Presiden sama rakyatnya sama-sama asal nyeplos.
Islam dikatakan bkan agama ritual? Trus salatmu dgn segala macam ketentuannya dianggap apa? Workout?!
Lalu asal muasal tahlilan dikatakan dari Hindu. Ini data dari mana? Klaim ini prnah dibantah oleh Agus Sunyoto dlm penelitiannya, ditambah dgn temuan Antoine Cabaton yg mengatakan tradisi tahlilan berangkat dari komunitas Melayu Polinesia dgn pengaruh dari Muslim Champa yg pada saat itu dibawa oleh Sunan Ampel.
Dan bukan hanya ini, pun ada banyak hadis-hadis yg secara implisit membawa pemahaman pada soal tahlilan.
Karina, Karinaaaaa..... 😮💨
Melawan takdir itu cuma dpet capenya aja. Udah bener apa yg prnah dibilang Nietzsche, "FATUM BRUTUM AMORFATI" (Cintai takdir sekalipun datang begitu brutal).
لا بدّ من نفوذ القدر فاجنح للسلم.
(Bagaimanapun) Takdir pasti terlaksana, maka terimalah ia dengan lapang dada.
Kalau dlm mekanismenya semua peserta dikenakan biaya lalu semua biaya itu digunakan untuk membeli hadiahnya memang trmasuk judi. Ini pemahaman dasar di fikih, kok.
Lalu solusinya bagaimana?
Solusinya, silakan kalau memang perlu menarik biaya pendaftaran. Tapi biaya yg terkumpul jgn sampai digunakan untuk membeli hadiah. Dana untuk hadiah bisa menggunakan dari sumber lain, selain uang peserta, misal sponsor.
Ketemuan dangan ybs di Bank pengirim/penerima, minta bank lakukan pengecekan secara detail asal dan sumber dananya
Jika tidak ada potensi hukum dan benar ybs pemilik sah uangnya, kembalikan, bikin berita acara
Jika bukan pemilik sah dan berpotensi hukum, minta bank blokir rekening sejumlah dana yg ditransfer, bikin berita acara
Jangan kembalikan langsung
Sebuah hack tidur dari dr. Gia biar bangunnya seger, pake rumus 4-3-2-1-0
4 jam sblm tidur ga ada aktifitas berat yg naikin nadi
3 jam sblm tidur ga makan berat
2 jam sblm tidur gaperlu minum banyak
1 jam sblm tidur ga main hp
0 detik sblm tidur kencing dulu
Ayahku pernah kasih pesan gini:
“Sebagai laki-laki, tetaplah merasa lapar, bodoh, jelek, dan tidak punya uang. Tapi tidak boleh minder”
1. Tetap merasa lapar agar kamu selalu giat bekerja mencari “makan”.
2. Tetap merasa bodoh agar kamu selalu belajar.
3. Tetap merasa jelek agar kamu selalu bersyukur ada perempuan yang memilihmu.
4. Tetap merasa tidak punya uang agar kamu terbiasa hidup sederhana.
Coba terapkan ini. Gampang kan? Karena musuh terbesar laki-laki adalah ego yang melahirkan rasa percaya diri berlebihan.
Mari kita kurangi populasi lelaki berwajah biawak berkelakuan syaitan.
Lo buka Netflix. Scroll 30 menit buat nyari film. Akhirnya gak nonton apa-apa. Tidur.
Lo buka Shopee mau beli charger. Ada 200 pilihan. Banding-bandingin 2 jam. Beli satu. Besoknya nyesel.
Seorang psikolog dari Swarthmore College udah riset kenapa ini terjadi. Dan jawabannya bikin kesel.
kalo aku sih selalu inget gambar ini :
objeknya sama tapi perspektif orang bisa beda beda disitu.
perspektif orang yg berbeda belum tentu salah juga.
jadi kalo bisa berpikir holistik dengan menggabungkan semua perspektif untuk menggambarkan sebuah objek itu jelas menjadi seekor gajah
Dalam Islam, tidak semua anak harus jadi ulama atau ustadz. Mereka boleh menjadi apa pun, selama yang ia pelajari bermanfaat untuk kemanusiaan.
Tapi, orang tua wajib menanamkan ilmu-ilmu keagamaan dasar yang wajib dimiliki oleh setiap anak. Seperti tauhid, tata cara sholat, baca Al Qur'an, hal-hal haram yang tidak boleh dilakukan, dsb.
Kalau orang tua tak mampu, boleh dititipkan ke lembaga pendidikan yang dipercaya.
Fun fact...
Islam adalah agama yang banyak menggunakan air. Wudhu, mandi besar, bersuci itu membutuhkan air.
Maka... umat Islam seharusnya peduli dengan kelestarian air bersih. Jangan dikit² buang sampah di sungai.
Gue punya tetangga yang bikin gue mikir lama.
Lulusan S2 Teknik UI.
Pernah kerja 5 tahun di salah satu power plant terbesar di Asia Tenggara.
Perempuan yang dari luar keliatan punya segalanya pendidikan, karir, penghasilan.
Terus dia resign.
Bukan karena dipecat.
Bukan karena nggak mampu.
Tapi karena suaminya harus pindah-pindah kota karena kerjaan, dan mereka udah LDR 2 tahun.
Dia yang milih ikut.
Waktu dia cerita ini ke gue, gue nggak langsung ngerti kenapa.
"Lo nggak sayang karir lo?" gue tanya.
Dia senyum.
Sayang Banget sih
Tapi ada yang lebih gue sayangin yaitu anak gw
Dan ternyata keputusan itu nggak semudah kelihatannya.
