salah satu taktik ambush marketing paling jenius ala Levi’s. Karena Levi’s Stadium dipake buat Piala Dunia, FIFA ngelarang logo Levi’s kelihatan karena mereka bukan sponsor resmi.
Liat cara mereka nutupinnya.
Time to be honest: We’ve all enjoyed the memes but this Arsenal team has been incredible over the past two seasons in Europe. They’ve given us so many special moments. This one will always be my favourite ❤️
There are places we pass through in life… and there are places that become part of who we are.
Manchester will forever be my home.
To the city, the club, and every supporter, my sincerest thank you. These past four years have been unforgettable, filled with moments my family and I will carry with us for the rest of our lives. There simply aren’t enough words to describe the happiness and warmth we’ve felt here.
Thank you for every cheer, every memory, and for making us feel at home from the very first day.
Forever a Red Devil ❤️
Ada orang tak suka bila saya kata "Lebih baik menyesal buat sesuatu daripada menyesal tidak buat sesuatu"
Itu prinsip yang saya belajar masa first job dulu, dan saya ikut
Last 10 years pula,
"Jika nak buat silap, buat cepat-cepat", supaya kita boleh belajar cepat & baiki cepat
Negeri Wano di One Piece ini menarik karena....
1. Ada program makan buah gratis yang dikasih penguasa. Dampaknya? Rakyatnya tidak bisa mengekspresikan apapun kecuali ketawa
2. Industrialisasi masif di bawah rezim otoriter. pejabatnya itu cuma simbol, aslinya mah ada antek asing di luar negara itu yang mengendalikan.
3. Ada pihak yang melawan? siap-siap masuk penjara, tanpa remisi apalagi reintegrasi. jadi pekerja paksa
4. Yang tak boleh dilupakan, sejarah telah direvisi. Di sekolah, anak-anak diberi doktrin bahwa pihak yang sebenarnya jahat dianggap sebagai pahlawan. Sebaliknya, pihak yang baik hanya tersisa dalam ingatan, itu pun di generasi tua.
5. Penguasanya menentukan ibu kota baru (Onigashima) yang jauh dari gerak ekonomi masyarakat. Jadinya kalau mau demonstrasi atau revolusi, rakyat harus menyeberang lautan ganas.
Buy your children a book every month and have a date to talk about the book and what they’ve read. Talk about the characters like they’re real. Bond over literature. Debate the lessons and decision making. Over food and drinks. Cultivate readers and build their collection
Secara khusus, saya dan istri berdiskusi soal alasan di balik pertarungan Usopp dan Luffy.
Kondisi Going Merry memang “pemicu”-nya, tapi bukan itu akar masalahnya.
Bagi Usopp, Going Merry adalah manifestasi dirinya. Sesuatu yang dianggap “rusak” tapi tetap ingin dipertahankan.
“Kalau Merry yang rusak saja dibuang… apakah suatu saat aku juga akan dibuang?” Itu mungkin pertanyaan yang menghantui Usopp
Saya pun melihat konflik ini dari trauma Usopp di masa kecil. Saat ibunya tengah berjuang melawan sakit, tidak ada yang menemani kecuali anaknya, Usopp.
Begitu pun kondisi Merry yang terlihat “sakit” dan ditinggalkan begitu saja, sendirian. Usopp tak ingin itu terjadi, untuk kedua kalinya. Terlebih Going Merry adalah pemberian Kaya, perempuan yang berarti bagi hidup Usopp.
Trauma ini juga mungkin yang membentuk inferiority complex ketika melihat nakama lainnya yang punya peran penting. Usopp menganggap dirinya sering kalah, sering takut, dan merasa paling lemah.
Keputusan menggantikan Going Merry seolah membuktikan mereka yang lemah akan tertinggal dan ditinggalkan.
Di sisi lain… Luffy bukannya tidak punya ikatan emosional dengan Going Merry. Akan tetapi, ia adalah seorang Kapten yang juga memikirkan keselamatan nakamanya.
Mempertahankan Going Merry artinya membahayakan nakama dalam mengarungi lautan Grand Line yang ganas. Mempertahankan Going Merry berpotensi memupus mimpinya dan juga nakamanya.
Keputusan rasional Luffy sebagai pemimpin itu bertabrakan dengan luka emosional Usopp. Di titik ini, Usopp tahu akan kalah, tapi dia memilih bertarung.
Persis seperti budaya siri, Usopp bertarung untuk menunjukkan harga dirinya: dia tidak ingin pergi sebagai “yang dibuang”, tetapi sebagai orang yang memilih dan memutuskan untuk pergi.
