On this day:
Alhamdulillah, 1 tahun yang lalu resmi lulus dari Universitas Islam Indonesia. Terima kasih @UIIYogyakarta, telah menerima saya untuk menimba ilmu di kampus yang istimewa ini dan juga ilmu yang diberikan. 🫶🥹🥰✨️
Yogyakarta, 18 Januari 2024
Kimi Antonelli extends his lead to 66 points, and Lewis Hamilton moves into P2! 📈👀
Here's how the Drivers' Standings look after the Monaco Grand Prix 👇
#F1#MonacoGP
nemu tulisan cantik di ig, kira kira kaya gini isinya :
jangan taruh semua cinta di satu orang, satu mimpi atau satu tempat aja. coba kasih sebagian ke teman yg selalu ada, ke makanan yang bikin mood bagus, ke hobi yang bikin lupa waktu, ke lagu yang lagi kamu suka, atau mungkin ke hal hal yg bikin kamu tetap jalan hari ini. dan yang paling penting sisain juga cinta untuk diri sendiri. karna hidup itu rapuh kalau bahagianya cuma bergantung ke satu hal aja. karna cinta ga diciptakan buat dikurung tapi disebarin, biar kalau satu runtuh, kamu ga ikutan hancur.
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L