Doctors: We’re serving humanity.
People: It’s your profession, you chose it and you get paid.
Doctors: Okay, pay me then.
People: Medicine isn’t a profession, it’s humanity service.
Nakes tuh gak mau nelantarin pasien BPJS, cuma bingung aja, ini pasien demam 2 hari ke IGD, udah diperiksa non emergensi dan bisa rajal, pasien pengin ranap pake BPJS, sementara rawat atas permintaan sendiri kan gak bisa diklaim. Dijelasin gak bisa klaim eh ngamok...
negara gila macem apa yg masyarakatnya putting hate on nakes (dokter, perawat, etc) padahal titik awal permasalahannya di pemerintahan yang mengatur semuanya dari atas
(tanpa membenarkan pihak yang menghina pasien itu)
Kuliah 6-7 tahun, loh. Belum lagi proses UKMPPDnya, lanjut lagi internshipnya
Dibilang ga pernah rjp, ga kaya dokter luar negri. Dibilang jualan vaksin, padahal dapat duit dari ngevaksin juga kaga, cuma dapat tambahan inputan data.
Ah, sehat² ya dok. Jangan lupa liburan
-DekanFKIKfess
Dari dulu selalu mengagumi marketing dan promosi mereka yang bisa bikin para fanatik ini menjadikan keseluruhan personality nya berangkat dari kecintaan mereka terhadap idolanya
Yoi. Fans k-pop di Indonesia ini sering melakukan apa yg disebut dlm ekonomi digital sbg unpaid labor alias buruh gratisan.
Mereka berpromosi gratis, menerjemahkan konten, sampai2 mau2nya melakukan pembelaan masif kpd idolanya di media sosial.
Tp dr POV ekonomi industri Korea, fans k-pop Indonesia ini cuma angka2 yg bisa dieksploitasi. Mereka dipandang sbg sekelompok manusia2 yg cuma berguna dlm efisiensi biaya pemasaran.
Nah, ketika suatu massa fans K-Pop Indonesia cuma dianggap sbg angka untuk mendongkrak popularitas, industri kreatif Korea memanfaatkan hasil eksposur fans Indonesia tsb agar bisa menjual artis2nya dgn harga lebih mahal ke pasar Amerika dan Eropa.
Dlm konteks sosiologi-ekonomi, ketika seseorang memberikan tenaga secara cuma2 demi keuntungan pihak lain yang sudah kaya, posisi orang tersebut dalam hierarki ekonomi dianggap golongan yg sangat rendah, mudah dimanfaatkan, mudah diekploitasi, mudah dikibuli.
Tak heran kalau sebagian masyararat Korea dgn enteng menyebut fans k-pop Indonesia-yg sebetulnya telah berkontribusi luar biasa dlm pasar volume negaranya- nggak lebih dari monyet belaka.
Ironis.
Rasa hampa yang menyelimuti setiap langkah di kegelapan. Lorong tanpa ujung dengan dinding basah dan berlendir. Dibalut perasaan sesak dan bau busuk. Ditemani gema suara lirih. Harus berjalan meskipun mati perlahan. Agar jejak ini tidak berhenti sia-sia.