Memiliki masa depan cerah adalah impian semua orang, begitu juga dengan Saung Galing. Namun, keterbatasan itu yang menghalangi jalan menuju impian tersebut.
Meski butuh 10 tahun dan masih terus diusahakan, ia percaya ketulusannya dapat membantu anak-anak di Bantargebang. Karena itu, Saung Galing membutuhkan kita.
Sementara kami dan teman-teman datang, melihat, terisnpirasi dan tergerak oleh mereka semua.
Saung Galing dan teman-temannya membutuhkan dana Rp150 juta untuk menyelesaikan pembangunan pesantren, membuat dapur tempat para santri memasak dan makan, membuat pagar di lantai dua, serta membeli matras dan lemari untuk santri.
Willi dan teman-temannya di Komunitas NTT bukan Muslim, tetapi penuh ketulusan mereka membantu Saung mendirikan pesantren dan membuat Nurjadid terus berdiri dan beroperasi.
Selama beberapa tahun terakhir, Willi dan teman-teman komunitasnya, Komunitas Nusa Terindah Toleransi, sudah membantu Saung dan pesantrennya dengan mengajar dan meringankan beban mereka di sana.
Peran Willi ini membuat kita lebih malu lagi—tetapi sekaligus kagum.
Meski hanya sebagai buruh bangunan, dengan impian dan tekadnya, ia sudah mendirikan sebuah pesantren yang didedikasikan untuk anak-anak yatim dan terlantar di Bantargebang.