Kau adalah sosok yang menyebalkan
mencipta geram di tiap ucapan
Tatapanmu penuh tantangan
seperti angin yang membawa badai pelan-pelan
Namun anehnya, hati ini bergetar
meski sering kau buat sabar tersambar
Ada sesuatu di balik tingkahmu
membuat rindu hadir tanpa ragu
𝑱angan tanya kabarku
𝑨ku tak punya jawab untukmu
𝑳angit telah lama meminjam birunya
𝑫an malam terlalu sering mencuri tenangnya
𝑱angan tanya kabarku
𝑫i sudut sepi aku menenun luka
𝑴enganyam rindu yang tak kunjung reda
𝑫i antara waktu yang enggan bersahabat
Aku trauma mendengar kata cinta
Suara itu kini menggema seperti pedih luka
Dulu ia datang membawa bahagia
Kini hanya menggores perih di dada
Cinta pernah kuanggap suci
Tempat jiwa bersandar, hati bersemi
Tapi kini, cinta menjadi belati
Menusuk perlahan, tanpa henti
Biarlah Ia Tetap Jadi Kenangan
Menyisakan Manis Di Tengah Kehilangan
Tak Perlu Dendam Pada Waktu Yg Berlalu
Karena Luka Hanya Menambah Pilu
Mari Kita Melangkah, Masing² Jalannya
Mencari Bahagia Tanpa Luka Menganga
Melepaskan Adalah Bentuk Cinta
Yg Paling Tulus Tanpa Paksaan Rasa
Kita adalah dua dunia yg lengkap
Tanpa harus saling merapat
Karena tak semua pertemuan adalah jawab
Kadang sendiri justru paling hangat
Mari jangan saling terhubung
Bukan berarti melupa, bukan berarti hilang
Hanya saja, dalam kesendirian yg lapang
Ada ketenangan yg tak terbilang
Demi ketenangan mental bersama
Mari kita lepaskan tali penghubung rasa
Tak semua dekat membawa makna
Kadang jarak adalah obat jiwa
Biarkanlah sunyi menjadi teman
Tanpa suara yang perlu ditelan
Tanpa cerita yang harus dibagi
Tanpa luka yang mesti sembunyi
Kita ini apa?
Mungkin hanya sekumpulan rindu tak bernama
Atau doa yang terbang tanpa arah
Seolah angin tahu lebih banyak dari kita
Jika kita ini cuma jejak yang akan hilang
Mengapa hati terasa berat menahan?
Jika kita ini hanya sebatas singgah
Mengapa luka ini terasa dalam?
Aku Menolak Kabarmu
Yang Kau Kirimkan Lewat Notifikasi Gawaiku
Bukan Karena Aku Tak Peduli
Tapi Karena Aku Sudah Memilih
Melanjutkan Hidupku
Tanpa Bayangmu
Jadi Biarkan Notifikasi Itu Memudar
Seperti Kenangan Yang Pernah Kita Ukir
Lalu Hancur Perlahan
Menjadi Abu Dalam Ingatan
Aku Menolak Kabarmu
Yg Kau Kirim Lewat Notifikasi Gawaiku
Dentingnya Menyelinap Disela Sepi
Tapi Bukan Rindu Yg Kutemui
Hanya Jejak Yg Ingin Kulupa
Kabar Itu Hanya Huruf Kosong
Dulu Mungkin Aku Akan Tergesa Membukanya
Tapi Kini Aku Tahu
Beberapa Pesan Lebih Baik Dibiarkan Bisu
Aku berdamai dengan bayanganmu,
menggenggam erat diriku yang baru.
Rindu mungkin datang menyapa,
tapi aku tahu, ia takkan lama.
Berpisah bukan tentang kalah,
melainkan cara semesta mengubah arah.
Aku tak menyesali apa yang pernah ada,
sebab kita pernah bahagia bersama.
𝙏elah usai perjalanan kita
𝙈eski hati sempat bertanya
𝙈engapa cinta yang pernah menghangatkan
𝙆ini harus dilepas perlahan
𝙉amun waktu, sang penyembuh rahasia
𝙈engajarkanku arti menerima
𝘽ahwa tak semua yang indah harus bertahan
𝘿an tak semua perpisahan adalah kesedihan
Ada waktu dimana luka terasa abadi
Namun waktu buktikan ia hanya mimpi
Berpisah darimu seperti kehilangan sebagian diri
Tapi damai datang perlahan hampiri
Dulu kita melukis mimpi bersama
Namun kanvas tak selalu setia
Kini warna berbeda menghiasi
Belajar ku terima, tak kutangisi
Berpisah bukan akhir dari cerita,
Hanya bab yang harus dilewati manusia.
Kini aku tahu, damai itu nyata,
Saat hati belajar menerima luka.
Terima kasih atas kenangan itu,
Yang kini menjadi pijakan baru.
Meski kita tak lagi satu,
Aku damai, aku bebas, aku mampu
Nasi putih tersenyum hangat
Sayur dan lauk berpadu nikmat
Aroma sambal menggugah selera
Mengajak kita melupakan sejenak dunia
Di meja ini tak ada kasta
Semua sama, berbagi cerita
Tawa ringan melarutkan penat
Saat sendok bertemu piring yang erat