jika Allah mengizinkan kamu berdoa untuk sesuatu, artinya Allah mengizinkanmu untuk mendapatkannya. Jadi, ulangi terus doanya, ulangi terus usahanya, sampai Allah bilang, ini waktunya
Hombres, después de tener relaciones sexuales hay tres hábitos de higiene que siempre deben seguir para proteger su salud íntima:
1. Orina inmediatamente.
Isyarat Sufi
Wahai pengembara jalan cinta, syair ini adalah kisah sebuah bunga yang rindu pulang kepada asalnya. Bunga itu adalah ruhmu. Ia tumbuh di taman dunia, meminum embun waktu, menari bersama angin peristiwa, lalu perlahan lupa bahwa ia bukan penghuni taman ini. Karena itulah Rumi mengirimkan angin sebagai pembawa pesan: "Kembalilah kepada kemanisan asalmu."
Bunga merasa dirinya bunga, padahal hakikatnya berasal dari gula. Ia mengagumi warna dan keharumannya sendiri, padahal sumber segala keindahan berada di tempat yang lebih dalam daripada warna dan aroma. Begitulah ruh manusia. Selama ia masih terpukau oleh bentuk dirinya, ia belum sampai kepada asalnya. Namun ketika ia melebur ke dalam samudra Sang Kekasih, bunga dan gula menjadi satu kemanisan yang tak dapat dipisahkan.
Rumi lalu mengajarkan rahasia perjalanan para pecinta: naiklah dari bumi menuju langit, dari maqam ke maqam, dari tabir ke tabir, hingga sampai kepada liqa’—perjumpaan. Akan tetapi, perjalanan itu bukanlah perjalanan kaki, melainkan perjalanan pelepasan. Sebab terdengar seruan dari alam rahasia:
"Lepaskan sayapmu, datanglah tanpa sayap."
Selama seorang salik masih terbang dengan sayap amalnya, ilmunya, kesalehannya, atau bahkan pengalaman ruhaninya, ia belum benar-benar sampai. Burung-burung dunia terbang dengan sayap, tetapi burung cinta terbang dengan ketidakberdayaan. Ketika semua sandaran runtuh, ketika tidak tersisa apa pun selain kebutuhan kepada Allah, saat itulah pintu kedekatan mulai terbuka.
Karena itu para arif tertawa kepada dunia. Bukan karena mereka membencinya, tetapi karena mereka telah melihat sesuatu yang lebih nyata daripada dunia. Mereka seperti seseorang yang telah menyaksikan lautan, lalu tidak lagi terpesona oleh genangan air. Mereka merobek pakaian-pakaian identitas yang menutupi ruhnya: pakaian nama, kedudukan, kebanggaan, dan segala yang disebut "aku". Sebab di hadapan Matahari Hakikat, semua pakaian itu hanyalah bayang-bayang yang sebentar lagi lenyap.
Kemudian Rumi menyingkap sebuah rahasia yang sangat halus. Ia berkata bahwa keberadaan manusia seperti besi, sedangkan kelembutan Tuhan seperti magnet. Besi tidak mengetahui mengapa ia bergerak; ia hanya merasakan tarikan yang tak mampu ditolaknya. Demikian pula hati para pecinta. Ada saat-saat ketika mereka merasa rindu tanpa mengetahui kepada siapa mereka rindu. Mereka menangis tanpa tahu apa yang hilang. Mereka mencari tanpa tahu apa yang dicari. Sesungguhnya itu adalah tarikan Sang Kekasih yang sedang memanggil mereka pulang.
Lalu besi itu ditempa. Dipukul dengan api, dibakar oleh ujian, dilebur oleh kerinduan. Bukan untuk menghancurkannya, melainkan agar ia berubah menjadi cermin. Sebab hati yang belum pecah oleh cinta belum mampu memantulkan cahaya. Setiap luka yang datang kepada para pecinta adalah pahatan Sang Pengukir pada cermin jiwa mereka.
Dan ketika perjalanan itu mencapai ujungnya, kata-kata pun menjadi tidak berdaya. Lidah berhenti, akal terdiam, dan hanya hati yang masih berbicara. Di sanalah Rumi berpaling kepada Syams, matahari ruhani yang membangkitkan seluruh keberadaannya. Sebab cahaya sejati tidak lahir dari huruf, suara, warna, atau rupa. Ia lahir dari perjumpaan.
Maka seluruh ghazal ini sesungguhnya adalah undangan untuk pulang. Pulang dari bunga menuju gula. Pulang dari bentuk menuju makna. Pulang dari diri menuju Dia.
Dan ketika perjalanan itu sempurna, sang pejalan akan menyadari bahwa sejak awal ia tidak pernah berjalan sendiri. Angin yang membimbingnya, kerinduan yang membakarnya, air mata yang mengalir dari matanya, bahkan jalan yang ia tempuh—semuanya adalah Sang Kekasih yang sedang menuntunnya kembali kepada Sang Kekasih.
"Jika kalian melihat seseorang yang memperpanjang diamnya (banyak berdiam diri) serta menarik diri (menjauh) dari keramaian manusia, maka mendekatlah kepadanya, karena sesungguhnya ia sedang memancarkan hikmah (kearifan)!"
