Pemandangan sederhana, tapi tamparannya keras.
Kalau hari ini kita masih diberi tubuh yang sehat, jangan kebanyakan mengeluh. Karena ada banyak orang yang kondisinya jauh lebih berat, tetapi semangatnya justru jauh lebih besar.
Sehat terus untuk bapak driver grab 🙌
ACTIVATE ALL YOUR SPOTIFY & AM ACCOUNTS
GO BACK LOGIN TO YOUR STREAMING ACCOUNTS MAKE SURE ITS ALL WORKING PROPERLY !!
NEW ERA IS OFFICIALLY STARTING
Yaa Allah… 😱😭
Konten kreator @/liumikes membagikan momen seorang guru yang juga merupakan ibu rumah tangga di Desa Sikundo, Kabupaten Aceh Barat, yang setiap hari harus menyeberangi jembatan rusak karena akses utama terputus.
Melalui kunjungan bersama Ekspedisi Kitabisa, ia menyoroti bahwa di sejumlah wilayah pascabencana masih banyak masyarakat yang hidup dengan akses jalan, pendidikan, dan fasilitas dasar yang jauh dari layak, sehingga membutuhkan perhatian dan perbaikan infrastruktur.
Sc: ckevault. id
Kalo ke Bandung, sempetin beli jeruk songkit ibu ini ya. Di daerah kemuning, di dalam tahu susu cihurip dan denhaag klapertart. Pokoknya dekat prima rasa. 1 nya 75ribu, siapa tau berarti banget buat ibu ini. ❤️
cc: mariaririz
Di balik tragedi tenggelamnya KLM Nurul Salsa di perairan barat Pulau Polassi, Kepulauan Selayar, ada satu kisah yang membuat banyak orang terdiam: kisah seorang kakek bernama Umar dan cucunya, Naura, 13 tahun. Dalam sebuah foto, Umar tampak duduk di sisi kapal, sementara Naura di sampingnya mengenakan pelampung—pelampung terakhir yang tersisa di kapal itu.
Saat kapal mengalami mati mesin dan cuaca memburuk, para penumpang hanya bisa menunggu bantuan di tengah laut. Di tengah situasi genting itu, Umar memilih menyerahkan pelampung terakhir kepada cucunya, memastikan Naura punya peluang lebih besar untuk selamat, sementara ia tetap tanpa pelampung. Foto mereka diambil hanya beberapa saat sebelum kapal benar-benar tenggelam. Wajah-wajah di atas kapal masih tampak berusaha tenang, seolah semuanya masih bisa dikendalikan, padahal mereka sedang menahan cemas menunggu pertolongan datang.
Umar dan Naura tidak sendirian. Ada empat anggota keluarga lain yang ikut dalam pelayaran itu: Maridaeng (istri Umar), Bau Intang (anak), serta Syahrul Amin (menantu). Mereka berangkat dari Kelurahan Putabangun menuju Benteng Selayar, berharap tiba dengan selamat seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya. Di rumah, keluarga menunggu dengan harap cemas. Komunikasi terakhir sempat terjalin lewat telepon saat kapal mengalami masalah mesin. Sekitar pukul 16.00 WITA, sambungan itu terputus, dan sejak saat itu tak ada lagi kabar yang mereka terima.
Sejak hari itu, setiap kabar dari laut terasa seperti mengetuk langsung ke dada keluarga. Saat tim penyelamat mengumumkan korban selamat dan korban yang ditemukan, keluarga menahan napas, berharap nama orang-orang tercinta ada di antara daftar itu. Namun Umar, Naura, dan empat anggota keluarga lainnya masih tercatat dalam daftar yang belum ditemukan.
Operasi pencarian masih terus dilakukan melalui jalur laut dan udara, dengan posko utama dipusatkan di Pulau Jampea agar lebih dekat dengan lokasi kejadian. Setiap gelombang yang disisir adalah harapan baru, bahwa mereka bisa segera ditemukan, apa pun kondisinya.
Kini, foto Umar dan Naura dengan satu pelampung terakhir itu menjadi simbol pengorbanan seorang kakek kepada cucunya. Di tengah ancaman maut, ia tetap memilih melindungi keluarga terlebih dahulu. Kisah ini mengingatkan bahwa di balik angka-angka korban, selalu ada wajah, nama, dan cinta yang tidak akan pernah dilupakan.
Kemaren abis belajar satu hikmah dari liat video soal islamophobia di luar negri sampe pada demo ke suatu masjid tertua disana, dan imamnya menghadapi massa dg sangat elegan dan menerapkan akhlak Rasulullah. Ternyata kuncinya yaitu tetap memperlakukan mereka dg kebaikan—