Kapitalisme telah mengubah makna hidup menjadi biaya hidup. Bahkan cinta menjadi alat hitung untung rugi. Dimata sistem ekonomi yang mencekik leher kita ini, kita hanyalah angka statistik di bawah garis kelayakan untuk sekedar mencintai.
Di buku the art of loving karya Erick from bilang bahwa di zaman modern ini manusia menjadikan hubungan sebagai komoditas, hanya soal apa yang aku terima jika aku memberi.
Jadi inget dulu sering dimarahin ortu karena ngelakuin kesalahan, terus akhirnya terpaksa bohong biar ga dimarahin.
Terus pas ketahuan bohong, ditanyain kenapa kok berani bohong? Aku jawab, “soalnya kalau jujur nanti dimarahin.”
Ortu respon, “ya kalau ga mau dimarahin jangan berbuat salah dong.”
Sempet bingung gimana caranya ya haha.
Akhirnya jadilah pribadi yang risk-averse (menghindari resiko), supaya ga melakukan kesalahan. Atau ya bohongnya mesti lebih jago biar ga ketahuan.
Pas udah dewasa (lulus kuliah), tau ga sehat. Akhirnya pelan2 merbaiki pola pikir dan karakter sendiri, dan akhirnya menerapkan pola pengasuhan yang sehat ke anak supaya ga kejadian di anakku. Breaking the cycle 😄
Kejadian hari ini di Rapat Umum Pemegang Saham Adaro Energi di Jakarta. Gak hanya satu, tapi dua pemegang saham mengungkapkan keresahan mereka atas rencana Adaro untuk membangun PLTU batu bara baru di tengah Krisis Iklim yang melanda.