Kontroversi Derby d’Italia belum usai.
Penanggung jawab wasit Serie A, Gianluca Rocchi, menyampaikan permintaan maaf usai laga Inter Milan vs Juventus yang berakhir 3-2 di Giuseppe Meazza (15/2/2026).
Wasit Federico La Penna dinilai keliru memberi kartu kuning kedua untuk Pierre Kalulu. VAR tak bisa mengoreksi karena sesuai aturan saat ini tak mencakup kartu kuning kedua.
Rocchi, seperti dikutip ANSA, mengakui keputusan itu “jelas salah” dan juga menyoroti dugaan simulasi Alessandro Bastoni. Sementara itu, IFAB dikabarkan akan membahas revisi aturan akhir Februari.
Menurut Bolaneters, aturan VAR untuk kartu kuning kedua perlu diubah?
#Bolanet #bldhen #DerbyDitalia #Juventus #kalulu
REPUBLIK CHARITY
(Bagi rakyat kecil).
Polanya klasik, malah spt hafalan, tp justru pola itu yg bikin banal sekaligus berbahaya.
Ketika kekeliruan aparat berhubungan dgn rakyat kecil & viral, aparat cepat berubah fungsi, bukan lagi sbg Bhabinkamtibmas & Babinsa, melainkan penyalur bantuan, setelah salah sasaran.
Rakyat kecil ditangkap, digiring, digebuk dipermalukan, & diviralkan.
Lalu publik ribut, kamera menyala, jempol netizen bergerak, setelah itu negara panik, lalu tampil sbg dermawan, bukan sbg pihak yg keliru.
Dugaan tindak pidana aparat tidak diakui lewat mekanisme keadilan, melainkan ditebus lewat bantuan sembako, modal usaha, sepeda motor, & disempurnakan dgn narasi kepedulian.
Seolah masalahnya ekonomi, bukan tindakan aparat yg "kebablasan".
Pasal penghinaan, menguap.
Penganiayaan oleh aparat, lenyap.
Fitnah & persekusi, sirna.
UU ITE seolah tak berlaku & tiba² lupa alamat, padahal sengaja diekspos via media elektronik.
Yg tersisa hanya narasi penyelamatan, bukan pertanggungjawaban.
Ini bukan potret keadilan, melainkan;
MANAJEMEN CITRA.
Terhadap rakyat kecil, negara memang piawai mengganti adegan, dari aksi kekerasan, menjadi pentas kepedulian.
Lalu, publik diajak bersyukur :
"Masih untung dibantu".
Selama pola ini terus dipuji,
retak nalar & arogansi aparat terus dibiarkan, rakyat kecil akan selalu jadi figuran dua kali ;
1. sebagai korban yg ditindas, dan;
2. sebagai alat pencitraan, ketika kamera berdatangan.
_____________
Seolah - olah aparat boleh keliru, asal bersedia berderma di depan lensa.
Pasal berlapis boleh ditepis, asal adegan empati ditayangkan.
Korban tak perlu dipulihkan martabatnya, cukup dibuat tersenyum, jabat tangan & berpelukan, dgn dihujani hadiah, sbg "tukar tambah" akuntabilitas.
Rakyat kecil tetap di posisi yg sama, bukan warga dgn hak, melainkan hanya objek belas kasih negara yg ketahuan salah bertindak & viral.
.
.
.
REPUBLIK CHARITY
(Bagi rakyat kecil).
Polanya klasik, malah spt hafalan, tp justru pola itu yg bikin banal sekaligus berbahaya.
Ketika kekeliruan aparat berhubungan dgn rakyat kecil & viral, aparat cepat berubah fungsi, bukan lagi sbg Bhabinkamtibmas & Babinsa, melainkan penyalur bantuan, setelah salah sasaran.
Rakyat kecil ditangkap, digiring, digebuk dipermalukan, & diviralkan.
Lalu publik ribut, kamera menyala, jempol netizen bergerak, setelah itu negara panik, lalu tampil sbg dermawan, bukan sbg pihak yg keliru.
Dugaan tindak pidana aparat tidak diakui lewat mekanisme keadilan, melainkan ditebus lewat bantuan sembako, modal usaha, sepeda motor, & disempurnakan dgn narasi kepedulian.
Seolah masalahnya ekonomi, bukan tindakan aparat yg "kebablasan".
Pasal penghinaan, menguap.
Penganiayaan oleh aparat, lenyap.
Fitnah & persekusi, sirna.
UU ITE seolah tak berlaku & tiba² lupa alamat, padahal sengaja diekspos via media elektronik.
Yg tersisa hanya narasi penyelamatan, bukan pertanggungjawaban.
Ini bukan potret keadilan, melainkan;
MANAJEMEN CITRA.
Terhadap rakyat kecil, negara memang piawai mengganti adegan, dari aksi kekerasan, menjadi pentas kepedulian.
Lalu, publik diajak bersyukur :
"Masih untung dibantu".
Selama pola ini terus dipuji,
retak nalar & arogansi aparat terus dibiarkan, rakyat kecil akan selalu jadi figuran dua kali ;
1. sebagai korban yg ditindas, dan;
2. sebagai alat pencitraan, ketika kamera berdatangan.
_____________
Seolah - olah aparat boleh keliru, asal bersedia berderma di depan lensa.
Pasal berlapis boleh ditepis, asal adegan empati ditayangkan.
Korban tak perlu dipulihkan martabatnya, cukup dibuat tersenyum, jabat tangan & berpelukan, dgn dihujani hadiah, sbg "tukar tambah" akuntabilitas.
Rakyat kecil tetap di posisi yg sama, bukan warga dgn hak, melainkan hanya objek belas kasih negara yg ketahuan salah bertindak & viral.
.
.
.
Ngeriii....
Detik-detik tanah longsor terjadi di area tambang nikel PT Halmahera Transportasi Energi (HTE), wilayah operasi PT Mega Haltim Mineral, Provinsi Maluku Utara. Dalam video terlihat situasi mencekam saat material longsor menghantam area kerja.