Innalilahi wa innailaihi raji'un 🥀
Turut berduka cita atas meninggalnya kiper Palestina, Saleem Al-Ashqar, yang berusia 32 tahun.
Ia meninggal setelah ditembak oleh pasukan Israel pada 30 Juni kemarin di jalur Gaza.
Saleem dilaporkan baru menikah 5 bulan, istrinya hamil anak pertama, dan ia sedang mencoba mendapatkan air saat kejadian tersebut terjadi.
Pelatih kepala tim nasional Senegal, Pape Thiaw, menjadi topik pembicaraan di Amerika karena pernyataan yang dibuatnya saat konferensi pers, terkait dengan ibadah sholat Jum'at
Wartawan :
"Hari ini ada angin yang sangat kencang di negara bagian New Jersey, dan petugas keamanan menyarankan anggota delegasi untuk tidak keluar demi keselamatan kalian... mengapa Anda tetap keluar untuk menunaikan sholat...?"
Pape Thiaw :
"Apakah ada yang lebih penting daripada sholat? saya rasa itu bukan urusan Anda... kalian takut pada angin, sementara kami takut kepada Allah, Zat yang menciptakan angin... kita datang ke sini untuk sebuah pertandingan hiburan, lantas kita lupa bahwa kita diciptakan untuk menyembah Allah...
Bahkan kalo final Piala Dunia FIFA digelar hari ini dan kami adalah salah satu tim finalisnya, kami tetap akan keluar untuk menunaikan sholat Jum'at, meski itu berarti kehilangan gelar juara...
Jangan ceramahi kami tentang ritual dan kewajiban agama kami..."
#PialaDunia
What has happened at the #2026WorldCup over the last 48 hours:
• Swiss footballer Embolo's visa was put under review and he was only able to join his team days later.
• Iraqi national team player Aymen Hussein was held for questioning for nearly 7 hours upon entering the United States.
• The Iranian national team spent days dealing with visa procedures at the U.S. Consulate in Türkiye. The U.S. only allowed them entry on match days. Fifteen members of the delegation were denied visas.
• Omar Abdulkadir Artan, named CAF's Best African Referee of 2025, was denied a visa. Despite travelling to the U.S. with a diplomatic passport, he was refused entry and sent back. FIFA announced that he will not be able to officiate at the tournament.
• The South African national team arrived in the United States much later than planned because part of the delegation was not granted visas.
• Members of the Senegal national team staff were forced to remove their shoes and subjected to lengthy searches, sparking accusations of racism.
• The Uzbekistan national team was searched with bomb-sniffing dogs and the footage went viral in international media.
• Some Scottish supporters, despite being eligible to enter the U.S. visa-free under the ESTA programme, had their travel authorisations revoked just days before departure.
• Many supporters who had already bought tickets and booked accommodation had their visa applications rejected, resulting in financial losses.
1998: Andi Arief diculik aparat Orde Baru karena aktivisme pro-demokrasi.
2018: Sebut Prabowo "Jenderal Kardus" , dituduh lebih pilih uang daripada perjuangan.
2019: Ditangkap polisi karena narkoba di hotel. Direhabilitasi BNN.
2022–2023: Dipanggil KPK berkali2 , diduga terima aliran dana korupsi Bupati PPU Abdul Gafur Mas'ud yang mengalir ke Musda Partai Demokrat Kaltim.
Juli 2024: Jadi Komisaris PT PLN , hadiah setelah jadi tim pemenangan Prabowo-Gibran.
Orang yang dulu diculik karena lawan kekuasaan , sekarang dapat kursi BUMN dari kekuasaan yang sama.
Yang paling ironis?
Dia dapat komisaris PLN bareng mantan terpidana korupsi BI Burhanuddin Abdullah , sama2 TKN Prabowo-Gibran.
Ini bukan karir.
Ini curriculum vitae negeri korup.
Tetangga Mbah Sadiman dulu apa gak malu ya? Orang lagi pusing bukitnya gersang, si mbah nekat jual kambingnya buat beli bibit beringin malah diketawain satu kampung dibilang gila.