Di titik ini, Usopp sejatinya tengah melawan dirinya sendiri. Luffy memang menang secara fisik, tapi Usopp berhasil mengalahkan dirinya sendiri dan mempertahankan martabatnya.
Terbukti di Enies Lobby Arc, Usopp sebagai Soge King menunjukkan peran dan eksitensinya yang berharga. Inferior Complex-nya mulai terkikis saat bisa menembak jarak jauh di tengah angin kencang. Tembakan yang juga membebaskan Nico Robin dari borgol yang melemahkannya.
Selain itu, Luffy pun menunjukkan sisi emosional bahwa jauh di dalam dirinya, Going Merry adalah nakama yang ingin dipertahankan. Usai berhasl kabur dari Enies Lobby, Luffy benar-benar berharap Going Merry yang terbelah dua itu bisa diselamatkan.
Pada akhirnya, Merry pergi bukan karena gagal atau rusak, tetapi karena ia telah menunaikan seluruh perjalanannya dengan utuh.
Dan mungkin, dalam hidup kita sendiri, ada hal-hal yang juga seperti itu. Ada hal-hal yang datang bukan untuk selamanya. Mereka datang untuk mengajarkan kita arti bertahan dan makna mengikhlaskan.
Kata gw semua salah Hokage 3, bukan Itachi.
Bayangin bocil sekecil itu dikasih misi untuk ngebunuh kedua orang tua dan seluruh klannya sendiri, sebenernya karena si Hokage 3 ga bisa bangun social cohesion dengan klan Uchiha.
Akhirnya, Itachi harus channeling emosi Sasuke biar bencinya ke dia aja, bukan ke Hokage 3. Lalu Sasuke jadi keluar dari desa, latihan sama Orochimaru buat bisa ngebunuh Itachi, terus mereka gelut, Itachi mati, Sasuke jadi dark. Sementara Shippuden series jadi berubah arah ke Naruto nguber2 si Sasuke, sampe akhir perang dunia.
Bayangin kalau dari awal Hokage 3 gak bego.
Makannya jujur gw ga ada sedih2nya sama tu kakek tua bangka mokad dihajar muridnya sendiri.
Harusnya Hokage 3 bukan Hiruzen. Tapi Itachi.
Dulu pertama kali mengenal Raditya Dika sebagai “anak blog” yang tulisannya absurd, jujur, dan terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita tentang cinta yang gagal, teman yang nyebelin, sampai kejadian receh yang justru jadi lucu karena ditulis dengan gaya Deadpan yang jadi ciri khasnya.
Buku-bukunya seperti Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, sampai Marmut Merah Jambu bukan cuma laris tapi jadi identitas generasi. Raditya Dika saat itu seperti teman yang duduk di sebelah kita, bercerita tanpa berusaha terlihat pintar, tapi justru terasa cerdas karena kejujurannya.
Raditya Dika sekarang berbeda.
Bukan lagi sekadar penulis cerita konyol, tapi kreator yang lebih matang. Podcast tentang hubungan, konten observasi kehidupan, bahkan pembahasan yang lebih reflektif dan filosofis. Humor masih ada, tapi lebih halus dan smart banget. Tidak lagi meledak-ledak, tapi lebih dalam dan improvisasi.
Yang menarik, Raditya Dika sekarang juga banyak dilihat sebagai role model. Bukan karena hidupnya glamor, tapi justru karena terlihat sederhana. Hidup tenang, keluarga kecil, pilihan hidup yang realistis dan cara dia bicara tentang uang, karier, serta kehidupan terasa semakin relevan.
Ia tidak lagi sekadar membuat orang tertawa, tapi juga memberi perspektif. Tentang pentingnya mengatur keuangan, membangun karier jangka panjang, dan menjalani hidup tanpa harus terlihat sibuk mengejar validasi.
Dulu Raditya Dika membuat kita tertawa karena “hidupnya berantakan”. Sekarang Raditya Dika membuat kita tersenyum karena “hidupnya mulai tertata”.
Mungkin itu bukan cuma perubahan Raditya Dika. Tapi juga perubahan kita yang tumbuh bersamanya. Dulu kita tertawa karena patah hati pertama. Sekarang kita tertawa karena tahu hidup memang seperti itu.
Raditya Dika dulu terasa seperti teman sebangku. Raditya Dika sekarang terasa seperti teman lama yang sudah banyak belajar.
Letak menariknya kita tidak kehilangan Raditya Dika yang lama. Kita hanya melihat versi yang lebih dewasa.
Menurut kalian dalam posisi sekarang ini, lebih relate Raditya Dika dulu atau sekarang? Atau justru kamu tumbuh bersama perubahan itu?