Umar bin Abdul Aziz
Setiap manusia lahir dengan jalan hidup yang berbeda. Ada yang dipercepat keberhasilannya, ada yang diperlambat agar lebih matang. Ada yang menemukan panggilannya sejak muda, ada pula yang baru menemukannya setelah melewati banyak kegagalan. Karena itu, tidak adil jika kita memaksa hidup mengikuti alur cerita orang lain. Yang tampak berhasil bagi mereka belum tentu menjadi jalan terbaik bagi kita. Tuhan tidak pernah menulis kisah semua manusia dengan naskah yang sama.
Banyak orang kehilangan arah karena terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain. Mereka memilih pekerjaan yang tidak dicintai demi pengakuan, mengejar pencapaian yang sebenarnya bukan impiannya, atau mengorbankan ketenangan hanya agar dianggap berhasil. Tanpa disadari, mereka sedang menjalani hidup berdasarkan ekspektasi orang lain, bukan berdasarkan nilai dan tujuan yang benar-benar mereka yakini. Padahal hidup yang terus dijalani demi menyenangkan semua orang sering kali berakhir dengan kelelahan batin.
Mendengarkan nasihat tentu penting, tetapi tidak semua pendapat harus menjadi pedoman. Ada kritik yang membangun dan layak diterima, ada pula penilaian yang hanya lahir dari prasangka atau standar hidup yang berbeda. Kedewasaan bukan berarti menutup telinga terhadap masukan, melainkan mampu memilah mana yang mendekatkan kita pada kebaikan dan mana yang justru menjauhkan kita dari jati diri. Tidak semua suara pantas dijadikan kompas kehidupan.
Menjalani cerita sendiri bukan berarti hidup sesuka hati tanpa arah. Justru itu berarti berani bertanggung jawab atas pilihan yang diambil, belajar dari kesalahan sendiri, dan terus memperbaiki diri tanpa harus menjadi salinan kehidupan orang lain. Setiap pengalaman, kegagalan, dan keberhasilan akan menjadi bab yang membentuk dirimu menjadi pribadi yang unik. Tidak perlu tergesa-gesa mengejar alur hidup orang lain, karena setiap kisah memiliki waktu terbaiknya masing-masing.
Jangan biarkan hidupmu ditulis oleh ketakutan terhadap penilaian manusia. Tulislah kisahmu dengan keberanian, kejujuran, dan keyakinan kepada Tuhan. Selama langkahmu berada di jalan yang baik, teruslah berjalan meski tidak semua orang memahaminya. Sebab pada akhirnya, yang akan mempertanggungjawabkan hidup ini bukan mereka yang banyak berkomentar, melainkan dirimu sendiri di hadapan Allah. Dan tidak ada kisah yang lebih indah daripada kisah yang dijalani dengan setia pada nilai, tujuan, dan takdir yang telah Tuhan tetapkan untukmu.
untuk perempuan yang ga sengaja baca tweet ini, semoga jodohmu adalah orang yang mau tumbuh dan berkembang bersama, yang bisa diajak komunikasi, deeptalk, tukar pikiran, support satu sama lain, sama-sama mau berjuang dan sama-sama takut kehilangan.
"Menikah itu ladang sabar. Kalau belum siap sabar, jangan dulu nikah. Karena di Rumah Tangga, kamu akan diuji oleh orang yang kamu cintai sendiri."
KH. Baha'uddin Nursalim
"Akan datang suatu masa pada hatimu, sebuah beban yang terasa lebih berat daripada gunung. Hal itu hadir bukan untuk membuatmu berputus asa, melainkan agar engkau menjadi lebih dekat (kepada Tuhan)."
Shams Tabrizi
"Perempuan itu adalah makhluk yang suka membayangkan masa depan, maka janganlah engkau (laki-laki) membuatnya menderita dengan harapan tanpa kejelasan. Halalkan atau tinggalkan, muliakan atau ikhlaskan."
Mbah Moen
@dawuhguru
"Dia yg marah kepadamu kemudian ia kembali untuk berbincang denganmu tanpa mengungkit-ungkit seakan tak ada masalah yang terjadi, maka dia adalah sosok yg mencintaimu dengan hati yang tulus, maka jangan engkau sakiti dia dan jgn sampai engkau kehilangan dirinya."
Nizar Qabbani
MENGHILANGLAH
Dari seseorang yang kamu anggap penting.
Apabila kehilanganmu dicari, maka jagalah dia sebaik mungkin. Dan apabila kehilanganmu tidak dicari maka menghilanglah selamanya.
Percaya diri memang penting, namun sadar diri jauh lebih penting.
"Allah tidak pernah salah mempertemukan kamu dengan seseorang. Hadirnya membawa salah satu diantara dua hadiah untukmu yaitu kebahagiaan atau pengalaman."
Imam al-Ghazali
"Jika engkau mencintai sesuatu, bebaskan. Jika ia kembali padamu, itu milikmu selamanya. Jika tidak, maka sejak awal dia bukanlah milikmu."
~Jalaluddin Rumi