Masa transisi dari perempuan yang tiap hari rapat, ngitung data, dan punya kontribusi yang keliatan nyata ke perempuan yang tiap hari di rumah, ngurusin anak, dan nggak punya penghasilan sendiri itu berat banget.
Dia cerita ke gue soal itu dengan jujur.
Kehilangan teman-teman kerja.
Kehilangan ruang diskusi yang dulu bikin otaknya terus jalan.
Kehilangan kebebasan finansial yang selama ini bikin dia ngerasa punya kendali atas hidupnya sendiri.
Dan yang paling nyesek komentar orang-orang sekitar yang nggak diminta tapi terus dateng.
Sayang banget S2-nya.
Kok mau sih jadi IRT doang?
Buang-buang pendidikan.
Tapi kemudian sesuatu berubah.
Dia nemuin hal-hal baru yang ternyata dia suka dunia literasi, ecoprinting, komunitas-komunitas yang nggak pernah dia sempet eksplor waktu sibuk kerja.
Dia baca lebih banyak buku.
Dia punya waktu buat beneran mikirin cara mendidik anaknya bukan sekadar nitip ke orang lain.
Dan dari rumah, dia masih bisa freelance bantu project penelitian dan keperluan akademik.
Yang bikin gue respek bukan keputusannya karena itu hak dia sepenuhnya.
Yang bikin gue respek adalah cara dia ngejalaninnya.
Dia nggak berhenti tumbuh cuma karena berhenti kerja kantoran.
Dia buktiin bahwa perempuan berpendidikan tinggi yang milih jadi ibu rumah tangga bukan berarti menyia-nyiakan pendidikannya justru dia pakai semua ilmunya buat hal yang menurut dia paling penting.
Sekarang dia mulai belajar affilate di tiktok dan shoppe
malah akun tiktok dia udah capai 50 rb followers
dan mulai ada endoresan masuk
Dan ini yang gue pikir sering salah kaprah di Indonesia
Kita terlalu sering ngukur nilai seorang perempuan dari jabatannya, gajinya, atau seberapa sibuk dia keliatan dari luar.
Padahal ibu yang cerdas, yang terus belajar, yang bisa jadi teman diskusi buat suami dan guru pertama buat anaknya itu kontribusi yang dampaknya jauh lebih panjang dari apapun yang bisa dilihat di CV.
Balik ke pertanyaan awal kalau lo udah punya karir impian terus calon suami minta jadi IRT penuh?
Jawabannya nggak hitam putih.
Yang penting bukan pilihan mana yang lo ambil.
Tapi apakah pilihan itu beneran lo yang mutusin bukan karena dipaksa, bukan karena takut, tapi karena lo sendiri yakin itu yang terbaik buat hidup lo.
Karena pada akhirnya, yang harus nanggung konsekuensinya lo sendiri.
Lihat hilal tak pernah.
Cara hisab juga tak ngerti.
Tapi, nentuin kapan puasa & lebaran mendadak paling tahu.
Daripada itu, mending fokus sama yang beneran kita kuasai:
- Ngajinya udah berapa halaman
- Salatnya makin tepat waktu gak
- Sedekah jalan atau masih pelit
- Sunnahnya dikerjain gak
- 10 hari terakhir sibuk iktikaf atau cari diskonan
Lebih ada manfaat.
Hal-hal yang kita tak ngerti,
serahkan aja ke ahlinya.
Bukan mendadak si paling paham,
padahal aslinya wallahualam.
Setuju banget.
Titik tertinggi HABIT adalah IDENTITAS.
Contoh orang yg bilang,
"Aku bukan perokok."
Dia tak akan merokok, walaupun ditawarkan rokok paling mahal.
Sama seperti Ramadan sekarang.
Siapa sih yg gak suka makan?
Siapa sih yg pengen laper?
Tapi, semuanya berhenti karena bilang,
"Aku lagi puasa."
Nah, untuk membentuk IDENTITAS ini perlu PEMBIASAAN.
Kebiasaan berulang-ulang.
Dalam waktu yg lama.
Jadi, bisa terbayang kan kenapa masih ada muslim yang tidak puasa?
Saat ada muslim bertahun-tahun latihan menahan lapar & haus sampai menjadi IDENTITAS,
ada mereka yang bertahun-tahun biasa saja makan nasi uduk di tengah hari.
Sampai berpuasa pun terasa asing.
Sampai menjadi identitas:
"Aku tak bisa berpuasa."
Mungkin ada yg nanya,
"Kalo udah jadi identitas gak bisa diubah dong?"
Jawabannya:
BISA ✨
Meski sulit, tapi ada satu TEORI PERILAKU yg bisa menggerakkan seseorang.
TEORI ini kugunakan juga dalam dunia digital marketing. Supaya yang gak pengen jadi pengen, dari lihat-lihat jadi transaksi.
Kalau banyak yg mau,
boleh SAVE & RETWEET ✨
Kalau rame,
Nanti aku kupas tuntas 😊
TRUE STORY.
Temenku cerita, setelah kuliah di Jerman, dia balik ke Indo buat ngerintis bisnis, hal pertama yg dia lakukan adlh jualan gorengan, pakai plastik, ke orang2 di pinggir jalan, dgn harga 2x lipat.
Dia cerita katanya sengaja kaya gitu biar ga ada yang beli, sehingga perasaan malu dan perasaan takut ditolak itu hilang, dan itu adalah modal yang paling utama ketika ingin menjalankan suatu bisnis.
Keren bgt dah.
Sekarang beliau ini udah jd pebisnis yg bukan kaleng2, punya banyak bisnis, dan penghasilannya udah ga usah ditanya.
Ada yang berani kaya gitu ga?