Reply di bawah 👇
Formula bisnis yang udah dipake berulang kali dan masih works:
1. Liat apa yang lagi rame di China
2. Bawa ke Jakarta
3. Kalau laku, bawa ke Jogja
4. Kalau laku, bawa ke Surabaya dan Bandung
5. Kalau masih laku, bawa ke kota-kota kecil di Jawa Tengah
6. Kalau masih laku, bawa ke luar Jawa
China itu basically test market terbesar di dunia. 1,4 miliar orang. Kalau sesuatu works di sana, kemungkinan besar works juga di Asia Tenggara.
Tinggal adjust harga dan selera lokal.
Guys Netanyahu baru saja slip of the tongue yang mungkin paling jujur sepanjang konflik ini.
Dia tidak sengaja ungkap alasan sebenarnya di balik perang Iran.
Dan itu bukan soal nuklir.
Netanyahu bilang rencana sesungguhnya adalah membangun pipa minyak dari Teluk langsung ke pelabuhan-pelabuhan Israel. Memotong sepenuhnya jalur yang dikontrol oleh Arab termasuk Selat Hormuz.
Berhenti sebentar dan pahami apa artinya itu.
Selama ini narasi resminya adalah Iran harus dihentikan karena program nuklir mereka mengancam keamanan kawasan. Itu justifikasi yang dijual ke publik Amerika. Ke Kongres. Ke sekutu NATO. Ke seluruh dunia.
Tapi Netanyahu sendiri yang bocorkan bahwa ini soal kontrol jalur energi.
Pipa minyak langsung ke pelabuhan Israel itu artinya Israel tidak perlu lagi bergantung pada jalur maritim yang dikontrol negara-negara Arab. Artinya Israel punya akses independen ke sumber energi Teluk. Dan artinya siapapun yang ingin akses ke minyak Teluk harus berurusan dengan Israel sebagai titik transit.
Itu bukan keamanan nasional. Itu dominasi geopolitik atas sumber energi paling strategis di planet ini.
Dan konteks ini menjelaskan banyak hal yang selama ini terasa tidak konsisten.
Kenapa Israel menyerang South Pars ladang gas terbesar di dunia tanpa koordinasi Amerika. Kenapa fasilitas-fasilitas energi terus jadi target utama. Kenapa Hormuz menjadi pusat dari seluruh konflik ini.
Ini bukan perang untuk menghancurkan nuklir Iran.
Ini perang untuk mengubah siapa yang mengontrol aliran energi dari Teluk ke seluruh dunia.
Dan yang menanggung biayanya Qatar yang LNG-nya rusak diserang. Saudi yang kilangnya diancam. Rakyat Iran yang hidup dalam hujan hitam beracun setelah depot minyaknya dibom. Petani India yang tidak bisa dapat pupuk karena Hormuz tutup. Rakyat Indonesia yang harga BBM-nya akan naik karena semua ini.
Semua menanggung biaya dari satu rencana yang baru saja tidak sengaja diakui oleh orang yang merancangnya sendiri.
Gw punya banyak kenalan orang tua, paman, tetangga yang kalau diajak diskusi soal investasi digital langsung geleng kepala.
Reksadana? Tidak percaya.
Obligasi online? Tidak percaya.
Nabung di bank digital? Jangan-jangan besok kabur.
Tapi properti? Langsung percaya.
Emas? Percaya.
Bukan karena mereka bodoh.
Tapi karena mereka butuh sesuatu yang bisa dipegang.
Secara harfiah.
Tanah bisa diinjak.
Emas bisa digenggam.
Kos-kosan bisa dilihat ada orangnya atau tidak.
Instrumen digital sebagus apapun fundamentalnya buat mereka tetap terasa seperti uang yang ada di udara.
Dan ini yang bikin edukasi investasi di Indonesia itu susah.
Bukan karena kurang konten.
YouTube penuh.
TikTok penuh. T
api konten tidak bisa menggantikan pengalaman langsung yang membentuk kepercayaan.
Generasi yang pernah kena tipu arisan berantai.
Yang pernah lihat bank bangkrut.
Yang pernah lihat orang kaya tiba-tiba jatuh miskin karena investasi yang tidak kelihatan wujudnya mereka tidak akan percaya hanya karena ada grafik yang bagus di layar.
Jadi Raditya Dika benar soal yield.
Secara angka memang begitu.
Tapi investasi terbaik tetap yang bisa lu tidur nyenyak karenanya.
Dan buat sebagian orang tidur nyenyak itu harganya ya kos-kosan di pinggir kampus.