— Maryam tak memiliki pasangan
— Aisyah tak memiliki keturunan
— Khadijah mendapatkan jodoh terbaiknya diumur 40 tahun
— Fatimah diuji kesempitan
— Asiyah bersuamikan Firaun
dan ternyata wanita terbaik sepanjang masa itu adalah seorang wanita dengan takdir yang nampaknya tidak sempurna dimata semua manusia
@jambu67133080@fatkur_munir@kenhans03 Gw bilang pejabat negara, kebijakan fiskal juga pasti berpengaruh, tapi pejabat keseluruhan di Indo masih lemah dibanding negara tetangga, malay bisa kuat kyak sekarang salah satunya kebijakan moneter, jadi jangan melulu salahin AS, pejabat sendiri diurusin dulu
@fatkur_munir@kenhans03 Liat negara asean lain, singapura malaysia thai sama filipina kondisinya stabil, malah malay lagi bagus*nya, karena kebijakan moneternya lebih ketat, itu gunanya pejabat negara kalo kerja bener, gak terpengaruh AS, hobinya bego*in orang tanpa riset dulu
@lemak_idup@neuvablanco Kalo red card boleh kestadion tapi gak boleh dipinggir lapangan ngistruksiin pemain kyak biasanya, cuma di bangku penonton. udah disediain kursi buat dia sama stafnya di stadion sama manajemen madrid tapi dia milih nonton dibus. Gimana si lu komen
@ucuprasional @SeorangOm@idextratime Selebrasi joget gitu, griezmann juga joget, tapi gak pernah dibilang tengil, giliran yg kulit item dibilang tengil, tanpa sadar kau udah rasis
Soalnya gue telat 7 tahun, baru sadar sekarang ternyata tiap bapak gue malem malem duduk di depan teras, pikiran kosong, tuh penyebabnya karena, jadi cowo emang seberat itu.
Gue telat 7 tahun belain dia waktu dizolimin keluarganya.
Telat 7 tahun buat ngasih kado, apalagi bunga. Sekarang bunga yang gue kasih harus tinggal petals gini.
Sedih banget.
Makanya gue gamau cowo cowo, calon bapak, di sia sia sama gender gue sendiri, cuma karena mereka gabisa kaya cowo fiksi novel dark romance.
Begini kalau Masjid Meluk jamaahnya
Masjid hadir senantiasa memberikan kemakmuran dan pemberdayaan bagi orang-orang di sekitarnya.
Terus mencerahkan untuk masjid Muhammadiyah
🕌 Masjid Jami' 17 Purwokerto
Masjid Nabawi dan Muhammadiyah: Tarawih Kembali ke Praktik Nabi Saw
Kabar tentang pelaksanaan salat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi pada Ramadan 1447 H/2026 M menarik perhatian banyak kalangan. Otoritas Dua Masjid Suci mengonfirmasi bahwa Tarawih akan dilaksanakan dengan 10 rakaat ditambah dengan 3 rakaat witir.
Karenanya jumlah salat Tarawih di Dua Masjid Suci umat Islam itu pada tahun 2026/1447 berjumlah 13 rakaat. Barangkali 13 rakaat itu terdiri dari 2 rakaat iftitah, 8 rakaat qiyam Ramadan, dan 3 rakaat witir.
Bagi sebagian umat Islam, kebijakan ini terasa baru. Namun jika ditarik ke belakang, justru sebaliknya: inilah praktik yang paling dekat dengan apa yang dilakukan Rasulullah saw. Hadis sahih dari ‘Aisyah ra dengan tegas menyebutkan bahwa Nabi saw tidak pernah menambah salat malamnya lebih dari 11 rakaat.
مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً (رواه البخاري ومسلم)
“Rasulullah saw tidak pernah menambah salat malamnya, baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya, lebih dari 11 rakaat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Inilah dasar utama qiyam Ramadan Nabi, yang kemudian dikenal sebagai salat Tarawih.
Pada masa Rasulullah saw, Tarawih tidak selalu dilakukan berjamaah setiap malam. Beberapa kali beliau keluar dan mengimami para sahabat di masjid, lalu berhenti karena khawatir ibadah itu akan dianggap wajib. Namun jumlah rakaat salat malam beliau tetap konsisten. Inilah praktik yang kemudian menjadi rujukan paling kuat dalam memahami Tarawih.
