@2DimensiMenfess Sekilas Jun melirikmu sebelum lakukan lagi hal yang tadi. Pria tersebut tak katakan apapun, dan tidak sampai sepuluh detik; air mata mengalir di kedua belah pipi.
Langsung ia usap, tentunya.
“Entah bagaimana caranya. Sekarang sudah puas 'kan?”
@OfArtcraft + ucapnya bersamaan dengan ringisan pelan. Kepalanya ditolehkan, tangan yang menganggur memegang tanganmu.
“K, keluarkan jarimu, Jaehyun-ssi—”
@OfArtcraft Sang aktor terhenyak. Lenguhan spontan lolos dari kedua belah bibir, terkejut sekaligus kembali rasakan gelenyar aneh menjalar ke sekujur tubuh. Satu tangan jadi tumpuan tubuh bersandar ke dinding dalam posisi menyamping, namun membelakangimu.
“A, ah.. apa yang kau lakukan..”+
@OfArtcraft + sudut bibir selagi ia mulai pejamkan mata.
Desah kecil beberapa kali lolos tanpa dihendaki, selagi lidahnya berusaha sambut milikmu di dalam rongga mulut.
Lirik mata terarah padamu kala tersadar ada orang lain di tempat. Asap dihembuskan pelan dari kedua belah bibir, Jun merogoh saku mantelnya;
“Kau mau merokok juga?”
@OfArtcraft Jun manut dengan tempomu. Meski di awal terlihat seperti ingin—sedikit—mendominasi, nyatanya tidak. Helai rambutmu masih jadi tempat pelampiasan utama untuknya yang tengah kau cumbu. Kepalanya sesekali dimiringkan demi perdalam ciuman.
Benang saliva menjadi hiasan pada +
@OfArtcraft + akhirnya memilih untuk berbalik badan. Usahanya tak dituntaskan karena sadar—bagian tubuh depannya terekspos gamblang ke arahmu.
“C, cepat selesaikan. Kepala saja, ya.”
@OfArtcraft Setelah usahanya menggunakan kekerasan gagal, Jun berusaha menahan tanganmu agar tidak melakukan pergerakan lebih lanjut. Ia gembungkan satu sisi pipinya tanpa sadar, sebagai ekspresi dari rajukannya.
“Ini sangat memalukan buatku, tahu.” sang aktor bergumam pelan sebelum +
@OfArtcraft + yang tengah berlangsung. Cumbuanmu ia balas sama lembutnya, seraya tangan lambat laun berpindah dan mencengkram tengkukmu. Jari-jari lentiknya kini berlarian mengusapi helai rambut kecoklatan milikmu.
@OfArtcraft Bagus, ia pun tidak mau terburu-buru. Malam masih panjang, dan Jun tidak mau habiskan dengan cepat. Jemarinya mulus mengusap pinggangmu, sesekali mencengkram tanpa maksud yang jelas.
Perlahan, ia bawa kau untuk rebahkan diri bersamaan dengannya tanpa melepas pagutan +
@OfArtcraft + boleh memegang kepalaku sesuka hatimu, huhh?”
Tanpa basa-basi, kakinya melayang dan menendang tulang keringmu. Entah kena atau kau berhasil menghindar, Jun tidak tahu.
“Kalau kau lupa—umurku 29 tahun..!”
@OfArtcraft Melihatmu mendekat, kau bisa lihat raut panik terpatri di paras moleknya. Bibir terkatup buka tanpa keluarkan sepatah kata, mata sekilas terpejam ketika tanganmu terasa sentuh helaian gelapnya.
“Kau..” Jun melirik ke atas, menatap wajahmu. “.. siapa yang bilang kau +
@OfArtcraft + genggamannya pada tanganmu ia lepas sebelum mendudukkan diri di atas ranjang besar tersebut. Kedua tangannya ia rentangkan ke arahmu, seakan menunggu pelukan darimu.
@OfArtcraft Jun tak menjawab lagi. Ketika pertanyaannya malah kau kembalikan dengan pertanyaan lain, ia melirik sekilas ke arahmu.
Sejenak, ia tidak katakan apapun. Sampai akhirnya Jun berdiri dan raih tanganmu agar mengikuti langkahnya untuk kembali ke ranjang.
“Di sini saja.” +
@OfArtcraft “A.. aaa—” mata melirik bergantian, sesekali pada wajahmu, dan sesekali pada tanganmu yang bersiap melepas handuk. Kepanikan jelas tergurat.
“K, kenapa kau melepas handukmu..” Jun mengerjapkan mata beberapa kali, menatap lurus ke parasmu.
“A—hah?! Tidak ada yang mengajak +
@OfArtcraft + sempat menderu.
“. . . Kau..” sejenak, Jun sempat terlihat ragu dan menghentikan kata-katanya.
“.. i, ingin lanjut dimana?”
Pertanyaan aneh, tapi Jun harap kau paham maksudnya.
@OfArtcraft Mendengar tawamu, spontan Jun melirik ke bawah—ke arah dimana kau berada. Bibirnya mengerucut sebal dan malu juga.
“Not really.” tidak akan ia lontarkan jawaban jujur secara cuma-cuma. Sang wira memalingkan lagi pandangannya ke arah lain, masih mengatur deru napas yang +
@OfArtcraft + tertangkap basah sedang masukkan jari ke dalam lubang analnya sendiri?
“K, kau..” tatapan penuh keraguan dilayangkan padamu, Jun melihat sosokmu dari kaca saja. “..tidak mau keluar, hm? Kalau kusiram bagaimana?”
Oh, ide bagus. Mengancam. Semoga saja ancamannya bekerja.
@OfArtcraft + menatap ke arahmu. Satu tangan tutupi pangkal pahanya.
Meski berusaha terlihat tenang, dalam hati—sang aktor tengah lancarkan kata-kata kasar, mengumpati dirimu. Posisinya sangat canggung dan entah kenapa ia langsung merasa mati langkah.
Harus apa dia sekarang—setelah +