Mimpi tentang hantu ki wes sering. Bangun trus melek trus ya biasa aja. Nah baru ini mimpi kecoa. Mrindingnya sampek kelar mandi. Ngliatin tiap sudut kamar. Geser geser barang barang, ngecek sudut dalam lemari.
KAMPANYE SESAT #SawitBaik
1. Sawit menyerap 64,2 ton COโ/ha/tahun โ
Angka ini berasal dari studi ilmiah (Henson 1999) dan didukung oleh penelitian terbaru bahwa perkebunan sawit matang dapat menyerap karbon dalam rentang 50โ65 ton COโ/ha per tahun.
Secara angka absolut klaim ini benar untuk skenario perkebunan optimal. Namun, perkebunan sawit di Indonesia rata-rata adalah dalam kondisi usia muda (< 10 tahun) dengan lahan sub-optimal yang hanya mampu menyerap karbon di sekitar 12โ17 ton.
Selain itu, penting untuk diingat bahwa nilai itu adalah penyerapan neto tahunan, yang tidak mempertimbangkan emisi yang terjadi saat pendirian kebun/deforestasi.
Kesimpulan:
Secara ilmiah angka 64,2 ton COโ/ha/tahun valid pada kondisi tertentu, tapi penggunaannya sebagai slogan umum agak menyesatkan tanpa penjelasan konteks.
2. Sawit menyerap COโ lebih besar daripada hutan hujan tropis โ
Klaim ini muncul dari data satu studi di Malaysia. Benar bahwa hutan tua yang stabil mungkin hanya menyerap ~42 ton COโ/ha per tahun secara neto, lebih rendah dari kebun sawit produktif. Tetapi membandingkan keduanya secara langsung mengabaikan perbedaan fundamental ekosistem.
Hutan hujan tropis menyimpan cadangan karbon total beratus-ratus ton per ha yang akan hilang jika hutan ditebang, sedangkan kebun sawit punya cadangan karbon jauh lebih rendah.
Hutan juga menyediakan layanan iklim lain (misal mempertahankan karbon tanah, menjaga siklus air) yang tidak tercermin dari angka tersebut. Lebih jauh, hutan yang tumbuh kembali (hutan sekunder) dapat menyerap karbon dengan laju tinggi, bahkan melampaui kebun sawit, selama fase pemulihan.
Kesimpulan:
klaim yang sangat menyesatkan jika ditafsirkan bahwa perkebunan dapat menggantikan fungsi hutan dalam mitigasi karbon.
3. Sawit mengurangi penggunaan bahan bakar fosil โ
Biodiesel sawit memang mengganti BBM fosil dan bisa menurunkan emisi jika minyaknya berasal dari lahan yang sudah ada dan pabriknya memiliki teknologi rendah emisi. Faktanya, ekspansi sawit di Indonesia kerap disertai deforestasi, menjadikan banyak biofuel sawit memiliki carbon footprint lebih buruk daripada diesel fosil. Deforestasi untuk ekspansi sawit juga ikut memperparah banjir dan longsor seperti bencana yang baru saja teejadi, karena hilangnya hutan alami membuat tanah kehilangan daya serap dan lereng makin rentan runtuh.
Kesimpulan:
Klaim ni cenderung menyesatkan karena mengisyaratkan seolah-olah semua biodiesel sawit otomatis baik bagi iklim, padahal praktek di Indonesia menunjukkan sebaliknya.
---
Saatnya kita merayakan #SawitJahat
Galeri kosong, kemudian tidak kosong. Dindingnya peka terhadap bidang. Terus dicincang dan didaur ulang dengan wacana โsepertiโฆ.โ, โMembayangkanโฆ.โ, โefek yg didapatโฆ.โ, โpenonton merasaโฆ.โ.
Demikian juga dengan kota, lalu lintas (penonton), arsitektur gedung (bidang), pembatas jalan, dan peristiwanya. Catatan dari pertanyaan teman padaku kemarin, apakah aku bosan dengan yogya?