Kamu kira saya bicara
mengenai patah hati ?
Tidak, ini lebih luas lagi;
tentang apapun yang menyulitkan kita untuk mengikhlaskan, baik yang memakai hati, atau tidak sama sekali.
Yang tersisa, bukan berarti
ditujukan untuk dipulihkan lagi.
Sengaja disisakan karena memang untuk dijadikan pembelajaran di kemudian hari. Atau hanya sebagai pengingat bahwa bertindak bodoh cukup sekali, tak usah diulang kembali.
Aku bisa menjelma apa saja;
Dingin yang memeluk pagimu.
Terik yang menghangatkan siangmu.
Sepi yang menemani malammu.
Aku bisa menjadi segala yang kau butuhkan.
Sayang, adaku, tiada bagimu.
Bagaimana jika kau kucintai beribu kali lipat dari ini? Apa kau mampu menerimanya?
Terima saja dulu, mengenai balasan tak usah terburu-buru, yang kemarin saja masih belum terbalaskan.
Atau tak berniat kau balas?
Ah, jangankan menjadi yang selalu kau kenang, menjadi yang kau lupakan saja aku sudah cukup Senang.
Mana mungkin melupakan, jika sebelumnya tidak ada dalam ingatan, kan?
Salah satu yg mbuat saya mrasa senang & tidak brhenti brucap syukur adlh saya dikelilingi oleh orang2 baik, orang2 yang menyenangkn, orang2 yg sukarela ada untuk saya.
Trima kasih sdh mluangkan tmpat untuk saya,
smoga saya bs mminimalisir kkecewaan yg mncul krena kelalaian saya.
jika sebuah jiwa didampingi ketulusan, maka air mata yang keluar adalah keikhlasan.
Rela jika sebuah jiwa ini terluka, namun tak rela jika jiwa itu terluka.