Sebagai manajer/lead di kantor aku sekarang, aku nerapin kerja per KPI sih.
Setelah 2 taun aku ajarin, mereka paling kerjanya cuman 2-3 jam per hari (gaji way above umr). 5 hari kerja, full wfh.
Karena KPI Based, aku ga peduli mereka setelah selesai kerja mau naik gunung, mau ke bioskop, post aja di sosmed i dont mind.
Kerjaan cepet beres --> perusahaan could take more jobs --> makin banyak uang buat semua --> everyone happy.
Setelah 3 tahunan jadi manager, aku ngerasa bikin sistem kerja yang efektif dan efisien adalah salah satu jobdesc utama lead.
In my experience karyawan yg punya lebih banyak waktu luang were more creative, banyak nambah skillset, bisa lebih diajak diskusi dibansing karyawan yg hidupnya kerja doang seharian.
(Catatan fieldnya aku research, consultation, data)
adulting itu rumusnya cuma “never asking why”
Dihapus pertemanan? Ok.
Diunfollow? Ok.
Ngga dikabarin? Ok.
Ngga diajak? Ok.
Bersikap seperti biasanya dan melanjutkan hidup. Temanmu juga tidak sepenting itu.
Hati selamat dan hidup tenang.
Saran gratis dari psikolog mahal:
Kalau kamu orang yang cemas, lakukan semuanya untuk bersenang-senang.
Melamar kerja? Anggap lagi iseng.
Ngumpulin dokumen? Anggap lagi main puzzle.
Buka blog? Anggap lagi iseng nulis jurnal.
Anxiety itu hidup dari rasa “ini penting banget”. Semakin kamu anggap satu hal sebagai soal hidup-mati, semakin keras dia mencengkeram.
Jadi turunin levelnya.
Jangan kasih dia bahan bakar.
Coba mulai dari hal kecil hari ini:
lakukan satu hal yang biasanya bikin deg-degan…
tapi kali ini dengan niat “cuman buat fun aja”.
Utk seluruh warga X yang muslim, saya mau cerita nih...
Suatu saat di Madinah, Rasulullah SAW kedatangan seorang Arab desa. Dia bertanya kepada Rasul:
"Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda apabila saya hanya sholat lima waktu, puasa Ramadhan, mengerjakan yg halal dan meninggalkan yang haram, apakah dengan itu saja saya bisa masuk surga?"
Rasulullah SAW menjawab,"Iya, bisa."
Jadi... meskipun gak tahajjud, dhuha, puasa senin kamis atau amalan sunnah yang lain, namun amalan wajibnya tuntas, insyaallah bisa masuk surga.
So... yuk kerjakan syarat minimal ini utk dapet keutamaan yg mulia.
“Saya menghabiskan belasan tahun meneliti tentang perlindungan sosial di banyak negara. Saya menyelesaikan S2 dan S3 saya di inggris. Tidak ada satu pun negara di dunia yg program makan bergizi gratisnya dilakukan oleh aparat keamanan. Dari semua program perlindungan sosial di seluruh dunia, MBG adalah program terbesar dari segi anggaran, inefisiensi dan potensi korupsinya, di seluruh dunia.”
Video ini adalah paparan paling clear soal kekacauan tata kelola embege. Kalo ada yg nanya “emang apa salahnya sih embege?”, cukup suruh nonton video ini.
Tau nggak kenapa kebanyakan kue tradisional Indonesia nggak pakai tepung terigu?
Karena gandum, bahan dasar terigu, emang nggak tumbuh di Indonesia. Makanya kita jadi salah satu pengimpor gandum terbesar di dunia.
Yang melimpah di sini justru beras, sagu, jagung, dan singkong. Jadi wajar kalau kue tradisional kita pakainya tepung dari hasil bumi sendiri, yang kebanyakan juga gluten free.
Kemarin kan sempat viral toko roti yang nge-claim gluten free.
Padahal tinggal jajan kue tradisional aja. Murah, enak, sekaligus ikut melestarikan budaya.
Contohnya:
Klepon → tepung ketan
Bika Ambon → tapioka
Bugis Mandi → tepung ketan, tepung beras, maizena
Onde-onde → tepung ketan & tepung beras
Jejorong → tepung sagu & tepung beras
Srikaya → maizena
Cilok & Cireng → tapioka
Masih banyak lagi jajanan tradisional yang tanpa terigu alias gluten free.
