Saya akan cerita pengalaman mencari madu lebah hutan. Kita mulai dari foto ini. dulu dapat dari akun @iw4ndiunri. Lokasi di Kuansing, Riau. Kemungkinan dulu saya ikut mencari madu di hutan daerah sini.
Masuknya dulu dari Lubuk Jambi, Kuansing. Dekat perbatasan Sijunjung. Panah biru adalah Sungai Kuantan (Indragiri). Perjalanan ini di tahun 1994. Kala itu kami berangkat rombongan 7 orang.
Saya yang paling muda. Paman saya yang paling tua, dia jaman bujangnya emang daerah mainnya di sini. Awalnya niat kami menyusuri batang kuantan yang bagian hulunya melewati kampung ini. Tapi akhirnya memilih naik bus ke Lb Jambi dulu.
Perlengkapan yang dibawa adalah suluh atau obor. Sudah disiapkan dari kampung. Ini bukan sembarang obor. Dibuat dari daun kelapa kering. Diurai dan diikat dengan rapih juga rapat. Dimantra2in dikit pas bikinnya. Perlengkapan lain adalah tali, ember, jerigen, pisau dan parang.
Resiko perjalanan paling besar adalah bertemu harimau. Logistik makanan biasanya untuk 4-5 hari di perjalanan di hutan. Alat masak hanya panci, piring plastik dan gelas. Dan perjalanan pun dimulai. Sampai Lubuk jambi, setelah itu baru masuk hutan.
Biasanya yang dicari adalah pohon yang setidaknya ada 5 sarang lebah ukuran besar. Seperti foto tadi, adalah biasa bertemu pohon besar yang memuat 20 sarang lebah besar. Pohon ini tak bisa dipeluk oleh satu orang. Di hari pertama belum nemu. Karena posisi masih dekat perkampungan.
Kami pun bermalam. Biasanya cari pondok kebun orang. Atau pondok bekas jaman HPH dulu. Ada aja biasanya. Masak nasi dan lauk. Lanjut tidur menyiapkan tenaga. Paginya langsung jalan lagi. Mandi? ga perlu. cukup cuci muka aja sama boker. Setelah jalan beberapa lama. Bertemulah pohon yang memuat belasan sarang lebah.
Ritual pemanjatan dimulai. Suluh dibakar, tentu dengan mantranya. Ada 3 orang yang pemanjat ulung. Dia akan memanjat. Pohon besar bukan halangan. dia memanjat membawa obor. Dinyalakan setelah dekat sarang. Asapnya keluar untuk mengusir lebah.
Pimpinan rombongan di bawah sibuk merapal mantra. Waktu itu lebah terusir dengan baik. Tanpa menggigit. Biasanya ada saja satu dua yang mengigit. Setelah lebah terusir. Ember dibawa ke atas diikat tali. Lilin lebah mulai dipotong, dimasukin ke dalam ember. Lalu diturunkan pake tali.
Untuk menjaga kualitas madu. Ember dipastikan dalam keadaan kering. Dilap berulang kali pake kain bersih. Jerigen biasanya dicuci dulu. Lalu ditangkupkan selama beberapa hari biar semua airnya keluar. Tugas saya yang tak punya skill apa-apa ini, hanya menyiapkan ember-ember, lalu mengumpulkan lilin yang sudah diturunkan.
Waktu itu madu yang didapatkan sudah banyak dari satu pohon. Kami langsung menuju posko tempat tidur semalam. Ember-ember dibawa. Ditutup plastik. Yang ditakuti waktu itu adalah hujan. Alhamdulillah tidak kejadian.
Setelah sampai pondok. Lilin diperas. Madunya dimasukin jirigen. Disaring dulu. Lilinnya tetap dibawa pulang. Kalo ga salah ketika itu bisa bawa 10 jirigen 25 liter. Hasil yag memadai. Dan kami pun hanya 2 malam di hutan. Separoh dari madu sudah ada pembelinya. Ada pilot SQ.
Sisanya dijual retail. Saat ini di kampung saya masih ada pencari madu ini. Generasi baru. Kalo mudik suka mesen ke mereka. Generasi yg lama pensiun. Waktu kmrn mudik pas bokap meninggal. Sempat nostalgia pengalaman ini sm rombongan ini. Katanya skrg sudah susah ketemu pohon besar. Mrk juga meyakini kualitas madu hutan sudah berkurang. Karena sistem pertanian/perkebunan monokultur.
Dulu di sekitar kampung saya masih luas hutan tua. Skrg sudah sedikit. Pemhukaan kebun karet baru. Di Kuansing pun begitu. Sawit. Jika dulu sari bunga ya g dihisap lebah bervariasi. Buah2an hutan. Sekarang sudah sedikit. Kualitas dan rasa madu tergantung ke pohon di sekitarnya. Sekian. Terima kasih.
Semoga cerita ini bermanfaat. Kmrn rombongan tua ini minta saya beliin perahu karet. Mereka mau jalan-jalan menyusuri sungai dr kampung saya ke Teluk Kuantan. Mana ada saya duit untuk itu.
Kami dulu pernah disebut orang gila krn menanami lahan pasir tailing timah di belitung timur.
Lahan yg dihadapi sungguh ekstrim. Menurut ahli tanah, mungkin 20 tahunan rumput baru mau tumbuh lahan itu. Tapi gapapa. "orang gila" kan bebas. Tanam aja lah.
Tp sebenarnya, apakah kami yg berjasa?
Bukan. Nek Inah ini salah satunya yang berjasa.
Nenek berusia sekitar 74 tahun bersepeda menempuh jarak 10 km (pulang-pergi) dari rumahnya ke lahan bekas tambang untuk membantu menanam.