Dulu pas bukit di Wonogiri itu abis kebakaran dan kering parah, si mbah ini malah nekat nanem beringin tiap hari selama 20 tahun lebih tanpa dibayar. Tetangganya pada nyorakin karena beringin kan dianggap mistis sama angker wkwk.
Tapi sekarang belasan ribu pohon yang dia tanem sendirian udah jadi hutan lebat, terus malah ngasilin banyak sumber mata air baru. Ujung-ujungnya warga desa yang dulu ngatain dia gila sekarang bisa dapet air bersih gratis buat bertani. Sukses membungkam satu kabupaten sih ini.
Sampai sekarang, mbah masih suka naik ke bukit buat ngecek pohon-pohonnya. Beliau pernah bilang, upah terbesar buat dia itu bukan uang, tapi ngeliat warga kampungnya udah gak kesusahan air bersih lagi pas musim kemarau.
nasib si mbah sekarang udah tenang banget, dihormatin satu kabupaten, dan hidupnya berkah karena berhasil membungkam omongan tetangganya pake karya nyata.
Sehat selalu Mbah Sadiman! 😭 Maturnuwun, sungkem beneran gue.
1. Tahlilan secara fiqh bukan kewajiban, saya pikir di tataran ini sudah clear
2. Permasalahannya bukan lagi soal fiqih, tapi secara sosial. Ada rasa gak enakan hidup di masyarakat jika tidak menyelenggarakan, di beberapa tempat ada tetangga gaje julid juga. Nomor 2 ini dominan
Saya bikin postingan ini tanggal
28 Maret 2026.
Ini bukan kebetulan.
Ini memang sudah di takdirkan untuk kamu.
Siapapun yang baca postingan ini.
Kapanpun kamu baca.
Pokoknya 1 bulan dari kamu baca postingan ini.
Bakal ada penawaran kerja sama dari orang yang tidak pernah kamu pikirkan. Dia datang begitu aja. Tanpa kamu harapkan, tanpa kamu tunggu bahkan kamu lupa kenal di mana dengan orang ini.
Di momen ini kamu bakal kaget
"kok bisa ya rezeki datang dari pintu yang tidak pernah kamu duga".
Kemudian kamu akan ingat dengan postingan ini.
Yang kedua kamu akan menerima kabar yang sangat membahagiakan, yang akan membuat kamu bersujud syukur hingga menangis
"Ya Allah besar sekali nikmat yang kamu hadirkan hari ini 🥺"
Ini bukan hanya soal uang atau pekerjaan. Ini bisa juga tentang kamu menemukan jodoh, kamu menerima kabar kehamilan, kamu diterima di universitas impian. Kamu mendapatkan beasiswa. Pokoknya apapun hal yang selama ini membuat kamu
over thingking dan merasa tidak pantas akhirnya terbantahkan.
Kalian ingat baik baik ya.
1 bulan semenjak kamu membaca postingan ini.
Aamiin
[Wajib Dibaca: Pesan Penting untuk Para Tante, Bude, Mama, dan Perempuan Generasi Boomer atau Gen X Jelang Lebaran]
Halo, para Tante, Bude, Mama, dan perempuan hebat dari generasi Boomer atau Gen X!
Sebentar lagi Lebaran tiba, saatnya berkumpul dengan keluarga besar yang penuh kehangatan. Namun, di tengah niat baik untuk memberikan perhatian kepada keponakan, kerabat, atau anak muda lainnya, terkadang kata-kata kita bisa menjadi pisau bermata dua. Mari kita jaga agar pertemuan ini tetap menyenangkan dan mendukung, bukan malah menyakiti hati.
Hindari Pertanyaan Sensitif yang Bisa Menimbulkan Ketidaknyamanan:
Kapan nikah?
Kapan punya anak?
Kerja di mana sekarang?
Berapa gajinya?
Sudah lulus kuliah belum? Bagaimana skripsinya?
Pertanyaan seperti ini, meski dimaksudkan untuk peduli, bisa terasa seperti tekanan bagi mereka yang sedang menghadapi tantangan pribadi. Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang unik, ada yang karirnya melesat seperti roket, ada yang masih jatuh bangun mengejar impian. Ada yang tersenyum lebar, tapi ada juga yang menyembunyikan air mata.
