Memantau crita Aureli. Kalo kamu mengucapkan kalimat-kalimat ini ke anak di bawah umur korban kekerasan seksual, maka kamu bagian dari kekerasan itu sendiri.
“Anaknya juga mau kok.”
“Anaknya terlalu dewasa untuk umurnya.”
“Dia kelihatan genit dari kecil.”
“Posting fotonya kayak orang gede.”
“Dia kan nggak nolak.”
“Sama-sama menikmati.”
Dan masih banyak lagi contoh kalimat lain.
Kalimat-kalimat ini bukan sekadar pendapat. Ini adalah alat kekerasan.
Karena dengan mengucapkannya, kamu:
1. Menghapus fakta bahwa anak tidak pernah bisa memberi consent,
2. Mengalihkan tanggung jawab dari pelaku ke korban,
3. Menanamkan rasa malu dan rasa bersalah pada anak—yang seharusnya dilindungi, bukan diadili.
Dampaknya jauh lebih berat ketika kalimat-kalimat ini datang dari orang dewasa yang punya otoritas: orang tua, guru, tokoh agama, aparat, atau figur publik.
Di titik itu, kekerasan tidak lagi berhenti pada pelaku pertama.
Ia berlanjut lewat bahasa. Lewat pembenaran. Lewat “logika” yang terdengar masuk akal, tapi aslinya kejam.
Pedofilia, grooming, maupun statutory ra--pe tidak pernah soal pakaian anak.
Bukan soal sikap anak. Bukan soal apakah anak melawan atau diam.
Semua itu SELALU tentang orang dewasa yang menyalahgunakan kuasa.
Dan setiap kali seseorang memilih menyalahkan anak alih-alih mengecam pelaku, dia sedang berpihak pada kejahatan.
Aurelie Moeremans emang luar biasa:
- Tahun 2016 Ditawari masuk partai politik
- Dibayar ratusan juta cukup ikut agenda partai, ngomong dengan teks yang sudah disiapkan
- Dapat gelar S2 jalur instan juga kalau nerima tawaran
Semua dia tolak. 🥺
BROKEN STRINGS PDF
🖇️ https://t.co/1SthaIuP55
Temen-temen karena linktree kak Aurelie overload trafficnya, yang mau baca Broken Strings coba akses disini yah. Download aja kalau bisa, bikin arsip, biar orang nggak kekurangan akses baca!
Please, buat siapa pun yang mau upload foto si bangsatt Bobby, tolong blur mukanya, dia kriminal.. dari semalem gua mikirin ini, masih nyesek banget rasanya. Aurelie harus menanggung beban itu selama 17 tahun woyy😭💔 Terapkan cancel culture untuk pelaku, jangan kasih panggungg
Aurélie Moeremans recounts the sexual abuse and trauma she experienced from her ex-boyfriend in her memoir:
“Kamar ini masih berbau parfum bayi biru murahan milik Bobby. Katanya, meski wajahnya terlihat galak, jiwanya tetap seperti anak kecil. Dulu aku pikir itu lucu, bahkan manis. Tapi sekarang, aroma yang sama menggantung di udara seperti peringatan, membuatku mual setiap kali menghirupnya. […] Aroma itu masih tertinggal di udara, seakan mengejek setiap doa yang sempat kuucap.”
dari jam 7 gue baca e-book nya aurelie dan baru selesai. selama baca beneran sakit kepala, sesek, mual, jijik, marah, nangis… aurelie korban child grooming dari umur 15 tahun, diper**sa paksa, dianiaya, diinjek wajahnya, diludahin, dinikahin secara ga sah, di manipulasi, diperas
[BREAKING] Police confirms that #KimSaeron has passed away after being discovered unconscious in her home. Death cause is still being investigated.
Deep condolences to all who are left behind
https://t.co/2S2mnQRYH1 #KoreanUpdates RZ