Memasuki fase dimana mengalahkan ego untuk kebutuhan rumah adalah hal mutlak
Kata temanku " Ngerungokke mbokne dewe sambat dadi dongeng sakdurunge turu, raiso meneh egois opomeneh jaluk sangu"
Terjaga diantara orang orang sudah terlelap
Membayangkan hari esok yang makin runyam
Suara dengkur ibu yang terdengar sangat kelelahan
Bisingnya serasa mengiris batin
Untuk apa ia memforsir tubuhnya hingga tidurnya tak lelap
Aku bertanya dan terus bertanya,untuk apa?
Tenang
Terengah engah berlari ke tujuan yang tak pasti
Terus berusaha menguatkan diri dari gilanya dunia ini
Melapangkan hati menatap wajah wajah yang tertimbun sepi
Mencoba bersyukur dengan apa yang dimiliki
Menimbun tenanga untuk mengejar mimpi
Dan kemudian semua terasa baik baik saja
Berjalan seperti biasanya melewati hari yang gitu gitu saja
Dan kembali berjumpa dengan kamar tua yang bau dan buruk rupa
Mencoba kembali menutup mata dan berharap esok masih berjumpa
.
.
.
.
Sampai jumpa
Aku kembali ke ruangan yang dingin dan sepi
Suaraku tak terdengar lagi
Mulutku ku bungkam lagi
Mataku kupejamkan lagi
Aku hambar lagi
Yaa aku disini sekali lagi
Halo laman hitam yang telah lama tak ku kunjungi
Akhirnya aku kembali menulis disini
Dengan rasa lelah yang tak tau kapan akan terhenti
Aku kembali lagi bersama hati yang tersiksa seperti tertusuk belati
Tak ada tempat untukku pergi
Hanya bisa berhenti tanpa bisa mengulang lagi
Aku benci dengan lara
Aku benci menjadi tak berguna
Aku benci rupa
Aku benci mata
Aku benci kata
Aku benci diriku yang tak tertawa
Aku benci semua yang membuatku buta
Ya aku sedang benci
Pada akhirnya dan pada akhirnyaa
Kalimat itu terus berputar hingga tak lagi terdengar hingar bingar usaha
Semoga tetap waras dengan segala sesal dan harap yang tak kunjung terungkap
Semoga tetap hidup dan teruslah hidup hingga mati memintamu untuk kembali
Selamat bernafas.