Diam-diam kau takluki gelap-hampa belantara kekasih Tuhan; Tempat di mana kau menangis namun tak berair, berbicara namun tak bersuara, menatap namun tak terlihat, berjalan namun tak melangkah. Duduk bersila di sana sampai tiba titik penghabisan.
Tertatih aku saat geliat membakar hutan buku dan bukit kalimat. Sesajen diskusi tidak mengobati juga. Apinya menyambar batin, asapnya menempel di langkah. Bayang-Mu melilin, maka teruslah Engkau meludah.
Menerus habis tubuh ketika menjelang. Ia terus iris-iris, ia terus nangis-nangis, hingga lewat waktu. Itu dia ruhani(mu), isyarat kita (kembali) menyatu.
Lembut katun dan keras baja, bertengger di bawah kelopak mata. Tangisanmu jalan menuju-Nya. Sesudah itu, berkemerlapan jutaan rahasia. Senyum itu utuh kembali.
Biji yang tertanam, air mata membasuhnya. Lintasan siang-malam dan cekik sunyi, memoles tekanan niat akad pengembara. Lantas tibalah matahari, menumbuhkan struktur hias tanaman yang baru.
Petapa liar, orang terakhir yang selamat di tengah malam. Hatinya kelaparan, pandangannya tertuju medan pertarungan. Lelompatan bunyi, isyarat kerincing kunci!
Merah darah bersama semburnya api. Simpan kembali nikmat perolehan itu, cukuplah bagi kami derita terperih. Tahta tertinggi di penghujung derajat, lintasannya dadamu.