Berhentilah Membandingkan. Misalnya:
"Anakku umur segini sudah setinggi ini."
"Anakku umur segini sudah jadi orang sukses."
"Anakku umur segini sudah bisa mengumrohkan ibunya."
Perbandingan seperti ini bisa membuat orang lain merasa rendah diri. Ingat, semua orang punya cerita sendiri-sendiri. Jangan sampai silaturahmi yang hanya setahun sekali ini berubah menjadi momen menyakitkan bagi mereka yang sedang rapuh.
Alih-alih bertanya hal-hal pribadi, coba mulai obrolan dengan topik ringan seperti hobi, film favorit, atau rencana liburan. Ini akan membuat suasana lebih hangat dan inklusif. Kita tidak akan jadi momok yang dihindari. Mari kita ciptakan Lebaran yang penuh kasih sayang, di mana setiap orang merasa diterima apa adanya!
Teori Psikologi yang relevan dengan kasus ini bisa dibaca-baca lagi Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory) oleh Leon Festinger, ya. Teori ini, yang dikemukakan oleh psikolog Leon Festinger pada tahun 1954, intinya tuh menjelaskan bagaimana manusia cenderung membandingkan diri dengan orang lain untuk mengevaluasi kemampuan, pendapat, atau pencapaian mereka sendiri.
Ada dua jenis perbandingan: upward comparison (membandingkan dengan yang lebih baik, yang bisa memotivasi tapi sering menimbulkan rasa iri atau rendah diri) dan downward comparison (membandingkan dengan yang lebih buruk, untuk merasa lebih baik).
Dalam konteks kumpul keluarga seperti Lebaran, pertanyaan sensitif atau perbandingan sering memicu upward comparison yang tidak diinginkan. Hal ini bisa meningkatkan stres, kecemasan, atau bahkan depresi, terutama bagi generasi muda yang menghadapi tekanan sosial media dan ekspektasi budaya.
Menurut penelitian lanjutan, seperti yang dilakukan oleh psikolog seperti Joanne V. Wood, perbandingan sosial yang berulang dapat merusak harga diri (self-esteem) dan hubungan interpersonal. Oleh karena itu, menghindari hal ini membantu menjaga kesehatan mental semua pihak, menciptakan lingkungan yang lebih empati dan mendukung.
Teori ini mengingatkan kita semua ya, bahwa peduli itu tidak berarti kita membawa "penggaris" kesana kemari untuk mengukur dan sibuk membandingkan. Peduli adalah empati. Mendengarkan dan menghargai perjalanan masing-masing. Jika perlu dan mampu, memberikan dukungan dengan tulus dan penuh kasih sayang. Jika tak mampu, sekadar senyum sudah cukup melegakan.
Dikisahkan, suatu ketika Nabi ﷺ kedatangan tamu. Beliau mengutus seseorang kepada istri-istrinya untuk mencari makanan, namun mereka menjawab bahwa tidak ada apa-apa di rumah.
Maka beliau berdoa:
اللهم إني أسألك من فضلك ورحمتك فإنه لا يملكها إلا أنت
Langsung termenung sama hashtag-nya "Iran the last fortress of Islam".
Ini pesan sangat kuat yang ingin disampaikan kepada seluruh umat Islam, seakan-akan kita dipaksa berkaca pada sejarah.
Dulu, saat Mongol mendominasi dan memporak-porandakan negeri Muslim, cuma ada satu negeri Islam yang masih tegar melawan: Mamluk Mesir.
Dulu, saat imperialisme Eropa berada pada masa puncaknya dan menjajah negeri-negeri muslim, ada satu negeri Islam yang masih tegar membela dan melindungi umat Islam: Turki Usmani.
Sekarang, saat hegemoni Amerika-Israel menginjak umat Islam... Cuma Iran negeri merdeka yang tegar melawan, meski dikeroyok sedemikian rupa.
🔴Ketua Kopdes Merah Putih di Sleman speak up, ungkap resiko mengerikan, nih yang ngomong pelaku sendiri...
