Dibranding dengan stigma 'canggih' dan 'mahal' tidak mampu menjadikan alutsista kebanggaan AS ini menjadi kuat dan anti-tembak.
Di mata IRGC produk General Atomics Aeronautical Systems ini tidak ubahnya rongsokan bermesin yang dapat dengan mudahnya dijadikan serpihan hanya dengan menggunakan MANPADS.
Ditengah himpitan berbagai embargo, Iran sanggup menemukan titik lemah dari alutsista AS. Tak hanya menghancurkan hampir seluruh instalasi vital di kawasan, namun juga meruntuhkan mitos kedigdayaan AS di mata publik internasional.
Seperti yang diketahui selama ini entitas pelaku genosida terhadap suku Indian itu selalu memoles produk alutsistanya dengan mitos sehingga tampak seperti senjata hebat yang tak tertandingi di dunia ini, padahal kualitasnya sangat jauh dari istilah 'canggih' maupun 'layak' untuk dipergunakan sebagai tulang punggung kekuatan militer negara manapun.
Namun semua itu tidak mempan untuk menipu Iran, bagi Iran alutsista AS hanyalah mainan yang digunakan untuk menakut-nakuti negara lain. Berbekal keyakinan tersebut Iran sanggup menemukan titik lemah dari setiap alutsista buatan AS.
Sistem THAAD yang digadang-gadang sebagai pertahanan udara tercanggih di dunia, dengan mudah ditembus oleh rudal dan drone Iran.
Drone MQ-9 Reaper konon dianggap sebagai yang terhebat di kolong langit, namun rontok oleh sistem pertahanan udara Iran.
F-15 EX yang katanya memiliki sederet fitur canggih seperti AN/ALQ-250 maupun AN/ALE-47 ternyata tidak sanggup menahan intersepsi dari rudal anti pesawat milik Iran.
Dan yang paling mencoreng wajah Washington adalah keberhasilan Iran dalam menembak F-35, pesawat andalan AS yang sedang digenjot produksi dan penjualannya.
Sementara itu ada orang aneh yang menganggap bahwa F-16 Block 25 dan block 15 sebagai pesawat tempur canggih dan pantas dijadikan andalan dalam misi menjaga kedaulatan ruang udaranya.
Meskipun secara teknis dianggap lebih baik dari versi F-16 C/D, namun dengan mengandalkan argumen mendang-mending mereka menganggap pesawat tersebut layak untuk dijadikan tulang punggung kekuatan militernya.
Berangkat dari sejarah peristiwa intersepsi yang dilakukan oleh 2 pesawat F-16 milik TNI-AU terhadap pesawat F-18 Hornet milik USAF diatas Pulau Bawean pada tanggal 3 Juli 2003 silam, membuktikan bahwa kualitas alutsista yang dibeli dari AS sangat rentan digunakan dalam pertempuran udara.
Terlebih lagi bila kita mengingat intervensi yang dilakukan berkali-kali oleh AS terhadap urusan dalam neger Indonesia, jelas menggambarkan bahwa AS dan sekutunya merupakan negara yang tidak bisa dipercaya apalagi dianggap sahabat oleh Indonesia.
Jadi sangat tidak relevan rasanya apabila Indonesia hanya menggantungkan pasokan alutsista buatan AS, perlu inovasi dalam hal strategi pengadaan alutsista, dimana kita musti secara bertahap menghilangkan ketergantungan terhadap produk senjata buatan AS.
Berkaca dari peristiwa agresi AS dan zionis pada bulan ramadhan kemarin, dimana negara-negara Teluk secara jor-joran memborong alutsista dari AS, namun alutsista tersebut akhirnya terkuras hanya demi mempertahankan keberadaan pangkalan militer AS, sementara itu seluruh biaya ditanggung oleh negara-negara Arab di kawasan.
Hal semacam itu tentu membuka mata kita semua, bahwa belanja alutsista dari AS justru akan memperlemah kekuatan militer kita.
Sejarah mencatat bahwa beberapa waktu setelah serah terima jet tempur F-16 Block 25, salah satu pesawat tersebut terbakar di landasan pacu Lanud Halim Perdanakusuma.
Jadi sebutan 'barang rongsok' yang disematkan pada F-16 dan alutsista lain buatan AS memang hanya sebuah rongsokan yang hanya boleh dipergunakan dalam parade dan latihan saja, bukan untuk bertempur melawan AS dan sekutunya.
Guys, ada satu ironi yang menurut gue paling menggelikan sekaligus paling mengungkapkan dari seluruh kebijakan Prabowo sejak jadi presiden.
Setiap kali ada ekonom yang mengkritik kebijakan ekonominya langsung dituduh antek asing.
Agen Soros.
Tidak nasionalis.
Mau menghancurkan Indonesia.
