Menolak narasi/pemikiran LGBT itu TIDAK SAMA dengan menindas/mempersekusi LGBT.
Dokter Tirta ini masih yang pertama. Lu kalo campurin keduanya, bakal repot. Logika lu jadi berantakan.
Sama dengan halnya menolak penormalan merokok itu tidak sama dengan menindas/persekusi para perokok.
Menolak narasi LGBT itu BOLEH dan menjadi hak warga negara.
Mempersekusi LGBT itu baru TIDAK BOLEH karena ada unsur pidana dan membawa bahaya bagi keselamatan orang.
Nah, kaum lu suka nyampur-nyampurin keduanya. Ditentang narasinya dengan "stay normal" langsung ke-trigger, langsung cancel, langsung nge-block. Langsung ngerasa itu serangan ke identitas, jati diri, sehingga menolak narasi LGBT = menolak orangnya juga, alhasil dianggap jadi bagian dari diskriminasi. Padahal di kehidupan sosial masyarakat ga sesederhana itu realitanya!
Kalo ngaku progresif, harusnya budayakan dialog, bangun argumen yang kuat. Kebiasaan buruk penganut ideologi LGBT ini terlalu kuat budaya nge-block/dni nya pada orang yg sekadar berbeda pandangan, sehingga yg muncul kebenciannya aja, bukan dialog.
🚨🗣️ Jose Mourinho: "Lots of people on TV, but no one is a Chelsea man. We don't have one”
“When I retire, I am going to be a pundit to defend Chelsea on television."
How many ✡️ died in the Holocaust?
Myron Gaines debates on jew on the 6,000,000 figure.
The 6,000,000 figure was achieved by the torture of Rudolph Höss (commandant to Auschwitz) by the British. Confirmed in the book “Legions of death” by Rupert Butler.
Follow @forbiddenmerch
Cewe standar ganda kaya gini emang nyebelin.
Giliran dia digituin cowo dia marah, tapi dia enteng juga mulutnya ngelecehin cowo.
Alibinya selalu sama, ini kan jokes, jangan terlalu serius, hidup lo monoton banget.
Gaslighting Queen 😏