I believe that we don't meet people by accident. Every meeting carries meaning, some teach us, some stay with us, and some feel like home, even for a moment.
“A person raised on love and a person raised on survival see the world differently.” Akar dari pro kontra diskursus keluarga cemara dan broken home. We naturally gravitate to people who speak the same language, but not everyone was given the same exact language
couldn’t agree more!!!
setelah melewati hubungan lama, putus
deket sama orang, makin kesini hal yang perlu di invest bukan lagi cuman masalah perasaan & keep the spark alive, tapi jadi banyak pertimbangan
cuman ya balik lagi, hal yg perlu invest pertama ya diri sendiri dulu🤗
Here's a controversial opinion:
People should stop choosing partners based on feelings and chemistry. Feelings are the most unstable currency on planet earth. They should rather look at relationships as investment because people fall in love, fall out of love, people wake up the next morning and they just don't feel the same anymore instead of that, they should just be focusing on if they invest on a person, what would the return look like in 10 years. The better question is, do this person make me wiser or more reactive? Do they have emotional discipline or emotional chaos? Do they solve problems or create them? Do they improve my finances or sabotage them? Do they build my future or consume it? because the strongest relationships aren't built on butterflies. We should choose someone who increases our net worth physically, emotionally, mentally, spiritually and yes even financially.
kadang gue sedih sama argumen “jangan lecehin perempuan, imagine if she was your mom/sister/daughter.” like… perempuan shouldn’t have to be someone you love, belong to you, or be related to you for you to recognize her as a human being who deserves basic human decency
Gw sudah banyak bertemu perempuan yang menemani laki-laki dari nol, bahkan minus. Bisa dibilang, laki-laki miskin. Para perempuan ini secara ekonomi jelas jauh berada di atas para laki-laki miskin itu. Beberapa hubungan mereka berhasil. Tak sedikit juga yang gagal.
Dari cerita mereka, apa yang tertulis di gambar ini tidak sepenuhnya benar.
1. Perempuan menyukai laki-laki yang tulus. Tulus di sini tak hanya soal asmara. Tulus menjalani kehidupan, tulus menjadi seorang manusia. Dengan ketulusan, laki-laki jadi bisa memegang teguh komitmen.
2. Perempuan tidak membenci laki-laki miskin. Mereka hanya tidak suka pada laki-laki yang tak mau berusaha dan/atau berusaha seadanya saja. Ini krusial sih. Tak bisa dipungkiri bahwa banyak laki-laki yang merasa nyaman dengan kondisi yang begitu-begitu saja. Tidak ingin ada perubahan menjadi lebih baik. Kalau gw jadi perempuan, gw pun akan berpikiran demikian.
3. Perempuan betul ingin dimanja, diratukan, dihadiahi. Tapi bukan berarti semua hal itu harus yang mewah, harus yang mahal, dan harus setiap hari. Betul, semuanya tetap butuh modal, oleh karena itu kita kembali melirik ke poin 2. Jika tidak ada biayanya, bisa disubstitusi dengan berbagai cara.
4. Kebanyakan laki-laki tidak tulus kok.
5. Perempuan butuh laki-laki yang biaa berkomunikasi dengan baik. Selama ini laki-laki selalu mendapuk diri sebagai makhluk paling logis, tapi ketika dihadapkan pada sebuah masalah, yang pertama dilakukan bukannya berusaha menyelesaikan atau menenangkan keadaan, malah mencari "ketenangan" di luar. This doesn't sit well with me as well.
Gender kita terlalu sering menyalahkan gender seberang untuk kekurangan yang seharusnya bisa kita perbaiki sendiri.
aku tuh selalu sedih kalau ada perempuan yang jadi mempertanyakan dirinya sendiri cuma karena ternyata dipertemukan sama laki-laki yang gak bener :(
to every woman out there, please don't carry someone else's mistakes as if they're yours. kalian gak kurang, gak kurang cantik, gak kurang baik, gak kurang berharga. sometimes it's not about you at all. emang ada aja laki-laki yang milih buat jadi brengsek.
semoga gak ada lagi perempuan yang kehilangan rasa percaya diri cuma karena dipertemukan sama laki-laki yang salah. you deserve to be loved without having to question your own worth 🥹🤍