Kau dan segala cerita ini adalah igauan yang tak henti-hentinya minta di beri obat penenang. Punggungmu adalah bukti yang sabaan hari tak kunjung selesai ku daki,hingga aku patah kaki dan kau pura-pura mati,kepalan selembar puisi yang tidak pernah membaca tanda baca di matamu.
kini rumah yang ku tempati kian hari kian rapuh,tempat yang berkepanjangan tidak ada belokan di persimpangan atau jalan kembali untuk pulang,lalu bagaimana untuk mu yang singgah dan untuk ku yang terlampau sungguh, bagaimana jika aku tak kunjung menemukan jalan pulang itu?.