Analisa Risiko Nyata: Satu Koperasi di Satu Desa
Oleh: Bambang Sutrisno
Ketua KDMP Sidokarto, Sleman, DI Yogyakarta
Mari kita hitung sederhana. Dengan kepala dingin, tidak emosi, ini juga saya berpotensi dituding mengeluh atau sambat. Karena biasanya di grup kalau ada yg speak up langsung dituding cengeng, lemah, kakean sambat, keluh kesah bahkan ada yg usul ngeledek : "group diganti jadi group ketua koperasi sambat."
😊🤣
Saya adalah pengusaha UMKM (Usaha Mikir Keluarga Megap Megap). Kalau tulisan salah, saya mohon maaf, wong namanya rakyat ngeluarin uneg uneg, mungkin karena kurang literasi jadinya malah dipandang bodoh. Tapi gak papa, daripada dipendam ..🤭
Ini itung itungan saya wong cilik yg ditunjuk jadi ketua koperasi desa Sidokarto.
Pinjaman: Rp3 miliar.
2.5M untuk bangunan, alat prasarana dan kendaraan.
500 juta modal muter usaha.
Ini utang bosskuh bukan hibah, bunga 4% per tahun.
Jadi begitu kita ready duit modal diterima dan bangunan sudah dibikin, maka bulan depan kita sudah harus bayar angsuran 50 juta / bulan.
Atau
Cicilan: Rp600 juta per tahun
👉Untuk menghasilkan Rp50 juta laba bersih per bulan:
Jika margin bersih koperasi 5%,
maka harus menghasilkan:
Rp50 juta ÷ 5% =
Rp1 miliar omzet per bulan.
Artinya koperasi harus memutar omzet:
± Rp33 juta per hari, stabil.
Kalau margin hanya 3% (lebih realistis untuk retail sembako), maka:
Rp50 juta ÷ 3% =
Rp1,67 miliar omzet per bulan.
Apakah semua desa punya daya beli sebesar itu?
Belum tentu.!!!
Apakah pengurus koperasi punya pengalaman ngelola duit sebesar itu stabil beberapa tahun?
Coba cek, ketua koperasi yg berlatar belakang pengusaha dengan omzet di atas 1 M sebulan, ada gak?
KDMP bukan bisnis warung kelontong di desa yg omzetnya cuma beberapa desa.
Tapi harus 33 juta perhari. Biar bisa bayar angsuran 50 juta perbulan. Itu belum buat bayar pegawai, SHU dll.
Pegawai digaji, para patriot pengurus koperasi dapat SHU, yg dibayar dengan Yen, yen Ono sisa keuntungan setelah bayar angsuran dan biaya operasional.😊🤭
Skenario Gagal Bayar
1️⃣ Macet Ringan
Koperasi hanya mampu menghasilkan laba Rp35 juta per bulan.
Defisit Rp15 juta per bulan.
Setahun defisit Rp180 juta.
Kemungkinan akan terjadi restrukturisasi.
2️⃣ Macet Sedang
Koperasi hanya mampu bayar Rp25 juta per bulan.
Defisit Rp25 juta per bulan.
Setahun defisit Rp300 juta.
✓Cashflow tertekan.
✓Pengurus mulai disalahkan.
✓Kepercayaan mulai retak.
3️⃣ Gagal Total (Zonk)
Koperasi tidak menghasilkan laba sama sekali.
Lubang Rp600 juta per tahun.
Bunga tetap berjalan.
Status kredit bermasalah.
Sekarang hubungkan dengan kondisi desa yang ruang fiskalnya sudah sempit.
Jika desa harus ikut menopang atau terdampak skema pembiayaan, alias yang bayar utang dibebankan dana desa maka:
✓Pembangunan jalan bisa berhenti.
✓Saluran air tertunda.
✓Program pemberdayaan terpangkas.
✓Infrastruktur kecil desa terancam macet.
Dalam ekonomi publik, ini disebut crowding out:
anggaran pembangunan tersedot untuk menambal risiko usaha.