Jadi kalau lagi cari camilan gluten free, nggak usah ribet. Tinggal jajan kue tradisional aja. Harganya ramah di kantong, rasanya enak, dan kebanyakan juga dikukus jadi lebih sehat.
Minusnya sih, banyak yang pakai santan, jadi emang lebih cepat basi.
DULU... EBTANAS BUKAN CUMA UJIAN.
Saat tiba ujian Ebtanas, saat itu juga musim ketika rumah mendadak terasa lebih religius.
Jam 3 pagi, Orang Tua membangunkan anaknya untuk salat Tahajud. Setelah itu, disuruh belajar hingga azan Subuh berkumandang.
Anak yang biasanya susah bangun pagi mendadak rajin. Yang biasanya lalai salat, tiba-tiba tak pernah meninggalkannya.
Bukan semata karena takut tidak lulus, tetapi karena orang tua percaya bahwa ikhtiar harus berjalan seiring dengan doa dan usaha.
JANGAN LUPA PENSIL 2B, NAK..."
Kalimat sederhana yang dulu terdengar seperti penentu masa depan. Seolah-olah seluruh harapan orang tua ada di ujung pensil itu. Jangan sampai tumpul, jangan sampai patah, jangan sampai tertinggal, jangan lupa bawa serep dan rautannya. Jangan lupa bawa penghapus juga ya Nak,...suara Ibu sebelum kita berangkat ke sekolah.
Saat mengisi lembar jawaban, tangan gemetar. Takut bulatannya kurang hitam, takut keluar garis, takut komputer marah tidak mau membaca jawaban.
Ketika Ebtanas berakhir yang berdebar bukan hanya kita. Di rumah, Ayah, Ibu dan Saudara ikut menunggu sambil memanjatkan doa, berharap setiap usaha membuahkan hasil terbaik.
Mungkin EBTANAS sudah menjadi kenangan. Namun, pelajaran tentang usaha, doa, dan kasih sayang orang tua dan kehangatan saudara sekandung tetap layak dikenang bagi anak generasi 70 an akhir sampai awal 90 an.
Sudah mengirim somasi ke nomor yang mengancam, saya lampirkan juga somasinya secara terbuka melalui twit ini, agar bisa dijadikan periksa oleh pihak terkait.
Silahkan bagi warganet yg mau menggunakan substansi somasinya bila mengalami situasi serupa. Bisa dikirim secara pribadi.
Saya jadi teringat cerita, entah bener ato engga, kurang lebih kayak gini
Ada rumah makan, yg tiap jam tutup selalu bagiin makanan sisa untuk pengemis sekitar
Awal-awal, para pengemis itu memanjatkan ribuan doa bagi pemilik rumah makan tersebut
Makin lama, kabar bahwa pemilik rumah makan itu suka bagi2 makanan makin tersebar, makin banyaklah pengemis yg mengantre di depan rumah makan itu di jam tutup
Karena makin banyak yg mengantre, berarti akan ada pengemis yg tidak kebagian
Pengemis yang tidak kebagian ini marah2 dan meminta agar pemilik rumah makan ini menyediakan lebih banyak makanan agar semuanya kebagian
Lah kan awalnya memang cuma bagiin makanan sisa yang tidak laku terjual
Karena gelombang protes terus-terusan terjadi dari para pengemis, akhirnya rumah makan itu memutuskan untuk menghentikan aksi bagi2 makanan itu
Yang terjadi adalah, para pengemis itu malah mengotori dan merusak halaman depan rumah makan tersebut
Akhirnya rumah makan itu terpaksa tutup dan berhenti beroperasi
Jadi, kadang pemilik bisnis FnB bukan ga mau memberikan makanan sisa ke pengemis karna jahat, tapi karna menghindari para pengemis yg udah di kasi hati malah minta jantung
Apakah ini benar segini?
Kok mahal bgt ya mau hibah dari orang tua ke anak kandung.
Apakah harga2 disini normal dan ada biaya jasa yg tumpang tindih?
Padahal orang tua kan udah bayar pajak2nya, kok dihibahkan ke anak, masih dipajakin juga??
Kalau kantornya ada tim yg khusus cek korupsi / fraud, coba ngobrol2.
Kadang modus2nya gak kita duga, misal bikin event fiktif, malsuin nota, kongkalikong sama vendor, dst.
Pernah saya ngobrol cerita ada yang lapor bahan makanan pada busuk padahal dijualin.