirahadikusumah meluncur ke rumah Jenderal Nasution.
Disana telah tersedia 3 panser yang melakukan penjagaan, Pangdam Jaya segera memeriksa keadaan di rumah tersebut dan menggali informasi awal dari para penghuni rumah.
Setelah itu Pangdam Jaya memanggil-manggil nama Pak Nas, namun tidak ada jawaban. Sebenarnya Pak Nas yang saat itu sedang bersembunyi di rumah Dubes Iraq mendengar seruan tersebut, namun beliau tidak merespon karena masih belum jelas mana lawan dan mana kawan.
Pangdam Jaya lalu memerintahkan untuk meningkatkan penjagaan, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Istana Negara guna mengecek kondisi Presiden Soekarno.
Disekitar Istana terlihat sekelompok militer yang sedang melakukan stelling, belum dapat dipastikan dari kesatuan mana dan apa tujuan mereka menggelar pasukan di tempat itu.
Mayjen Umar Wirahadikusumah segera memasuki Istana Negara dan hendak bertemu dengan Presiden Soekarno, namun berdasarkan laporan dari Brigjen Sabur, Komandan Cakrabhirawa, bahwa Presiden Soekarno sedang tidak berada di Istana Negara. Brigjen Sabur juga mengabarkan bahwa baru saja datang Brigjen Suparjo beserta 3 orang lainnya ke Istana dengan mengenakan Pakaian Dinas Upacara Pelantikan (PDUP).
Belum jelas apa maksud dari semua ini, naluri militernya mendorong agar segera meluncur ke Makostrad, berharap di sana bisa menemukan titik terang akan peristiwa yang tengah terjadi.
Corong RRI pukul 07:00 menyiarkan sebuah pengumuman yang berasal dari kelompok G30S/PKI yang menyatakan telah melakukan tindakan penangkapan terhadap beberapa jenderal TNI-AD dengan tuduhan ingin melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno.
Setelah mendengarkan siaran tersebut, Pangkostrad Mayjen Soeharto dan Pangdam Jaya segera mengumpulkan staf TNI-AD guna membahas perkembangan situasi. Bagi Pangkostrad dan Pangdam Jaya memiliki pendapat senada, mengingat beberapa waktu belakangan terdengar hembusan isu Dokumen Gilchrist yang menuding TNI-AD sedang merencanakan kudeta. Isu yang terus-menerus digencarkan oleh golongan PKI, sehingga menimbulkan kecurigaan di lingkungan pemerintahan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Pangkostrad dengan tegas mengatakan bahwa dirinya mencurigai gerakan tersebut sebagai upaya kudeta, dimana PKI yang mendalanginya. Kecurigaan tersebut juga dirasakan oleh Pangdam Jaya, sehingga dalam rapat pagi itu disepakati bahwa Pangkostrad berhak mengambil alih pucuk pimpinan TNI-AD.
Keputusan tersebut bukan terjadi tanpa dasar yang jelas, tapi merujuk pada pedoman instruksi tetap Men/Pangad tentang pejabat yang mewakili Pimpinan TNI-AD bila Men/Pangad berhalangan maka Pangkostrad yang ditunjuk untuk mewakilinya.
Dengan begitu mulai detik itu secara resmi Pangkostrad Mayjen Soeharto bertindak mengambil alih pucuk pimpinan TNI-AD, selanjutnya Pangkostrad segera mengirim radiogram kepada seluruh Panglima Kodam bahwa telah terjadi upaya kudeta yang dilakukan oleh G30S/PKI. Oleh sebab itu Pangkostrad memerintahkan kepada seluruh jajaran Kodam agar mengikuti arah kebijakan dari Pangkostrad.
Sementara itu pada pukul 06:00 Men/Pangab Jenderal Nasution keluar dari tempat persembunyiannya menuju rumahnya, kemudian dibawa dengan mobil oleh Letnan Kolonel Hidajat Wirasondjaja, Komandan Staf Markas Besar AD, ajudannya Mayor Sumargono..
OPERASI PENCARIAN 7 PAHLAWAN REVOLUSI.
Dengan dihancurkannya kekuatan militer G30S/PKI di Jakarta, operasi dilanjutkan untuk mengetahui nasib para korban penculikan. Berdasarkan hasil pemeriksaan dari anggota sukarelawan Pemuda Rakyat yang ditangkap saat menduduki kantor pusat Telkom, berhasil didapatkan informasi bahwa basis utama kelompok G30S/PKI berapa di sekitar Lanud Halim, dekat perbatasan antara Jakarta Timur dengan Bekasi.
