Sedang melihat apa? Perempuan yang melampaui batas norma seksual, perempuan yang memiliki otoritas? Mengapa begitu mengkhawatirkan kelompok gender tertentu secara berlebih hingga membatasinya atas segala bentuk pengekspresian diri? Malam ini, biar tubuhku selaiaknya kanvas.
Banyak nama tersemat atas perempuan mulai dari era kebuasan hingga berakhirnya matriarki, “Perempuan adalah penyihir, penenun dan pemintal takdir umat manusia, sang penderma. Perempuan adalah Ibu yang memerintah sistem matrilinear,” kini, biar peradaban kembali pada sang Ibu.
Ideologi kenjantanan dan patriarki telah mengkonstruksi seolah perempuan adalah entitas second sex yang lemah, fisik maupun daya akal. Tetapi sejarah adalah bukti paling nyata, dahulu—sebagaimana peradaban lahir dari perempuan, peradaban pun dipikul pada punggung perempuan.
Dulunya totem dan tabu ada untuk menciptakan ruang kolektif yang aman bagi perempuan di ranah sosial. Tetapi seiring berkembangnya peradaban, mengapa jalan-jalan besar rasanya lebih sesak dari sepetak ruang tidur? Tempat di mana perempuan tidak perlu merasa “diobjektifikasi.”
Seharusnya, kita punya kebebasan untuk melampaui batas norma seksual. Seharusnya, kita selalu punya hak atas ketubuhan kita sendiri. Mengapa kita seolah dijauhkan dengan hal yang paling dekat dengan kita? Oleh norma hingga dogma, mengapa tubuh perempuan ditumpangi stigma?
Hidup adalah kontradiksi; pertukaran yang konstan dan tindakan penyeimbang antara prinsip-prinsip yang berlawanan. Tidak akan ada yang tertinggi tanpa adanya yang terendah, cahaya tidak dapat didefenisikan demikian tanpa konsep warna yang berbeda.
🔗 https://t.co/sjltG7bFtG