Takut gagal itu sering dibilang "mental block". Padahal buat banyak orang, itu perhitungan risiko yang masuk akal — karena ongkos gagal beneran nyata: waktu, uang, beban ke keluarga.
Yang privilege bukan yang gak takut gagal. Yang privilege itu yang punya bantalan buat gagal.
Ikhtiar tiap orang beda bentuknya. Ada yang bisa idealis nunggu jalur ideal, ada yang harus ambil jalan muter dulu karena harus dapur ngebul. Dua-duanya bukan soal siapa lebih niat atau lebih usaha itu soal siapa yang punya ruang buat gagal dan siapa yang enggak.
Jangan buru-buru nge-judge pilihan orang lain kalau kita gak tau beban yang dia tanggung.
I’m so tired of mindset that everything u post has to be "good for ur career." Dan kyknya banyaknya di indo aja, none of my foreign friends think like this. Their social media is just their life, while their career speaks for itself elsewhere… sosmed ya sosmed bkn CV-
@rouppme "Unorganized warlords" ambil kutipan referensi dari Mandalorian. Gk pakai senjata seperti kartel Meksiko, ada yang berinstitusi
Sebelum Republik Rakyat Tiongkok, banyak masalah dengan warlord oleh era Republik Kuomintang dan dinasti Qing.
Samurai warlord sebelum restorasi Meiji
Tau kan Michel Foucault? Dia punya konsep namanya Biopolitik, yaitu cara negara mengontrol kehidupan warganya sampai ke hal-hal paling biologis dan keseharian.
Kenapa nanya sabun dan beras? Lu pikir ini cuma itung-itungan omset?
Kalau negara tahu persis berapa biaya minimal elu pada untuk bertahan hidup (makan, sabun, kuota, baju Lebaran), negara jadi tahu berapa sisa uang yang ada di kantong elu.
Dengan tahu batas wajar pengeluaran elu, pemerintah bisa mengukur seberapa besar mereka bisa narik pajak atau retribusi tanpa bikin kita benar-benar mati kelaparan atau turun ke jalan buat demo.
Dan pemerintah ngeliat kita udah kayak objek yang sedang di jajah bjir wkwk
Pekerja lepas digital (gig economy) adalah rempah-rempah versi abad ke-21.
Pemerintah sadar ada perputaran uang triliunan rupiah di ekosistem TikTok, Shopee Affiliate, dan YouTube yang belum optimal ditarik pajaknya.
Makannya pengen ditarik 🥲🥲
Kebiasaan dari manual kali ya, tapi di matic emang bahaya banget. Bisa bikin rem panas terus, delay pas panic brake, atau malah blong suatu saat.
Green SM emang kudu dievaluasi ulang selection drivernya nih, nyawa yang dipertaruhkan loh.
Kalian pernah ketemu driver ginian juga ga?
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
emang culture dan sistem umur di indo bikin kita ngerasa hidup sambil kejar kejaran. kita dituntut harus achieve banyak hal di awal 20an, di tengah kondisi negara carut marut ga jelas.
btw gw gap year dan baru mulai kuliah di umur 22 tahun, di saat temen temen gw udah banyak yang wisuda dan nyusun skripsi. waktu itu sempet down, ngerasa ketinggalan jauh, apalagi ditambah omongan orang sekitar yang instead of kasih semangat malah pada bilang “ngapain sih baru mulai kuliah umur segitu.” tapi gw terobos aja,yang penting ortu ngedukung. dan sekarang gw udah di semester terakhir, tinggal nunggu yudisium. walaupun harus mengarungi ocehan pedes banyak orang. but i’m proud of myself bisa ngelewatin ini.
gw pengen banget, one day indo bisa kaya negara lain yang ga ngukur semuanya berdasarkan umur. cape rasanya, hidup di negara yang umur 25 tahun udah dianggep artefak gak butuh kerjaan ga butuh penghasilan
Lucu yaa, dari dulu sampai sekarang orang-orang selalu bilang "pasti bisaa, pasti keterima,percaya diri aja pasti keterima", padahal rasa percaya dirinya udah habis digerus ratusan lamaran yang selalu berakhir tanpa hasil.
