Maka, barangkali yang perlu kita jaga bukanlah kecepatan langkah, melainkan keyakinan bahwa waktu tidak pernah salah memilih kepada siapa ia menitipkan musimnya.
Padahal, setiap takdir memiliki jamnya sendiri. Ada yang dipertemukan lebih awal dengan keberhasilan agar belajar rendah hati, ada yang dipertemukan lebih lambat agar mengerti arti bertahan.
Selamat ulang tahun, cintaku.
Selamat bertumbuh. Selamat berbahagia. Selamat menjadi mengagumkan.
Kamu akan selalu jadi rumah paling nyaman tempatku kembali setelah badai yang panjang.
Selamat dicintai, kesayanganku.
Lagi suka dg kalimat ini: “Sesedih apa pun, ini bukan neraka. Sebahagia apa pun, ini bukan surga. Semoga kita mampu bersedih dan berbahagia secukupnya, it’s just dunia.”
Banyak hal datang di luar kendali, tetapi kita tetap memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana cara bereaksi.
Aku meminta kekuatan, lalu Allah memberiku tantangan. Aku meminta cinta, lalu Allah memberiku orang orang yang sulit untuk aku pahami. Aku meminta kesetiaan, lalu Allah memberiku macam macam penghianatan. Dan dari yang diberi aku menjadi diriku.
kelak, kamu akan lebih senang mendengar suara berisik di kepalamu, dibanding dengan suara lain yang ramai di luar sana. saat itu, kamu akan menyadari bahwa menenangkan diri sendiri jauh lebih mudah, daripada menenangkan orang-orang yang terus mempertanyakan pilihan-pilihanmu.
Salah satu pesan dari orang tua sendiri, tepat setelah saya akad:
“Sekarang kamu harus ingat, orang tua kamu itu ada 4”
Sederhana. Tapi itu pesan penting. Meskipun adil itu dalam realitanya sulit, tapi paling tidak jadi paham tanggung jawab juga bertambah. Menikah bukan cuma sama anaknya. Tapi dengan keluarganya.
Menjadi Suami ingatlah istri adalah bagian dirimu.
Menjadi istri, Suami adalah bagian dirimu.
Menjadi orang tua, menantu adalah anakmu yang baru.
Besanmu adalah keluargamu yang baru.
“Hartamu itu hanya tiga.
Apa yang kamu pakai, apa yang kamu makan, dan apa yang kamu sedekahkan.” (HR. Muslim)
“Sedangkan semua ada hisabnya.
Dan sebaik-baik harta adalah apa yang kamu sedekahkan.” 🤍
Hidup mau sebahagia apa juga, ujung ujungnya pasti berakhir. Begitu juga sebaliknya. Hidup semenderita apa pun, ujung-ujungnya pasti mati juga.
Karena di bawah kolong langit, tidak ada yang benar-benar menjadi milikmu.
Terkadang, yang membantumu tetap bertahan justru keinginan-keinginan kecil yang jarang kamu ceritakan. Mungkin sesederhana semangkok mie ayam atau sebungkus es krim di warung di sebelah rumah. Keinginan kecil yang membuatmu berusaha sedikit lebih keras daripada yang lain.
Mungkin begini rasanya tumbuh dewasa bersama takdir yang tidak selalu baik. Bukan lagi selalu tentang tangis dan ketakutan, melainkan juga tentang keputusan-keputusan kecil untuk tetap bangun dan tetap hidup meski dengan cara berbeda.
Aku juga banyak kacaunya, ada badai yang belum bisa kuredakan. Jika hari ini kamu melihatku begitu tenang, percayalah aku berusaha keras untuk hal itu.