Warga Malang, khususnya area Merjosari dan sekitarnya!
Lagi butuh bantuan untuk masangin stiker di kemasan sachet seperti di foto. Pekerjaan ini cocok banget buat ibu-ibu, mbak-mbak mahasiswa, atau mas-mas yang telaten dan butuh pemasukan tambahan.
Detail pekerjaan:
• Tugas: Pasang stiker pada kemasan sachet
• Lokasi: Merjosari, Kota Malang
• Fee: Rp 80.000 - Rp 100.000 per project
Kalau kamu tertarik dan merasa telaten, silakan langsung DM ya!
Bibir Pantai Wedi Awu, Malang. Pukul 17.50 WIB.
Angin pantai selatan bertiup konstan. Keras. Membawa uap air asin yang lengket di kulit wajah.
Aku berdiri diam di batas air. Sandal Adidas sebelah kanan sudah basah separuh, terendam buih ombak yang baru saja pecah. Aku tidak menarik kaki mundur.
Aku membiarkannya di sana. Dingin air laut merembes masuk ke dalam kaos kaki.
Mataku menyapu permukaan air.
Di bawah telapak kaki, airnya bening.
Pasir cokelat terlihat jelas.
Lima meter ke depan, warnanya berubah hijau toska.
Dua puluh meter lagi, biru tua.
Dan jauh di tengah sana... warna itu mati.
Biru gelap. Nyaris hitam.
Permukaannya tenang, tapi warnanya pekat. Seperti tinta tumpah yang menutupi sesuatu yang besar di bawahnya.
Aku menatap area hitam itu tanpa berkedip selama sepuluh detik penuh.
Jakun di leherku bergerak naik turun.
Menelan ludah yang terasa kering. Ada sensasi ngilu yang menjalar dari tengkuk ke punggung saat membayangkan seberapa dalam dasar laut di sana.
Langit di atas mulai kehilangan cahaya. Warna jingga habis, digantikan warna nila yang dingin. Semuanya membiru. Pasir, bukit karang, langit, laut.
Aku mengeratkan jaket. Resleting ditarik sampai ke leher.
Di tengah suara debur ombak yang monoton, sebuah proyeksi visual muncul di kepala. Potongan gambar berdurasi pendek.
Cut to: Sudut bibir kirinya yang naik lebih tinggi saat tersenyum.
Cut to: Suara tawanya. Renyah. Menggema sebentar lalu hilang ditelan suara angin.
Cut to: Sepasang mata cokelat yang menatap lurus. Diam. Mengunci fokus.
Bayangan itu hilang saat ombak besar menghantam karang di sisi timur. Blar.
Aku menarik napas panjang lewat hidung. Menahannya di dada selama tiga detik. Lalu menghembuskannya kasar lewat mulut.
Rasa di dada ini sama seperti laut di depan sana.
Di pinggir, masih bisa diinjak. Masih bisa dikontrol.
Tapi di tengah sana... terlalu dalam. Terlalu gelap untuk diselami.
Aku memejamkan mata sesaat. Menghilangkan sisa bayangan wajah itu.
Aku membuka mata. Berbalik badan membelakangi laut.
Langkah kakiku terasa berat di atas pasir basah saat berjalan menjauh, meninggalkan kedalaman yang mengerikan itu sendirian di belakang punggungku.
Satu per satu.
Bunyi langkah itu semakin pelan saat dia menjauh, meninggalkan ruang tengah yang kosong di belakang punggungnya. Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik pelan. Kunci diputar dari dalam.
Suara dengung kulkas terdengar lebih keras dari biasanya di ruangan itu.
Nara berdiri di depan wastafel. Keran air menyala setengah. Alirannya konstan membasahi piring porselen putih di tangannya. Dia menggosok permukaan piring itu dengan spons. Satu putaran. Dua kali. Tiga kali. Piring itu sudah bersih, tetapi tangannya tidak berhenti. Tekanan jari-jarinya pada spons semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Di meja makan di belakangnya, ada dua tatakan gelas.
Nara berjalan ke sakelar lampu di dinding dekat pintu keluar.
Satu tekanan jari.
Ruangan itu tenggelam dalam gelap.
Hanya ada cahaya lampu jalan yang remang masuk lewat celah ventilasi di atas jendela. Membentuk garis-garis samar di lantai. Nara berbalik membelakangi dapur yang kini gelap gulita itu.
Dia berjalan menuju lorong kamar tidur. Langkah kakinya terdengar berirama dan stabil di lantai kayu.
Ia menatap layar komputernya. Kursor berkedip di baris yang sama selama lima menit terakhir. Di sebelahnya, rekan kerjanya terus berbicara tentang liburan akhir pekan. Ia tidak menoleh. Dia hanya meraih gelas airnya, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi tak yang sedikit tertahan di atas meja kayu. Dia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya nyaris tanpa suara, lalu kembali menatap kursor yang berkedip.
Dalam kasus tertentu bisa memicu:
– Kejang
– Gangguan jantung
– Henti napas
– Kematian mendadak
Apalagi jika dipakai berulang atau di ruangan tertutup.