Kenapa harus ada pengawas langsung pusat? Liat aja kejadian yg udah2 pas menkes turun, pejabat/ org didaerahnya langsung pasang muka dua, abis itu balik ke setelan awal lagi
Saran utk kemenkes ini iship dilepas sama perwakilan independen dri kalian, sifatnya menaungi dan sebagai pengawas langsung
Percaya deh, mau buat hotline ga akan kelar, adik2 ini bakal takut juga melapor karena whistleblower di indo itu ga akan aman
Innalillahi wa inna ilaihi raajiβun..
Baru juga 21 juli kemarin ada dokter internship meninggal.
Hari ini 26 Juli ada kabar duka lagi. π’
Mau sampe kapan sistem internship dokter kita bisa dibenahi?
Pak menkes kalo bsa ngasih contoh mengabdi kedaerah terpencil minimal 1 tahun deh
Kalo aman gue nyusul, stop dlu gimmick jdi konten kreator gizinya di instagram, serahin ke ahlinya aja π
Nama mereka sudah tercatat di https://t.co/0oxJUTcFBv:
Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani , anggota DPRD Kabupaten TTU.
Dua orang yang terpilih untuk mewakili rakyat.
Dua orang yang dibayar dari pajak rakyat.
Dua orang yang seharusnya menjaga fasilitas kesehatan rakyat.
Yang mereka lakukan: masuk ruang perawatan, bentak dokter jaga, tunjuk mukanya , karena dokter itu menjalankan protokol medis dengan benar.
Terus kmrin ada yg heran kok dokter gamau ke daerah, maunya kekota aja.
Ini nasib kakakΒ² sama guru saya yg di daerah, ga jarang diperlakukan ga layak di daerah kelahiran sendiri π
Nahkan bener ada yg unik, tapi hari ini bukan tentang kasus pemeriksaan. Mumpung masih anget, coba kuceritain disini ya.. Jadi begini ceritanya:
π΄π»: "Mas, mau daftar rontgen."
π¨π»βπ»: "Iya Pak, sudah ada surat pengantar? Saya sekalian pinjam KTP buat daftar ya."
(Pasien nyodorin surat + KTP, terus ngeluarin kartu BPJS)
π΄π»: "Ini Mas, sama ini kartu BPJS-nya."
π¨π»βπ»: "Oh, kartu BPJS-nya ndak usah Pak, saya daftarnya pakai KTP saja."
π΄π»: "Iya Mas, tapi ini nanti saya rontgennya mau pakai BPJS."
π¨π»βπ»: "Maaf Pak, untuk rontgen dengan pengantar dari klinik luar tidak bisa memakai BPJS," (berusaha tetap lembut).
π΄π»: "Loh kenapa nggak bisa? Kan saya punya BPJS, masa nggak boleh dipakai periksa?" (nada mulai tinggi).
π¨π»βπ»: "Boleh saja Pak pakai BPJS, tapi harus sesuai alurnya. Tidak bisa digunakan kalau Bapak langsung bawa pengantar dari klinik luar."
π΄π»: "Loh nggak bisa gimana?! Kemarin saya lihat di TikTok katanya periksa foto rontgen gigi bisa pakai BPJS!"
π¨π»βπ»: "Iya Pak, benar bisa. Tapi alurnya harus sesuai. Bapak periksa dulu ke PPK 1 atau dokter gigi keluarga. Nah, kalau dokter merasa Bapak perlu dirujuk, nanti Bapak dirujuk ke RS sini untuk periksa di poli gigi. Nanti dokter poli gigi RS ini yang kasih pengantar buat rontgen gigi kalau memang dibutuhkan."
π΄π»: "Alah ribet banget. Orang sakit mau periksa aja harus bolak-balik!"
π¨π»βπ»: (Dalam hati: Iya Pak, emang ribet sebenernya... π) "Iya Pak, memang aturan dari BPJS-nya seperti itu."
π΄π»: "Yaudah ini kalau bayar berapa?"
π¨π»βπ»: (Menyebutkan nominal tarif panoramik)
π΄π»: "Yaudah saya bayar aja, ribet banget mau pakai BPJS aja dipersulit gini!"
π¨π»βπ»: "Baik Bapak, silakan duduk dulu ya, saya proses pendaftarannya."
---
Fast forward akhirnya pasien selesai saya foto, dan langsung ke kasir buat bayar. Sambil nunggu, saya cuma bisa narik napas panjang.
Jujur, capek banget harus terus-terusan jadi "penjahat" di mata pasien. Bukan petugasnya yang mempersulit, tapi sistemnya memang begitu.
Keresahan saya: kenapa ya dari pihak BPJS sendiri maupun karyawan2nya jarang banget kelihatan aktif di medsos buat meluruskan misinformasi atau konten-konten clickbait yang menyesatkan?
Selama ini, yang mati-matian meluruskan info di X atau TikTok justru teman-teman nakes dokter, perawat, bidan, sampai rekam medis. Kami yang di lapangan yang harus "berhadapan" langsung sama pasien marah-marah gara-gara termakan konten TikTok yang infonya setengah-setengah.
Yuk, teman-teman BPJS, lebih aktif lagi dong buat edukasi publik secara langsung di medsos. Kasihan masyarakatnya bingung, dan kami di lapangan juga kelelahan harus selalu klarifikasi tiap hari. Semoga kedepannya bisa lebih sinergis ya! π«
Beli budak aja beli budak, udah biaya sekolah mayoritas Sp itu Mandiri, tidur kurang, badan hancur dari dalam, malah dipertanyakan keteguhannya dalam menjaga sumpah profesi.