Akun-akun mungil pendukung Ganjar-Mahfud ayo bersama suarakan kebaikan Pak Ganjar, kalau sendirian mungkin lenyap ditelan akun besar nan monster....
#GasssGanjarMahfud#diambukanpilihan
Video sbg pemanis ☺
https://t.co/MJIJzkR618
Harapan Baik untuk Ganjar Pranowo
Orang Indonesia punya kepercayaan tinggi pada nama. Nama dipercaya membawa pengaruh baik bagi nasib manusia, maka jika nama dirasa kurang tepat, upaya menggantinya adalah jalan menuju kesempurnaan hidup.
Itulah yang ditunjukkan oleh Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Sosok penting dalam dunia pergerakan dan pendidikan Indonesia. Ia merasa namanya terlalu mengesankan kelas priyayi ningrat, sehingga ia sulit dekat dengan rakyat jelata. Setelah tirakat dan berdoa, ia putuskan mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Tepat sekali. Nama barunya itu mendekatkan dirinya pada rakyat dan anak-anak bumiputera, tanpa sekat dan batas sosial dan budaya yang membatasi.
Kisah lainnya datang dari tokoh besar bernama Sukarno. Anda semua tahu, kita tidak bisa membicarakan sejarah Indonesia tanpa menyebut namanya. Semasa bocah, Sukarno punya nama kecil Kusno. Lantaran sakit-sakitan, Soekemi Sosrodihardjo, ayah Sukarno, memutuskan mengganti nama putranya itu.
Terpilihlah nama Sukarno. Nama itu diambil dari nama Karna, tokoh dari dunia pewayangan. Karna sang satria pemanah dari negeri Astina. Nama yang sempurna, Sukarno sesuai namanya menjadi pemimpin besar bagi Revolusi Indonesia, Presiden pertama Indonesia paling disegani dunia internasional.
Hari ini kita pun mengenal Ganjar Pranowo. Ia adalah tokoh yang juga punya sejarah mengubah namanya. Ganjar adalah anak seorang polisi biasa bernama Pramudji Parmudi Wiryo. Ganjar kecil bernama Ganjar Sungkowo, ia lahir dari keluarga sederhana. Akibat situasi serba kekurangan yang dialami Ganjar kecil, ia pun sering demam dan sakit-sakitan. Keluarganya kala itu memang bisa disebut kurang mampu.
Pramudji akhirnya memutuskan mencarikan nama baru untuk Ganjar. Dari Ganjar Sungkowo diubah menjadi Ganjar Pranowo. Perubahan nama itu rupanya sangat melekat pada nasib baik Ganjar. Ganjar adalah doa dan hadiah, sedangkan Pranowo adalah hati yang terang. Nama itu sesuai dengan karakter Ganjar yang selalu terang hati dalam menghadapi persoalan. Secara filosofis, semakin berat cobaan, akan semakin besar ganjaran (hadiah/pahala) yang akan didapatkan Ganjar.
Nama yang diberkahi akan menuntun manusia ke jalan yang benar. Ganjar Pranowo, seperti halnya Sukarno dan Ki Hajar Dewantara, telah menunaikan tugas hidupnya sebagai sosok pemberi terang. Di bidang pendidikan, ide sekolah gratis SMK Jateng telah meluluskan 1837 siswa dengan 70% terserap dunia kerja, sisanya ada yang melanjutkan kuliah, ada yang berhasil menjadi anggota TNI/Polri.
Di bidang tata birokrasi, Ganjar mendapat penghargaan sebagai pemimpin daerah sebagai penyelenggara The Good Governor 2023 terbaik versi Asian Post dan Infobank. Ganjar juga diberi penghargaan oleh Bappenas pada tahun 2023 atas kebijakannya dalam mengatur pembangunan daerah di Jateng. Dalam urusan toleransi beragama pun, Indeks Kerukunan Umat Beragama di Jawa Tengah meningkat pada 2022 mencapai 76,8 dari 72,4, pada 2021.
Beberapa capaian di atas belum seberapa, masih akan sangat panjang jika diuraikan di sini. Namun, satu hal yang pasti, nama pemberian ayahanda benar-benar sesuai jatidiri Ganjar yang sebenarnya. Ganjar mendapat ganjaran (hadiah) dari rakyat karena telah bekerja dengan mengutamakan kejujuran dan keberpihakan pada rakyat. Pelan-pelan, kerja keras itu akan membawa terang, membawa pranawa, sesuai nama yang melekat pada beliau, Ganjar Pranowo.
Apakah beliau² buzzer PDI-P dan pembenci pak Jokowi..??
Seperti yang selalu disematkan pendukung Prabowo kepada orang² yang mengkritisi keputusan MK dan sikap Pak Jokowi.
Jika Goenawan M dan Gus Mus dianggap Buzzer PDI-P dan dianggap pembenci Pak Jokowi, maka saya bangga berada di barisan mereka. 🤟
PSI memilih dukung Prabowo-Gibran — sesuai dgn gelagatnya akhir2 ini.
Saya anggota PSI, ikut menyeleksi calon2 legislatornya, ikut kampanye. Tapi saya tak bisa menyetujui keputusan ini. Saya kecewa dan sedih.
Partai ini saya kira akan berani mengoreksi gaya politik lama yg transaksional (“saya dapat posisi apa jika saya dukung”). Tapi ternyata tidak.
Keputusannya dukung Prabowo-Gibran karena berharap dapat kursi di Parlemen.
Juga semangatnya menerima Kaesang dan menjadikannya Ketua Umum dengan seketika.
PSI kini jadi bagian komplotan nepotisme dan oligarki — tak lagi bertanya: buat apa membentuk partai sebenarnya?
@jokowi Kalau sebelum putusan MK kami masih sangat kagum dgn apa yg Bapak lakukan tapi setelah putusan MK kebanggan itu langsung hilang terserah Bapak apa yg akan dilakukan tdk ada lagi kebanggan dihati kami sebagai pendukung, saatnya kami beralih ke calon yg lebih berintegritas GAMA
Majunya putra sulung Presiden Joko Widodo yakni Gibran Rakabuming Raka mengecewakan publik.
Menurut budayawan Goenawan Mohamad kekecewaan publik karena adanya dorongan untuk maju sebagai bakal calon wakil presiden usai Mahkamah Konstitusi mengabulkan sebagian batas usia capres-cawapres. Goenawan mengatakan putusan ini tidak mungkin tanpa campur tangan Jokowi.
Goenawan menegaskan kekecewaan publik bukan soal usia Gibran yang masih muda untuk maju sebagai bacawapres, melainkan ia melihat ada ketidakadilan. Hal ini menjadi berbahaya ketika ketidakadilan merusak sistem kehakiman. Apalagi Gibran baru berpengalaman menjadi Wali Kota Surakarta selama dua tahun dan masih perlu diuji dalam pertaruhan politik lainnya. Misalnya, sebagai Gubernur atau Menteri.
Goenawan juga mengkritisi terpilihnya putra bungsu Jokowi yakni Kaesang Pangarep menjadi Ketua Umum PSI. Menurutnya, tidak mungkin Kaesang bisa tiba-tiba menjadi ketum tanpa melalui proses jika bukan seorang anak presiden. Goenawan menilai langkah tersebut salah.
Lirik Lagu Pak Tua, cocok nih 😀
Kamu yang sudah tua apa kabarmu
Katanya baru sembuh katanya sakit
Jantung ginjal dan encok sedikit sarap
Hati-hati Pak Tua istirahatlah
Diluar banyak angin