Informasi tersebut kemudian dikembangkan dan segera diteruskan ke Kol Sarwo Edhie Wibowo selaku Komandan RPKAD yang ditugaskan untuk melaksanakan operasi penumpasan. Setelah menerima berbagai data, akhirnya ditemukan sebuah rumah yang terletak di tengah perkebunan karet. Nama daerahnya dikenal sebagai Lubang Buaya, disekitar lokasi juga dijumpai kamp pelatihan militer sukarelawan dari ormas underbow PKI.
Anggota RPKAD yang dipimpin oleh Letda Sintong Panjaitan menyisir lokasi tersebut, sempat menemui kebuntuan dalam menemukan lokasi para korban penculikan, namun titik terang muncul setelah seorang Agen Polisi II Sukitman yang melapor ke markas RPKAD Cijantung bahwa dirinya baru saja menjadi korban penculikan oleh gerombolan tentara yang terlibat penembakan di rumah Brigjen DI Panjaitan.
Dari keterangan Sukitman, dirinya dipaksa ikut dalam keadaan mata ditutup kain ke sebuah lokasi yang tidak diketahui secara pasti olehnya.
Mendengar laporan Sukitman, informasi diteruskan ke Kol Sarwo Edhie lalu komandan RPKAD tersebut memerintahkan agar Sukitman dibawa ke Lubang Buaya untuk memastikan kebenaran dari laporannya.
Letda Sintong Panjaitan menjumpai seorang warga desa yang sedang melakukan aktivitas rutinnya menyadap karet di lokasi tersebut, penduduk tersebut memberikan keterangan bahwa dia melihat sekelompok orang sukarelawan yang menggali beberapa lubang di sekitar lokasi itu.
Setelah ditunjukkan, memang ditemukan beberapa lubang yang telah ditimbun kembali. Untuk memeriksanya, Sintong meminta bantuan beberapa orang warga desa. Mereka menggali kembali lubang-lubang tersebut, namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan para korban.
Sintong memutar otak dan memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyisir ulang lokasi di sekitar rumah kosong. Tapi tidak juga ditemukan tanda-tanda yang dicari, hanya beberapa sobekan kain berwarna merah, kuning dan hijau, serta jejak sepatu lars dan beberapa selongsong peluru. Menandakan bahwa lokasi tersebut belum lama ini dijadikan tempat aktivitas orang banyak.
Beberapa saat kemudian datanglah anggota RPKAD yang mengantarkan Sukitman dari Mako RPKAD Cijantung, dari keterangan Sukitman Sintong berhasil mendeteksi keberadaan sebuah sumur tua yang telah disamarkan lokasinya. Sukitman memastikan bahwa dirinya menyaksikan para sukarelawan memasukkan jasad para korban ke dalam lubang di sekitar pohon pisang.
Tanpa membuang waktu, Sintong menghampiri lokasi yang ditunjukkan oleh Sukitman. Dia beserta anggotanya menusuk tanah di sekitar pohon pisang menggunakan bayonet yang menempel pada ujung laras senapan, tapi tanah tersebut terasa padat yang artinya bukan bekas timbunan.
Setelah beberapa saat Sintong mencurigai pohon pisang yang berdiri di dekatnya, kejanggalan ditemukan karena pohon pisang tersebut tumbuh tanpa ada tunas disekelilingnya.
Ketika dicabut ternyata pohon pisang tersebut sangat mudah, menandakan bahwa pohon tersebut baru ditanam. Segeralah dilakukan penggalian hingga mencapai kedalaman setengah meter, semakin kuat dugaan bahwa lokasi tersebut adalah bekas sumur tua yang dimaksud oleh Sukitman.
Penggalian berjalan lambat karena minimnya alat, untuk itu seorang warga menawarkan bantuan untuk mengerahkan seorang penduduk yang biasa menggali makam. Ide tersebut diterima dan tak lama datang 3 orang penduduk membawa peralatan berupa cangkul dan ember.
Kapal KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di perairan Selat Bali dengan membawa 53 orang penumpang dan 22 unit kendaraan serta 12 kru kapal. Saat ini tim gabungan melakukan upaya pencarian dan menyebabkan antrean kendaraan cukup panjang di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Hal ini disampaikan oleh Kasi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli KSOP Tanjung Wangi, Ni Putu Cahyani, Kamis (3/7). 🎥Suh
#BeritaElshinta