Suatu hari, Umar bin Khattab melihat Jabir ibn Abdullah pulang dari pasar dengan membawa sesuatu di tangannya.
Umar bertanya, “Apa yang engkau bawa itu, wahai Jabir?”
Jabir menjawab, “Ini sepotong daging. Aku membelinya karena aku ingin memakannya.”
Umar menatapnya, lalu berkata pelan namun menggetarkan, “Apakah setiap kali engkau menginginkan sesuatu, engkau langsung membelinya?”
Dialog itu sekilas mungkin terasa berlebihan. Apa salahnya makan enak? Apa salahnya membeli sesuatu yang kita inginkan? Jika kita yang ditegur, barangkali kita akan tersinggung dan berkata, “Kenapa ikut campur urusan orang lain? Suka-suka aku dong, mau makan apa saja, kan ini uangku."
Namun Jabir bukanlah orang yang hatinya sempit. Ia tidak marah. Ia justru diam, merenung, mencoba memahami maksud teguran itu. Umar tidak sedang melarang daging, dan tidak pula mengharamkan kenikmatan dunia. Ia hanya sedang mengajarkan prinsip besar: tidak semua keinginan harus dipenuhi. Manusia harus mampu mengelola hasratnya, bukan diperbudak olehnya. Sebab ketika keinginan selalu dituruti, perlahan ia berubah menjadi penguasa yang mengendalikan hidup.
Di sinilah letak pelajaran yang relevan sepanjang zaman, termasuk saat ini. Betapa banyak orang bukan hancur karena kekurangan, melainkan karena tidak pernah belajar menahan keinginan. Gaji dua digit bahkan tiga digit pun ternyata tak cukup, karena gaya hidupnya terus mengikuti keinginan yang mahal.
Atas nama gengsi, nafsu yang dibiarkan tumbuh liar akan mengikis ketahanan jiwa, melemahkan disiplin, dan menumpulkan empati. Orang yang terbiasa berkata “iya” pada semua keinginannya akan kesulitan berkata “tidak” saat hidup menuntut pengorbanan.
Puasa hadir sebagai latihan nyata untuk menaklukkan diri. Kita lapar, kita haus, sementara makanan dan minuman tersedia di depan mata, bahkan kini cukup satu sentuhan layar untuk memesannya.
Uang mungkin ada, kesempatan terbuka, tapi kita memilih menahan diri. Bukan karena tidak mampu membeli, bukan tak punya uang, tapi karena sedang belajar menguasai diri.
Puasa mendidik kita untuk menyadari bahwa kebebasan sejati bukanlah melakukan semua yang kita mau, akan tetapi ketika kita mampu menahan apa yang kita mau.
Teguran singkat Umar kepada Jabir menjadi pelajaran panjang bagi siapa pun yang mau berpikir: kendalikan keinginanmu sebelum keinginan itu mengendalikanmu.
Jika anda sedang sholat fardlu ataupun sunnah kemudian mendengar orang yang minta tolong karena terbakar atau akan tenggelam maka engkau wajib membatalkan solatmu untuk menolongnya.
Bagaimana melakukan sholat wajib dikalahkan dengan kewajiban menolong orang yang dalam keadaan bahaya mengancam jiwa ? Ya memang demikianlah hukumnya. Saya yakin tuan-tuan sudah memahami.
Begitulah empati dalam hukum. Saudara-saudara kita yang ada di Sumatra sedang membutuhkan bantuan. Tidak cukup dalam sekala prinadi saja namun sekala negara. Dalam masalah bencana yang sudah sedemikian dahsyat tidaklah elok para pejabat ribut tentang status bencana, nasional atau bukan. Yang jelas bencana semenyedihkan tersebut adalah keadaan darurat. Sampai sholatpun wajib dibatalkan sebagaimana keadaan di atas. Apalagi hanya sekedar dana negara yang itupun dari hasil pajak mereka dan bencanapun disebabkan dari kesalahan kebijakan pejabatnya. Maka seberapapun dana yang dibutuhkan untuk saudara-saudara kita korban bah banjir lumpur dan kayu harus dan wajib dipenuhi dan diprioritaskan meskipun dengan mengurangi atau menghapus dana untuk program yang lain. Al-dlaruraatu tubikhu al-makhdlluraati.