Kenapa orang Jawa dicap "nrimo, sopan, penurut" sementara suku di luar Jawa (kayak Minang, Batak, Bugis) sering dicap "keras, pembangkang, licik, atau banyak bacot"?
Funfact ini doktrin politik yang dibangun sejak era penjajahan wkwk, dan terus kebawa sampai sekarang.
Pemerintah Hindia Belanda sengaja bikin klasifikasi karakter ini buat mecah belah masyarakat biar nggak bersatu a.k.a Devide et Impera.
Mereka butuh orang Jawa dikondisikan kalem supaya gampang dijadikan tenaga kerja murah dan birokrat rendahan yang nurut sama atasan.
Di sisi lain, suku-suku Sumatera yang punya tradisi merantau suka dagang dan jago lobi politik sengaja diawasi ketat dan dicitrakan negatif sebagai "tukang ngolah" atau "pembangkang" biar suku lain males berbaur sama mereka.
Jadi, stereotip itu hasil cuci otak ratusan tahun buat ngamanin aset penjajah. Dan bodohnya mayoritas kita masih memakai stereotip macam tu.
"Orang-orang Jawa cinta damai"
Who decided that!? 🤣🤣
Faktanya, rezim Orde Baru yang sangat Jawa-sentris justru ngebangun kekuasaannya lewat sistem premanisme dan kekerasan negara.
Mulai dari pembantaian 65-66 dilanjut Petrus sampai ormas-ormas yang dipakai buat ngegulung lawan politik nya 🐧
Inilah yang disebut “gaji berapapun akan selalu cukup,” krn kita akan selalu nemu cara untuk survive tapi efeknya apa? Hidup pas-pasan, gizi dan nutrisi terganggu, dan akhirnya gampang burnout.
Kalau ngeluh burnout, dibilang manja.
kampung logic
HP iphone = gengsi
post story mulu = alay
lama nikah = ga laku
nikah cepet = hamidun
post pencapaian = pamer
rambut pirang = nakal
jalan terus = foya-foya
outfit skena = kampungan
sering belanja online = sok kaya
keluar dresswell = diblg sok kota
keluar rumah terus = anak ga bener
mendep dirumah = kurang pergaulan
Suatu hari nanti, anak lo bakal bikin thread ttg bagaimana dia kekurangan figur ayah berdampak dalam hidupnya.
Sedangkan, anak Bos lu ngetwit: "YAAMPUN papi aku baik banget aku minta transfer 2jt langsung transfer 5jt😍😍😍 love you banget, Ayah terbaik di dunia❤️❤️❤️"
Peran, posisi, jabatan dalam pekerjaan jangan sampe bikin kita lupa bahwa kita manusia, being human.
Lihat sebagai spektrum, kalo orang terlalu attach pada peran pekerjaan, maka kayak mesin, robot. Sulit berempati, defensif, nggak bisa menerima saran.
@cloriavey sy teringat di KL sentral Malaysia (mngkn St Manggarainya kita), pagi2 nunggu kereta, rame hilir mudik para tuna netra berangkat kerja sendirian, sesuatu yg tdk prnah sy temui di Jkt. Di dlm stasiun juga ada jalan penuntun tuna netra.
Lagi antri kasir minimarket.
Tiba-tiba orang di belakang gue nepuk bahu.
"Mba, bisa minta tolong gak?
HP saya mati, boleh pinjem HP bentar buat telpon?"
Tanpa babibu gue jawab: "Wah kebetulan HP saya lagi lowbat juga mas, tapi itu loh di kasir ada telpon umum.
Telpon umum yang gue maksud:
mesin EDC yang jelas-jelas bukan telpon.
Dia langsung pergi..
Dan yang bikin gue makin yakin itu red flag? Dia antri di belakang gue. HP mati katanya. Tapi waktu jalan keluar tangannya megang HP yang nyala. Lah.
Buat yang sering keliatan "baik" dan gampang kasihan Waspada bukan berarti jahat. Waspada itu cara kita jaga diri sendiri di dunia yang makin pinter tipu-tipunya.
cc:threadgrethyano
@karirfess gw relate banget sama bagian "dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya." generasi orang tua kita stuck di playbook lama yang udah expired