Tradisi ini tidak serta-merta berubah setelah wafatnya Nabi saw. Ketika Umar bin Khattab ra menertibkan pelaksanaan Tarawih berjamaah di Masjid Nabawi sekitar tahun 14 H/635 M, ia memerintahkan agar Tarawih dilaksanakan secara teratur. Tidak ada riwayat sahih yang menunjukkan bahwa Umar secara resmi mengubah jumlah rakaat Tarawih dari praktik Nabi.
Begitu pula pada masa ‘Utsman dan ‘Ali ra, tidak ditemukan keterangan kuat tentang perubahan jumlah rakaat Tarawih di Masjid Nabawi. Dengan demikian, sangat mungkin bahwa selama masa Khulafa Rasyidin, Tarawih di Masjid Nabawi tetap dilaksanakan dengan 11 rakaat.
Perubahan jumlah rakaat justru terjadi pada periode-periode berikutnya, seiring perubahan kebijakan dan kondisi sosial-politik. Pada masa Mu‘awiyah, jumlah rakaat Tarawih di Masjid Nabawi bertambah. Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, Tarawih pernah dilaksanakan dengan jumlah yang sangat banyak. Bahkan mencapai 36 rakaat sebelum witir. Lalu berubah lagi menjadi 20 rakaat, dan kemudian distandarkan dalam format tertentu pada masa kekuasaan Saudi sejak 1926 hingga hari ini.
Dalam konteks inilah praktik Muhammadiyah menemukan relevansinya. Sejak awal, Muhammadiyah memilih melaksanakan Tarawih dengan 11 rakaat berdasarkan hadis sahih ‘Aisyah dan prinsip kembali kepada Sunnah Nabi saw.
Pilihan ini bukan untuk menegasikan praktik lain, melainkan sebagai ikhtiar menjaga kedekatan dengan contoh Rasulullah.
Karena itu, ketika hari ini Masjid Nabawi dan Masjidil Haram melaksanakan Tarawih dengan format 13 rakaat, bagi warga Muhammadiyah, kabar ini terasa akrab. Ada benang merah yang kuat antara apa yang kini dilakukan di Dua Masjid Suci itu dan apa yang selama ini dipraktikkan di banyak masjid Muhammadiyah.
Sumber: https://t.co/aIztingZNr
#Muhammadiyah
Yang paling ngena dari podcast mereka adalah:
1. Kerja keras dg rezeki ga selalu berkaitan
2. Klo berkaitan, yg paling kerja keras harusnya paling sejahtera dong?
3. Rezeki itu pemberian Allah. Tugas kita hanya berusaha, perkara Allah ngasih/gak, di luar kontrol kita
4. Kita bekerja utk bersyukur terhadap kemampuan kita (menggunakan potensi yg dikasih Allah utk kita)
Lama kali aku merenung maksud empat poin tsb sampai akhirnya aku jd terpuaskan.
Selama ini kita stres krn merasa udah bekerja keras segitunya, tp tetep aja gagal. Tetep aja belum sukses, tetep aja kecewa.
Jangan2 selama ini krn berekspektasi klo udh berusaha sekeras mungkin, hasilnya pasti indah. Padahal belum tentu.
Klo Allah belum mau ngasih, atau emg belum waktunya, kita bisa apa?
Kerjakan apa yg ada di genggaman saat ini, serahkan hasilnya pada Allah, apa pun hasilnya yakini itu takdir baik dari-Nya utk kita.
Memahami ini bikin aku jd jauh lebih tentram & tenang.
🗣️ Javier Hernandez: "So, as a woman, you’re looking for a male provider, yet consider house cleaning to be patriarchal oppression? Interesting!"
"Women are failing, they are eradicating masculinity, making society hypersensitive."
"Embody your feminine energy, caring, nurturing, receiving, multiplying, cleaning, sustaining the home which is the most precious place for the men."
"Don't be afraid to be a woman, to allow yourselves to be led by a man who wants nothing more than to see you happy."
"We as men are failing in our lack of commitment. They are trying to eradicate masculinity because in certain cases in the past the feminine energy was suppressed but many of us are here wanting to love them, care for them, respect them and provide for them."
"But you women have to learn how to receive and honour masculinity. Let us accept the truth and change enough to create the humanity we have always sought."