Sepanjang hidup, kita mengejar banyak gelar, pendidikan dan keahlian. Tapi, ada dua ‘ujian’ hidup yang paling banyak variabelnya, paling menentukan masa depan, namun tidak ada kurikulum baku-nya.
Apakah itu?
Simak selengkapnya di artikel berikut ini
https://t.co/IebvQmz7VV
Lo harus paham, sebaik apa pun diri lo, itu gak otomatis bikin lo jadi pilihan utama mereka.
Kadang orang milih lo karena lo nyaman diajak jalanin semuanya, karena lo selalu ada pas mereka butuh, atau karena lo jadi opsi yang aman. Bukan karena lo emang orang yang paling mereka pengenin.
Dan suatu hari nanti, lo bakal sadar kalau lo bukan prioritas mereka. Lo cuma pilihan cadangan saat pilihan lain gak ada.
Bagian yang paling nyesek? Saat lo sadar kalau jadi orang baik gak selalu bikin lo yang dipilih.
Kadang, orang cuma menghargai keberadaan lo. Itu aja.
Bnr banget. Ada kepuasan tersendiri punya pasangan yang bisa menjadi ruang aman untuk bertanya tanpa takut dihakimi. Menghargai cara dia memperlakukan pikiran kita jauh lebih berkesan. Setiap kali dia mulai menjelaskan sesuatu dengan sabar, rasanya seperti jatuh cinta dengan versi baru terus-menerus. Daya tarik intelektual yang sesungguhnya. ✨
Maksudnya konsisten tuh gimana dulu? Masak cowok harus maju terus, sementara ceweknya pasif banget?
yang namanya PDKT kan idealnya komunikasi dua arah, bukan monolog. Kebayang capeknya kalau cuma satu pihak yang selalu muter otak nyari topik, nge-chat duluan, dan ngajak jalan? Lama-lama energinya habis juga.
Makanya, kalau kamu emang tertarik dan pengen cowoknya tetep konsisten, kamu juga harus sama-sama kasih feedback dan aksi nyata pas PDKT. Jangan cuma nunggu dipancing baru nyamber, tapi coba inisiatif nanya duluan atau nunjukkin kalau kamu antusias tiap ngobrol sama dia.
Ingat, cowok bakal makin semangat berjuang kalau mereka tahu usaha mereka disambut dengan baik.
menjadi “gelas kosong” di setiap lingkungan baru itu bener2 penting bgt. jangan sombong. jangan sok. jangan merasa “si paling”. kita gapernah tau kehidupan lawan bicara kita di luar sana seperti apa. we never know 😃
RED FLAG JENIS BARU 🚩🚩
“Pacar gue dulu pernah nonton porn sebelum kenal sama gue, tapi udah berhenti 2-3 tahun sebelum kita pacaran. Haruskah gue putusin?"
Lho... kata kuncinya kan udah berhenti.
Kadang kita suka lupa bedain antara siapa seseorang dulu dan siapa dia sekarang. Kalau setiap masa lalu dijadiin alat buat menebak masa depan, ya nggak ada orang yang bisa lulus dari sidang hubungan.
Mantan perokok pernah merokok.
Mantan pemalas pernah malas.
Orang yang sekarang rajin nge-gym juga dulu mungkin olahraga cuma pas rebutan diskonan.
Yang perlu dilihat bukan "dia pernah ngapain?", tapi "dia sekarang seperti apa?".
Kalau dia masih melakukan, masih bohong, atau masih menyembunyikan sesuatu, itu cerita lain.
Tapi kalau dia udah berhenti bertahun-tahun sebelum kalian bahkan kenal, terus masih dijadiin masalah sampai mau putus... yang perlu dievaluasi mungkin bukan masa lalunya dia, tapi cara kamu memandang orang.
Karena hubungan yang sehat dibangun dari penilaian terhadap karakter saat ini, bukan investigasi forensik terhadap dosa-dosa era lampau.
Jangan sampai kamu kehilangan pasangan yang baik hari ini gara-gara marah sama versi dirinya yang bahkan sudah tidak ada lagi.
Dan jujur aja, kalau masa lalu seseorang selalu kamu proyeksikan jadi masa depannya, itu red flag juga, kak.
Menurut kalian, seberapa jauh sih masa lalu pasangan boleh dijadiin pertimbangan dalam hubungan?