Ferry Latuhihin yang prediksinya terbukti tiga kali dituduh antek asing.
Mahfud MD yang mengkoreksi pernyataan soal dolar diserang warganet terorganisir.
Siapapun yang berani bilang ada yang salah langsung dicap tidak cinta Indonesia.
Dan sekarang Prabowo membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia badan baru yang akan menjadi satu-satunya fasilitator ekspor batu bara, CPO, dan ferroalloy mulai 1 Juni 2026.
Ini bukan perusahaan kecil.
Ini akan mengendalikan ekspor komoditas strategis Indonesia sektor yang menghasilkan ratusan miliar dolar devisa setiap tahunnya.
Dan siapa yang ditunjuk jadi Direktur Utama perusahaan sepenting ini?
Luke Thomas Mahony.
Warga negara Australia.
Seluruh karirnya dibangun di perusahaan tambang multinasional asing yang beroperasi di berbagai negara.
Dan sekarang dia ditunjuk untuk memimpin badan yang akan mengendalikan seluruh ekspor sumber daya alam strategis Indonesia.
Dan ini yang paling menggelikan:
Prabowo sering bilang sumber daya alam Indonesia selama ini dikuasai asing.
Under invoicing merugikan negara karena perusahaan asing mencatatkan transaksi di bawah harga riil. Devisa lari ke luar negeri.
Solusinya?
Bentuk badan baru untuk mengontrol semua ekspor itu.
Siapa yang memimpin badan baru itu?
Orang asing.
Mantan direktur perusahaan
tambang multinasional asing.
Yang jaringannya,
yang latar belakangnya,
yang seluruh karir profesionalnya ada di ekosistem tambang internasional yang selama ini disebut Prabowo sebagai bagian dari masalah.
Dan yang mengkritik semua ini dituduh antek asing.
Dan ini yang paling pedas:
Narasi Prabowo selama kampanye dan awal menjabat sangat jelas:
nasionalisasi sumber daya alam.
Hentikan penguasaan asing.
Kembalikan kekayaan negara untuk rakyat.
Tapi implementasinya:
Danantara mengelola aset BUMN tanpa transparansi dengan keponakan presiden di puncak strukturnya.
Ekspor komoditas dimonopoli satu badan baru yang direkturnya warga Australia mantan perusahaan tambang multinasional.
IHSG ambruk 3% hanya dari rumor kebijakan ini. Investor asing kabur.
Kepastian regulasi nol.
Jadi pertanyaannya sangat sederhana:
Siapa sebenarnya yang antek asing yang mengkritik kebijakan ini, atau yang merancang dan menjalankannya?
Dan ini logika yang paling dasar:
Kalau niatnya benar-benar memberikan sumber daya alam Indonesia untuk rakyat Indonesia
mengapa orang pertama yang dipercaya memimpin badan pengelolanya adalah warga negara asing dengan seluruh rekam jejak di perusahaan tambang multinasional?
Bukan karena tidak ada orang Indonesia yang kompeten di bidang ini.
Indonesia punya ahli pertambangan,
ahli keuangan komoditas,
ahli tata kelola ekspor yang sangat kompeten.
Tapi yang dipilih adalah mantan direktur Vale Indonesia perusahaan Brasil yang sebelumnya di BHP Billiton perusahaan Australia.
Kalau itu bukan antek asing gue tidak tahu definisi apa yang lebih tepat.
Setiap kritik dari dalam negeri disebut tidak nasionalis. Setiap ekonom yang memperingatkan disebut agen asing. Setiap media yang meliput sisi gelap kebijakan ini didekati untuk ganti pemred.
Tapi badan yang akan mengendalikan seluruh ekspor sumber daya alam Indonesia dipimpin warga Australia.
Dan tidak ada yang boleh mempertanyakannya. Karena yang mempertanyakan antek asing.
Ini bukan ironi biasa.
Ini adalah cermin yang sangat jelas tentang bagaimana narasi nasionalisme digunakan bukan untuk melindungi rakyat tapi untuk membungkam siapapun yang berani bertanya:
uangnya pergi ke mana dan siapa yang benar-benar diuntungkan.
Iranian Revolutionary Guard:
“If the enemy commits another folly and attacks our country, we will open new fronts against them with new tools and methods.”
General Motor phk ratusan pekerja berdasi….
Nunggu giliran ajah yang lain.
Ingat ya, hidup ga tambah murah.
Dulu sebelum ada traktor, orang bertani pake sapi. Lalu datanglah sales traktor, katanya kalau nyangkul pake traktor, harga berasnya lebih murah untungnya lebih banyak.
Scam kan itu? Emang iya beras tambah murah ga pake manusia?
Sama sekali enggak.
Tapi saya gagal paham yang scam duitnya apa traktornya.