"Eu vivi mal, vivi em pecado mortal.
Eu bebia muito, fumava muito... eu bebia tanto que não conseguia me controlar. Sentia um vazio tão grande que percebi que minha vida não teria significado se eu não tivesse me entregado a Jesus Cristo.
Fui enganada pela falsa luz da riqueza e da alegria, e essa luz me fez sentir ainda mais vazia.
Não é a forma como você começa que faz de você um santo, mas a forma como você termina.
Não é quem você foi, é quem você decide se tornar."
- Irmã Clare Crockett
Penelitian menunjukkan bahwa saat laki-laki melihat payudara, ternyata area reward di otaknya (area yang mirip saat melihat makanan atau uang) akan aktif dengan kuat.
Selain itu penelitian yang menganalisis "eye-tracking" menunjukkan bahwa reaksi visual pria lebih cepat terhadap payudara daripada wajah
Alasan ilmiah mengapa banyak laki-laki menunjukkan daya tarik kuat terhadap payudara wanita dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Mulai dari budaya, hingga neurotransmitter di otak.
Pada masyarakat dengan sumber daya terbatas, pria cenderung lebih menyukai payudara lebih besar, karena mensinyalkan cadangan nutrisi yang lebih banyak. Namun secara umum, bentuk tegas & simetris disukai oleh mayoritas laki-laki.
Perlu diingat bahwa tingkat ketertarikannya sangat bervariasi antar individu, serta masing-masing laki-laki memiliki preferensi serta variasi.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
1. Eye-tracking of men’s preferences for waist-to-hip ratio and breast size of women
2. Areas of brain activation in males and females during viewing of erotic film excerpts
Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya.
Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.
Makin tinggi jabatan orang makin beda cara mikir nya :
1) Level Staff = Fokus menyelesaikan jobdesc dengan benar sesuai dengan deadline.
Masalahnya jelas, kongkrit dan sudah ada solusi yg pasti di permasalahan tersebut.
2) Level Manager = Bukan hanya mikirin kerjaan sendiri tapi juga kerjaan tim + mulai mikir gimana caranya bisa tersistematis.
Keputusan yg diambil memiliki dampak yg berantai
3) Level Direktur/CEO = Memikirkan tentang Arah perusahaan di tahun yg akan mendatang bukan hanya fokus hari ini atau bulan depan.
Jika mengambil keputusan konseskuensi yg akan datang apa, resikonya apa dan dampak kalo salah ambil strategi apa.
Semakin tinggi levelnya justru semakin sedikit kepastian yg dihadapi. semua itu terjelaskan di teori "Elliott Jaques - Stratified Systems Theory"