Hampir 3/4 hidup Harry Poeze itu dihabiskan utk meneliti Tan Malaka. Menghasilkan ribuan halaman. Dan Zen juga cuma mengutip penelitian Poeze. Hakok bisa ada yg meragukan Poeze?
Dapat mandat dari blio, suruh sundul lanjutan perdebatan Tan Malaka yang dituduh digaji oleh Belanda saat menjadi guru di Deli.
Melihat podcast Cania Citta-Ferry Irwandi dengan Hasan Nasbi membahas Tan Malaka, saya mendapat kesan Cania dan Ferry kurang memahami sejarah Tan Malaka. Hasan Nasbi di kelas yang berbeda.
@nadhiradwiss Nokohi > kata dasar "Tokoh"
dalam Bahasa Indonesia bentuk bakunya adalah "Menokohi"
prefiks 'men' dan sufiks 'i'
(imbuhan 'men' akan melebur jika mendapat kata dasar yang berawalan huruf K,T,P,S)
jadi kta "Nokohi" adlh bentuk tdk baku yg timbul karena penyederhanaan kata
💚 ini orang kok kalo ngomong kek asbun ya? Kek apa yg terlintas di pikiran langsung diomongin gitu😭
Pas di rusia juga dia ngomong banyak orang indonesia yg bernama Yuri, padahal faktanya jrg bgt orang indo namanya yuri 😭
Gw mau ngomel agak panjang. Monggo dibaca.
Dalam supply-demand, ketika supply naik, harga jadi turun.
Hal yang sama terjadi pada IPK tinggi dan cum laude.
Kalau semua orang cum laude, maka cum laude berhenti jadi istimewa.
Ketika terlalu banyak lulusan berpredikat cum laude, nilai IPK sebagai sinyal kualitas jadi turun "marwah"-nya.
Gw pernah liat wisuda suatu kampus, rektornya dengan bangga mengumumkan rata-rata IPK adalah 3,65.
Peserta sidang wisuda tepuk tangan.
Gw bingung karena implikasinya jadi ada beberapa kemungkinan:
1. >50% mahasiswanya pintar sekali
2. Kurikulumnya super mudah
3. Dosen2nya mengamalkan hadits "Barangsiapa memudahkan urusan orang lain yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat" di dunia perkuliahan alias Dosen Bonus
Fenomena ini ga langka, malah cukup aman disebut "jamak", yaitu: Fenomena "false signalling"
Semua orang tampak unggul di transkrip, tapi memble saat uji kompetensi di dunia nyata.
Sama halnya di level wajib belajar 12 Tahun. Mulai jarang gw dengar cerita anak tidak naik kelas. Tapi justru makin sering terdengar berita anak SMA tidak bisa perkalian dasar.
Balik lagi ke soal IPK.
Kalau terlalu banyak orang cum laude, predikat itu berhenti jadi istimewa. Nilai IPK sebagai sebuah indikator sinyal : disiplin, kualitas kognitif, dan pencapaian akademik, jadi turun nilainya.
Market akhirnya mencari sinyal lain yang relevan: portofolio, sertifikasi, prestasi, pengalaman, atau balik lagi dari mana kampus asalnya.
Gw gatau bagaimana cara mengakhiri omelan ini, masih panjang sebenernya. Dan gw pun enggak tau solusinya mulai dari mana. Tapi gw cuma mau bilang:
"Ketika sistem pendidikan berhenti menjadi juri yang jujur, Market menghukum dengan berhenti percaya"
[Omelan ini terinspirasi setelah baca tulisan Guru Besar UGM Eduardus Tandelilin di bawah ini]
ada artikel serem banget,
"..Ketika Kampus
Menjadi Pabrik..."
ditulis oleh Bondan Kanumoyoso, seorang sejarawan dan dosen dari FIB Universitas Indonesia.
Penulis mengkritik kebijakan pemerintah yang ingin menutup jurusan kuliah tertentu hanya karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini
Universitas adalah tempat untuk mengasah pemikiran dan intelektual, bukan sekadar pabrik yang memproduksi tenaga kerja untuk industri.
Masa depan sulit diprediksi, sehingga jurusan yang dianggap tidak laku sekarang bisa jadi sangat dibutuhkan di masa depan untuk mengatasi masalah sosial dan teknologi. Ilmu seperti sejarah, sastra, dan filsafat tetap sangat penting karena membantu masyarakat tetap kritis, berempati, dan memahami identitas bangsanya.
Kebijakan yang terlalu fokus pada pasar kerja dikhawatirkan akan membuat mahasiswa menjadi pragmatis dan membuat bangsa kehilangan sosok pemikir atau intelektual publik.
Penulis menyarankan agar pemerintah melakukan kolaborasi antarilmu dan memperbarui kurikulum, daripada langsung menghapus atau menutup jurusan tersebut.
Marxisme oleh Njoto, bahan ajar yang disampaikan pada 28 Agustus 1965 ttg ide kiri dalam Takari gagasan Sukarno. Paragraf keduanya menarik sekaligus ironis: Njoto mewanti-wanti entah berapa banyak waktu tersisa. Tepat sebulan kemudian, peristiwa berdarah itu pecah.
Bacalah!
Guru madrasah swasta berdemonstrasi agar diangkat menjadi ASN PPPK, kemudian dicemooh karena yang menggaji guru swasta adalah yayasan, bukan kewajiban negara. Tapi negara bisa mengangkat pegawai SPPG dibawah naungan Yayasan swasta menjadi ASN PPPK.
Persoalannya, anggaran yang digunakan untuk mengangkat pegawai SPPG dibawah Yayasan/ Swasta menjadi PPPK adalah anggaran pendidikan, yang seharusnya bisa digunakan untuk mengangkat guru madrasah swasta menjadi ASN PPPK.
Sejarah kekuasaan kita penuh cerita "orang dipenjara krn pikiran". Yg terbanyak bkn pasal makar, tapi pasal2 lain (mis UU ITE). Itu yg terjadi 8 bulan terakhir. Outputnya sama: penjara. Kekuasaan ga hanya ngehukum tindakan fisik, tapi ide yg masih di awan.
Paradoksnya adalah...
Gawat!
Oligarki-oligarki mitra / yayasan espepege mulai dibentuk serikatnya dan diresmikan oleh pemerintah. Itu artinya ke depan orang-orang seperti hendrik irawan, atau orang-orang bermodal yang menyimpang, akan lebih kuat dan lebih kebal lagi terhadap bentuk kritik apapun.
Jangan heran kalau para relawan atau pegawai di kubangan lumpur (espepege) kerap berperangai sombong, culas, over confindence, dan pongah di platform-platform medsos, sekalipun banyak didapati kelakuan mereka bak setan, itu bisa terjadi karena mereka loyal kepada bos dan uangnya, dan impunitas yang dikantongi bosnya memang berlapis, kuat, mutakhir, dilindungi oleh (tikus-tikus) negara.
Manusia-manusia normal dan bernalar baik yang sekarang berkutat di kubangan lumpur (espepege) karena terhimpit problematika ekonomi, kalian gak mau berserikat dan berbadan hukum juga? Gak berani, ya?