"JANGAN ANGGAP DEMOKRASI ITU"TAKEN FOR GRANTED"โ ๏ธ
โAnalogi @aniesbaswedan tentang oksigen ini ngena banget. Generasi yang lahir di era demokrasi seringkali kurang sensitif saat ada penurunan kualitas demokrasi. Padahal, menjaga demokrasi adalah menjaga masa depan kita sendiri.
Ternyata banyak juga ya yang ngebunyiin klakson di Bundaran UGM ๐คฃ๐ค
Poster "Bunyikan Klakson Kalau Capek Jadi WNI" langsung direspon rame.
Tanda rakyat lagi capek berat Wok...
Menjadi orang dekat Presiden itu memang ada etikanya , menjadi pejabat publik juga ada etikanya, semua melalui pendidikan etika dan moral yang harus dilalui Sebelum menjadi pejabat publik.
Jadi jangan heran kalau pejabat karbitan sekarang nyaris tak punya etika.
Fix ya.. ini segala akar dari permasalahan bangsa. Partai-partai ikut bermain dalam tender proyek pemerintah !!
Akhirnya banyak pejabat dan aparat yg kecemplung masalah hukum karna bermain di proyek tersebut. Namun tidak bisa menyentuh aktor utamanya.
Sedangkan mereka yg ada di lingkar kekuasaan akan lebih dominan memonopoli tender termasuk memainkan hukum
Momen ketika tokoh besar Indonesia alumni UGM (ASLI) seperti Anies Baswedan, Cak Imin, Airlangga Hartanto, hingga Sri Sultan Hamengkubuwono X bersilaturahmi di kampus tercinta.
Kayak ada yang kurang.. ๐ค
KILAS BALIK DEBAT CAPRES 2024
"Tidak berada dalam kekuasaan membuat (Prabowo) tidak bisa berbisnis,"
Sedari sini harusnya sudah jadi clue besar. It's okayy, keep yappp semua yg udaa sadar. Untuk yang belum sadar, semoga disadarkan ๐น๐น๐น
DISCLAIMER: Etmint golput di Pemilu kemaren ๐คโ๏ธ
Tiga sosok visioner yang menyatukan kecerdasan, pengalaman, dan dedikasi untuk Indonesia yang lebih baik.
Tom Lembong dengan ketajaman ekonomi dan kepemimpinan bisnisnya, Anies Baswedan dengan gagasan perubahan yang inklusif dan berkeadilan, serta
Dino Patti Djalal dengan keahlian diplomasi dan wawasan globalnya bersatu dalam semangat membangun masa depan bangsa yang lebih maju, berintegritas, dan berdaya saing.
Tidak banyak yg tahu fakta ini... Berapa lama Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, menjabat sebagai Menteri Pendidikan (saat itu Menteri Pengadjaran)?
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke ๐ฎ๐ฉ, apalagi Dubes ๐ฎ๐ฉ di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Seskab Teddy Indra Wijaya .
Letkol Kopassus, mantan ajudan Prabowo, nol pengalaman diplomasi ,
merespons Dino Patti Djalal dengan sindiran: "diplomat hebat, walau cuma 3 bulan jadi Wamenlu."
Oke, Pak Letkol. Kita bedah satu-satu.
Soal biaya: Lo bilang kelebihan biaya ditanggung "pribadi Presiden." Tapi pesawat kepresidenan, pengamanan TNI-Polri, hotel protokol, tim advance, logistik 50-60 orang , itu semua tetap APBN.
Yang "pribadi" cuma excess-nya.
Dan Prabowo sendiri yang tanda tangan Inpres No. 1/2025 yang perintahkan seluruh K/L pangkas perjalanan dinas 50%.
Guru nyuruh murid hemat, gurunya keliling dunia.
Soal rombongan: Lo bangga rombongan turun dari 120 jadi 50-60 orang.
Dino tidak pernah bicara soal ukuran rombongan. Dia bicara soal frekuensi , 1 dari 6 hari Presiden ada di luar negeri.
Lo jawab pertanyaan yang tidak ditanyakan.
Soal investasi Rp 2.430 triliun: Ini total realisasi investasi PMDN + PMA tahunan , tren jangka panjang yang sudah berjalan sebelum Prabowo menjabat, dipengaruhi hilirisasi, regulasi, dan iklim global.
Lo tidak bisa buktikan berapa dari angka itu kausal dari kunker.
Berdiri di bawah hujan lalu ngaku bisa mendatangkan air.
Soal sindiran "3 bulan":
Dino punya PhD dari London School of Economics, 26 tahun karier diplomatik, 3 tahun Dubes untuk Amerika Serikat.
Yang nyindir dia adalah seorang Letkol yang jabatan Seskab-nya lahir dari loyalitas, bukan keahlian tata negara.
Di negara yang sehat, Seskab dijabat teknokrat.
Di sini, dijabat ajudan yang merangkak naik karena setia , lalu nyindir diplomat doktoral soal pengalaman.
"Speak truth to power," kata Dino.
Yang menjawab justru orang yang hidupnya melayani power.