Foto; https://t.co/P7OKVFGYuB
Berapa gelintir orang yang menikmati perambahan hutan dan tambang. Berapa juta warga yang menderita karenanya. Semua sudah jelas, pilih petaka untuk rakyat (na’uzubillah) atau pesta pora perambah dan penambang. Sementara aktifis lingkungan dianggap musuh oleh penguasa dan banyak yang ditangkapi. Jangan harapkan belas kasihan dari perusak alam.
Gus Mus: (Jangan) Terlalu Serius Jadi Kiai
Pagi ini jjs (jalan-jalan sehat) di alun-alun Rembang, mendampingi Gus Mus alias Kiai Mustafa Bisri. Tentu saja Mbak Admin Ienas Tsuroiya ikut serta. Di tengah jalan saya berseloroh, sekedar untuk membuka pembicaraan.
"Abah ini umurnya sudah delapan puluh tahun lebih, tapi jalannya masih tegap. Sementara banyak kiai yang umurnya di bawah njenengan, sudah harus memakai kursi roda."
Saya diam sejenak, menunggu respon Abah. Lalu,
"Soalnya beliau-beliau itu terlalu serius jadi kiai sih," kata Gus Mus.
Saya tertawa sambil merenungkan perkataan yang sederhana tapi maknanya, tentu saja, amat dalam itu. Dari rumah, Gus Mus jalan kaki menempuh jarak kurang lebih satu kilo meter, menuju alun-alun kota Rembang. Setelah itu, beliau akan mengitari alun-alun kira-kira lima kali. Gus Mus masih bisa jalan kaki dengan "pace" atau kecepatan ala anak-anak muda. Luar biasa. Tak ada tanda-tanda "ngos-ngosan" sama sekali.
Setelah beberapa saat, beliau, masih dalam keadaan jalan kaki dengan cukup cepat, bercerita bahwa Kiai Abdul Hakim Mahfudz, alias Gus Kikin, Ketua PWNU Jatim dan pengasuh Pesantren Tebuireng, dua hari lalu sowan ke "ndalem" beliau (maksudnya Gus Mus) di Leteh, Rembang. Gus Kikin melaporkan "ontran-ontran" yang sekarang tengah berkecamuk dalam tubuh PBNU. Tentu saja Gus Kikin cemas sekali melihat hal ini.
Apa respon Gus Mus?
"Sampeyan kan sudah lama di NU, masak ndak tahu. Di NU ribut-ribut itu biasa, namanya orang banyak, kepentingannya juga banyak," seloroh Gus Mus.
Lalu, "Sampeyan ndak usah cemas. Santai saja. NU itu milik Gusti Allah, sudah ada yang ngurus, ndak usah khawatir," kata beliau.
Gus Mus memang selalu santai menghadapi keadaan apapun, tidak mudah cemas dan panik. Ini bukan berarti beliau tidak sungguh-sungguh memikirkan NU. Bukan. Hidup beliau sejak muda hingga sepuh saat ini dihabiskan dalam NU. Organisasi ini sudah menjadi bagian dari dirinya.
Ketika suatu waktu Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, melaporkan tentang "ribut-ribut" dalam tubuh organisasi yang ia pimpin itu, Gus Mus juga merespon dengan santai:
"Salahmu sendiri pengen jadi Ketua NU. Wong kamu sendiri yang pengen jadi Ketua NU kok sekarang mengeluh."
Mungkin gaya santai Gus Mus inilah yang membuatnya tetap segar-bugar hingga usia sepuh saat ini. Jalannya masih tagap. Tak ada pantangan apapun dalam soal makanan. "Tak soal makan apa saja, asal tidak berlebihan, tahu batas," kata beliau suatu saat.
Filosofi hidup sederhana ala Gus Mus.
🪴🌿💐
Nabi Muhammad ﷺ mengeluh dan memohon kepada Allah سبحانه وتعالى karena banyak ummatnya yang meninggalkan Alqur'an. Tapi Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan kita selayaknya seorang sahabat😔