Sebagai orang yang pro-aborsi, gue tau kalo sebenernya di banyak kota-kota di Indonesia ada komunitas yang bisa bantuin perempuan yang hamil tidak direncanakan (baca: aborsi). Komunitas ini akan ngedampingin, ngejagain kesehatan fisik maupun mental, dan mastiin perempuan tsb dapet dukungan yang dibutuhin. Tapi komunitas-komunitas ini nggak bisa go public, jadi susah diakses karena cuman ytta, karena liat aja respon orang-orang masih begini.
Gue nggak minta kalian berubah jadi pro-aborsi. Silakan kalo mau lanjutin stigma dan penghakiman kalian, wahai pemegang kunci surga. Silakan kalo mau terus salahin perempuan-perempuan tsb tanpa kasih mereka solusi; nyatanya setiap hari akan tetap ada yang hamil di luar nikah/tidak direncanakan, terlepas dari setuju atau enggaknya kalian terhadap aborsi.
Btw aksi kalian hanya menyebabkan perempuan-perempuan ini jadi takut dan berakhir mencari jalan yang nggak aman, atau bayi yang dilahirin akhirnya terpaksa ditelantarin/dib*nuh. Dan masih banyak juga resiko lainnya kedepannya kayak dipaksa menikah dll yang ujung-ujungnya malah bikin semua pihak jadi sengsara, dst, nggak bisa gue jabarin satu-satu. So keep going, karena it shows you guys don't actually care (and it's not my responsibility to make you care). And while you're at it, don't forget to blame the men too. Karena kehamilan tidak direncanakan nggak pernah terjadi oleh satu orang.
“Biraz zamana ihtiyacım var.”
O an anladım.
Başkalarına “bekleme” diyen kız, aylarca beklemişti. “Gururunu ezdirme” diyen kız, defalarca geri dönmüştü. “Unut gitsin” diyen kız, geceleri hâlâ aynı profili kontrol ediyordu.
Sessizce kahvesinden bir yudum aldı ve gülümsedi.
“Komik değil mi?” dedi. “İnsan başkasının yarasını çok net görebiliyor da, kendi kanarken kör oluyor.”
O gün şunu fark ettim: Bazı insanlar tavsiyeyi kitaplardan öğrenmiyor. Yaşaya yaşaya öğreniyor. Bu yüzden söyledikleri şeyler kulağa bu kadar gerçek geliyor.